Puisi

Tiga Puisi Roslan Jomel

Tiga sajak Roslan Jomel,Danial Membawa Gambar Jandanya ke KL, Hujan Ini Mengingatkan Betapa Payahnya Untuk Terus Berbohong dan Menunggu Hujan Panas di Bukit Mertajam

Dua Sajak Bukowski: Burungbiru dan Bila Puisi Berlalu

Amaluddin Zhafir menterjemah dua sajak Charles Bukowski yang bertajuk Bluebird dan As The Poems Go.

Sajak-sajak Murad Ata

Empat buah sajak: Syahwat, Temasya, Di Depanmu dan Monalisa Semalam Menyengkang, ditulis oleh Murad Ata.

Sajak: Charles Bukowski I

Siri pertama terjemahan sajak-sajak Charles Bukowski oleh Amaluddin Zhafir. Dua buah sajak yang diterjemah dalam siri ini bertajuk As The Sparrow dan Friends within The Darkness.

Sajak-sajak Wahyudi Yunus

Sajak-sajak Wahyudi Yunus. Rekwim Untuk Negeri, Tamadun, Merontokkan Waktu, Malam, Menempuh Amsal dan Penumpang Malam.

Sajak Mengenang Gus Dur

Dua buah sajak dari Joko Pinurbo, Durrahman dan Agus Noor, Lelucon Menjelang Kematian mengenang pemergian Gus Dur.

Sajak-sajak Marsli N.O

Marsli N.O
Tiga buah sajak, Pinjamkan Kami Telinga, Apakah Kau Sudah Mendengar dan Di Negeri Pemilu, oleh Marsli N.O.

Sajak-Sajak Yang Mimi Morticia

Yang Mimi Morticia
Kalau/ku bisa berhenti bercakap tentang/kalau,/maka engkau tak akan/pernah tahu/kalau aku punya kepak/malam itu…
Gambar: Sufian Abas

Tiga Sajak Shaira Amira

Shaira Amira
bapak-bapak sedang gocoh/dalam gelanggang/tentang keramaian,/bawah pohon/tentang keramaian/hadapan persemayaman Raja

"Katak-katak telah menghuni kepalaku..."

Mohd Jimadie Shah Othman
Tiba buah sajak bertajuk: Geluk, Tetes dan Pontianak, Isteri dengan Wajah Semurni Tanah.

Tiga Sajak Rilke

Bagaimanakah harus aku menahan jiwaku, supaya ia / tidak menyentuh jiwamu? Bagaimanakah harus aku / menjunjungnya melintasimu ke suatu yang lain?

Empat Sajak Hafiz Hamzah

Hafiz Hamzah
Berbondong-bondong/ syaitan kuning menerobos/ ke dalam/ kota gelap itu

Kanak dan Buku

Aill
Si anak montok/ yang belum erti mengilah/ duduk di kursi gereja/mata belelek, meliar keliling;/ tiada daya orang tua melayan,/ dalam sibuk menghajat Tuhan…

Di Hujung Jalan Mati

Ahmad Shamlou
Betapa anehnya zaman ini, sayangku!/ Mereka memotong senyum dari bibir,/ Dan nyanyian dari halkum!

Pari-pari

Ahmad Shamlou
Di suatu senja/ Tiga ekor pati-pari/ Duduk telanjang di bawah biru kubah langit

Previous page Next page