Sajak-sajak Murad Ata
Mei 30th, 2010 | Dipos oleh Murad Ata | Kategori: PuisiEmpat buah sajak: Syahwat, Temasya, Di Depanmu dan Monalisa Semalam Menyengkang, ditulis oleh Murad Ata.
Empat buah sajak: Syahwat, Temasya, Di Depanmu dan Monalisa Semalam Menyengkang, ditulis oleh Murad Ata.
Siri pertama terjemahan sajak-sajak Charles Bukowski oleh Amaluddin Zhafir. Dua buah sajak yang diterjemah dalam siri ini bertajuk As The Sparrow dan Friends within The Darkness.
Sajak-sajak Wahyudi Yunus. Rekwim Untuk Negeri, Tamadun, Merontokkan Waktu, Malam, Menempuh Amsal dan Penumpang Malam.
Dua buah sajak dari Joko Pinurbo, Durrahman dan Agus Noor, Lelucon Menjelang Kematian mengenang pemergian Gus Dur.
Marsli N.O
Tiga buah sajak, Pinjamkan Kami Telinga, Apakah Kau Sudah Mendengar dan Di Negeri Pemilu, oleh Marsli N.O.
Yang Mimi Morticia
Kalau/ku bisa berhenti bercakap tentang/kalau,/maka engkau tak akan/pernah tahu/kalau aku punya kepak/malam itu…
Gambar: Sufian Abas
Shaira Amira
bapak-bapak sedang gocoh/dalam gelanggang/tentang keramaian,/bawah pohon/tentang keramaian/hadapan persemayaman Raja
Mohd Jimadie Shah Othman
Tiba buah sajak bertajuk: Geluk, Tetes dan Pontianak, Isteri dengan Wajah Semurni Tanah.
Bagaimanakah harus aku menahan jiwaku, supaya ia / tidak menyentuh jiwamu? Bagaimanakah harus aku / menjunjungnya melintasimu ke suatu yang lain?
Hafiz Hamzah
Berbondong-bondong/ syaitan kuning menerobos/ ke dalam/ kota gelap itu