Entri oleh pengarang ini

Mekah

Nov 30th, 2012 | Dipos oleh | Kategori: Esei

Betapa berubahnya Mekah. Duduk di salah satu sudut Masjidil Haram ketika matahari meredakan panasnya, kita bisa merasakan bayang-bayang sebuah bangunan yang menjangkau langit dari arah selatan.



Teeuw (1921-2012)

Mei 30th, 2012 | Dipos oleh | Kategori: Esei

Sebuah obituari atas pemergian seorang peneliti dan pengkritik sastera Indonesia, A. Teeuw.



Hang Tuah

Mei 7th, 2012 | Dipos oleh | Kategori: Esei

Zaman berubah lagi. Hang Tuah datang kembali, tapi tak merasa ditaklukkan dan menaklukkan dunia.



Belajar dari Pantun

Apr 24th, 2012 | Dipos oleh | Kategori: Esei

Pidato Mas Goen untuk Hari Jadi Sastrawan Negara dan Profesor Emeritus Muhammad Haji Salleh di Pulau Pinang.



Lompatan

Feb 8th, 2012 | Dipos oleh | Kategori: Esei

Kaum revolusioner sering menganggap waktu sebagai musuh. Juga di negeri yang ribuan tahun umurnya: Cina.



Havel

Dis 19th, 2011 | Dipos oleh | Kategori: Esei

Dalam surat itu Havel mengingatkan, bahwa pada akhirnya rakyat yang tertekan akan menuntut harga bagi “tindakan yang secara permanen merendahkan martabat manusia”.



Daging

Sep 3rd, 2010 | Dipos oleh | Kategori: Esei

Barangkali berpuasa telah berubah: menahan haus dan lapar tidak lagi ditandai tekad melawan godaan, tapi sikap ketakutan akan godaan.



Potret Penyair Muda sebagai Si Malin Kundang

Jul 12th, 2010 | Dipos oleh | Kategori: Esei

Esei terkenal Goenawan Mohamad yang membicarakan pandangan dunianya sebagai seorang penyair.



Diri

Apr 21st, 2010 | Dipos oleh | Kategori: Esei

Goenawan Mohamad
Berada di Singapura (atau Malaysia) saya sering sekali menemui percakapan macam itu: orang akan secara tersirat atau tersurat menyebut seseorang dan mengaitkannya dengan ”bangsa Cina” atau ”bangsa Melayu” atau ”bangsa” apa saja dengan suatu sifat yang mereka anggap khas pada ”bangsa” itu.