Pilihan
oleh admin
16 Mac, 2009, 11:21 pm | kategori Esei | CetakDi simpang jalan itu seorang pematung ulung terpesona pada pohon nangka besar berdaun rimbun. Berdiri kukuh di pinggir jalan, betapapun anggun, pohon itu kerap luput dari perhatian orang-orang yang lalu-lalang. “Bagus sekali batangnya,” pikir Si Pematung. “Jika kujadikan patung, orang tak hanya memperhatikan tapi juga bisa memanfaatkannya sebagai tanda.”
Si Pematung pun bekerja. Ia potong seluruh cabang dan ranting, ia sisakan bagian pokoknya setinggi orang dewasa. Lalu ia pahat pokok itu sampai tercipta sebentuk tubuh perempuan telanjang. Molek. “Siapa pun yang lewat tak akan menyia-nyiakan lagi keindahan ini,” kata Si Pematung sembari beranjak pergi.
Benar, hampir semua orang yang datang dari ketiga arah menyempatkan diri berhenti sejenak untuk memandang kagum patung kayu itu. Tak terkecuali seorang pelukis yang sedang mencari pemandangan indah untuk ia pindahkan ke atas kanvas. “Halus sekali patung ini,” pikirnya, “sayang, orang masih melihatnya sebagai kayu.” Pelukis itu lantas menyaput seluruh permukaan kayu dengan warna kuning langsat dan menambahkan cat yang sesuai pada beberapa bagian tubuh. “Kini ia lebih menyerupai manusia,” gumamnya sebelum melanjutkan perjalanan.
Beberapa orang sampai terkecoh. Mereka kaget, kok ada perempuan telanjang di pinggir simpang jalan. Itu melanggar norma susila. Setelah dilihat lebih seksama, mereka sadar itu bukan manusia. Tapi, “Mirip sekali,” puji mereka. Seorang pengrajin kain batik, satu dari yang terkecoh itu, lantas membebatkan kemben pada dada dan membalutkan jarik dari pinggang sampai ke betisnya. Patung itu justeru kian tampak sebagai perempuan sewajarnya. Makin cantik. Makin dikagumi oleh siapa saja yang melihatnya.
Konon, pada suatu malam purnama, ada Dewa dari Kayangan sedang terbang rendah di wilayah itu. Ia pun terperanjat menyaksikan perempuan cantik berdiri seorang diri di malam sunyi. Dengan dada berdebar ia mendekat dan, “Ah, sialan, tertipu aku!” fikirnya, jika ia bisa terkelabuhi, tentu banyak manusia dungu yang menganggap patung itu sebagai perempuan sungguhan. “Kasihan, patung ini tak bersalah, tapi orang yang terkecoh akan memaki, meski akhirnya memuji.” Lantas muncul gagasan isengnya. Tepat pada tengah malam, ia tiupkan ruh ke tubuh kayu itu.
Esoknya, gegarlah seluruh desa. Orang ramai membicarakan seorang perempuan tak dikenal yang duduk bersimpuh dan tersedu di pinggir simpang jalan. Khabarnya beberapa orang telah bertanya: siapa namanya, dari mana asalnya; namun semua pertanyaan hanya ditanggapi dengan gelengan dan sedu-sedan. Warta tentang perempuan cantik tapi aneh itu pun segera menjalar sampai ke mana-mana. Sampai pula ke telinga Si pematung, Si Pelukis, dan Si Pembatik.
Kerana penasaran ketiga seniman itu pun datang ke simpang jalan itu, menyeruak di antara kerumunan orang. Begitu melihat perempuan di hadapannya, Si Pematung berkata, “Ia jelmaan patung yang semula berdiri di sini.” Tak sulit meyakinkan massa, sebab faktanya: patung yang dulu mereka kagumi kini tak ada, lalu mendadak ada perempuan asing yang tak tahu nama dan asal-usulnya. Mereka yang pernah melihat patung di tempat itu menyatakan persetujuan. “Benar, paras dan pakaiannya mirip dengan patung yang dulu.”
Orang-orang pun bertanya: siapa yang berhak mengambil perempuan molek itu sebagai keluarga? “Si Pematunglah yang berhak, karena ia yang mengubah batang nangka menjadi patung perempuan.” Di depan khalayak Si Pematung mengumumkan niatnya, akan menjadikan perempuan itu sebagai isteri dan berjanji akan setia sampai mati.
Tapi terdengar suara lain, “Mestinya yang lebih berhak adalah Si Pelukis, kerana dialah yang menjadikan patung itu benar-benar mirip manusia.” Penuh semangat Si Pelukis pun berjanji akan menikahinya dan menjamin kesejahteraan hidupnya.
Segera terujar pendapat yang berbeza, “Memang benar Si Pematung dan Si Pelukis menjadikan pokok nangka itu mirip manusia, tapi mereka membiarkannya telanjang. Maka yang paling layak jadi suami perempuan itu adalah Si Pembatik, karena dialah yang menjaga kehormatannya.” Merasa mendapat angin, Si Pembatik tak menyiakan kesempatan. “Sebelum kuberi kain batik, ia hanya patung manusia tak beradab,” katanya. Ia berjanji akan menjadikan perempuan itu istri solehah yang berbahagia dunia-akhirat.
Ada juga pendapat bahwa yang paling berhak adalah Dewa yang memberinya nyawa. Ketiga seniman itu dinilai telah meninggalkan karya mereka, sampai Sang Dewa menghidupkannya. Tapi pendapat ini tak mendapat dukungan, sebab Dewa hanya patut disembah dan mustahil menikah dengan manusia. Akhirnya, orang-orang sepakat bertanya kepada si perempuan, memberinya kebebasan untuk menentukan pilihan.
Versi asli cerita ini, bahagian dari Serat Anglingdarma , tak menyatakan siapa akhirnya yang dipilih perempuan itu. Mungkin, maksudnya, kitalah yang harus merenungkan: “mengapa seseorang harus memilih” dan “siapa serta apa yang telah mereka lakukan” sehingga layak dipilih.
Sebelumnya, sebagai pohon nangka di pinggir simpang jalan, ia hidup subur dan tenang. Kini, sebagai manusia, yang tak mungkin hidup sendiri—terpisah dari manusia lain—ia berada dalam situasi harus memilih. Orang-orang yang ingin dipilih itu telah lebih dulu mengubah jati dirinya, membentuk dan mematut fisiknya, dan hendak mengarahkan kesedarannya; sesuai dengan kepentingan mereka masing-masing.
Tindakan memilih hanya baik dilakukan jika si subjek “menjadi diri sendiri” dan bebas menentukan pilihan. Artinya ia memang perlu sesuatu dan yang dipilih mesti sesuai dengan keperluan itu. Penonjolan sederet predikat dan hamburan janji tentang masa depan jelas bukan bahan “objektif” yang patut dijadikan timbangan pemilihan.
Saya bayangkan perempuan itu akhirnya “memilih tidak memilih”. Ia hanya tersedu mengenang masa lalu, masa ketika ia hidup tenteram sebagai pohon nangka yang berdiri anggun dengan dedaun rimbun.
Sitok Srengenge menulis puisi, prosa, esai, dan kritik pertunjukan. Bukunya yang telah terbit, antara lain antologi puisi Persetubuhan Liar, Kelenjar Bekisar Jantan, Anak Jadah, Nonsens, On Nothing, dan novel Menggarami Burung Terbang. Sitok masih tercatat sebagai Direktur Utan Kayu International Literary Biennale. Di Komunitas Salihara Sitok menjadi Kurator Teater dan Manajer Galeri. Ia juga pendiri dan pengelola Penerbit KataKita.
Similar Posts:
- Pilihan Raya dan Maknanya Amin Ahmad
- Satu Bangsa Bukan Pilihan* Hasmi bin Hashim
- Empat Sajak Hafiz Hamzah admin
- Menentang Dunia, Menentang Kehidupan Amaluddin Zhafir
- Mahu Jadi Hektor Hasmi bin Hashim
- Kes Pemerkosaan Qatif: Sebuah Katalis bagi Perubahan? admin
