Tiga Sajak Rilke
oleh admin
30 Januari, 2009, 08:42 am | kategori Puisi | CetakEingang
Wer du auch seist: am Abend tritt hinaus
aus deiner Stube, drin du alles weißt;
als letztes vor der Ferne liegt dein Haus:
Wer du auch seist.
Mit deinen Augen, welche müde kaum
vom der verbrauchten Schwelle sich befrein,
hebst du ganz langsam einen schwarzen Baum
und stellst ihn vor den Himmel: schlank, allein.
Und hast die Welt gemacht. Und sie ist groß
und wie ein Wort, das noch im Schweigen reift,
und wie dein Wille ihren Sinn begreift,
lassen sie deine Augen zärtlich los . . .
Halaman
Biar siapa pun kau: keluar pada senjakala
dari kamarmu, di mana segala dikenalmu;
rumahmu yang terakhir sebelum belantara:
Biar siapa pun kau.
Dengan matamu, lesu, yang jarang
membebaskan diri dari ambang pintu yang reput,
perlahan-lahan kau mengangkat sebatang pohon hitam
lalu mendirikannya menghadap langit: lampai, sepi.
Dan telah kau mencipta dunia. Dan ia luas,
bagaikan sepatah kata yang bertambah matang dalam kesunyian.
Dan ketika semangatmu menggenggam maksudnya
Lembut, dari matamu, ia terlepas.
————————————————–
Liebeslied
Wie soll ich meine Seele halten, dass
sie nicht an deine rührt? Wie sll ich sie
hinheben über dich zu andern Dingen?
Ach gerne moecht ich sie bei irgendwas
Verlorenem im Dunkel unterbringen
an einer fremden stillen Stelle, die
nicht weiterschwingt, wenn deine Tiefe schwingen.
Doch alles, was uns anrürht, dich und mich,
nimmt uns zusammen wie ein Bogen strich,
der aus zwei Saiten eine Stimme zieht.
Auf welches Instrument sind wir gespannt?
Und welcher Geiger hat uns in der Hand?
O süßes Lied.
Lagu Cinta
Bagaimanakah harus aku menahan jiwaku, supaya ia
tidak menyentuh jiwamu? Bagaimanakah harus aku
menjunjungnya melintasimu ke suatu yang lain?
Ah, ingin aku meletaknya di sisi sesuatu
yang lenyap dalam kelam
di suatu tempat asing, sunyi yang
tidak bergementar ketika kedalamanmu berayun.
Namun segala yang menyentuh kita, kau dan aku,
mendesak kita bersama bagaikan gesekan
yang mengimbau satu suara dari dua tali.
Pada alat musik apakah kita teregang?
Oleh pemain biola manakah kita tergenggam?
O lagu merdu.
—————————————————————–
Das ist die Sehnsucht . . .
Das ist die Sehnsucht: wohnen im Gewoge
und keine Heimat haben in der Zeit.
Und das sind Wünsche: leise Dialoge
Täglicher Stunden mit der Ewigkeit.
Und das ist Leben: Bis aus einem Gestern
die einsamste von allen Stunden steigt,
die, anders lächelnd als die andern Schwestern,
dem Ewigen entgegenschweigt.
Inilah keinginan . . .
Inilah keinginan: hidup dalam kemuliaan
dan tidak bermastautin dalam waktu.
Dan inilah idaman: perbualan diam
harian dengan keabadian.
Dan inilah kehidupan: dari suatu kelmarin
muncul jam yang paling sunyi,
yang, lain tersenyum dari adik-adiknya,
diam menghampiri yang abadi.
——————————
Pauline Fan ialah seorang penterjemah. Antara karya terjemahannya dari Bahasa Jerman ke dalam Bahasa Melayu termasuk Liebesgedichte oleh Bertolt Brecht (Dendang Cinta, Kala Translation Series, 2006) dan Was ist Aufklärung? oleh Immanuel Kant (Apa itu Pencerahan?, Institut Kajian Dasar, 2006). Dia telah juga memperalihkan hasil tulisan seniman Malaysia, Ismail Zain ke dalam Bahasa Inggeris untuk Intermediations: Selected Writings on Art and Aesthetics (Balai Seni Lukis Negara, 2007). Sejak 2002, dia berkhidmat dengan pertubuhan warisan budaya PUSAKA.
Similar Posts:
- Tiga Sajak Shaira Amira Shaira Amira
- Sajak-Sajak Yang Mimi Morticia Yang Mimi Morticia
- Sajak-sajak Marsli N.O Marsli N.O
- Sajak-sajak Charles Bukowski II Charles Bukowski
- Sajak-sajak Wahyudi Yunus Wahyudi Yunus
- Sajak-sajak Murad Ata Murad Ata
