Wacana tentang Islam Nusantara di lingkungan NU (Nahdlatul Ulama) dan masyarakat Indonesia secara umum seperti agak meredup belakangan ini. Wacana ini seperti tergilas oleh isu hoax dan Aksi Bela Islam. Namun gairah yang sebaliknya justru muncul dari para pengamat asing.

Setidaknya ada sejumlah sarjana luar negeri yang saat ini mengkaji atau menulis tentang Islam Nusantara. Di antaranya adalah Greg Fealy (Australia), Stefan Franz (Belanda), Vinay Kumar Pathak (Singapura), Alex Arifianto (Singapura), Mohamed Imran Mohamed Taib (Singapura), dan Ermin Sinanovic (Amerika Serikat).

Dalam market akademik, sepertinya brand Islam Nusantara lebih menarik daripada Islam Berkemajuan yang diusung Muhammadiyah. Setidaknya baru Syed Khairudin Aljunied (Singapura) yang secara khusus mendalami karakter Islam Berkemajuan atau Islam Kosmopolitan sebagaimana tertulis dalam bukunya Muslim Cosmopolitanism: Southeast Asian Islam in Comparative Perspective (Edinburgh University Press, 2016).

Memang, buku ini tidak secara khusus membahas Muhammadiyah. Ia lebih membahas watak kosmopolitan dari Islam di Asia Tenggara yang bisa dipelajari atau bahkan diadopsi umat Islam di negara lain.

Berkaitan dengan Islam Nusantara, ulasan yang dilakukan pengamat asing dan aktivis NU lebih banyak berputar seputar definisi, latar belakang kemunculan, karakter, objek garapan, manhaj (metodologi), dan implementasinya dalam konteks keislaman, keindonesiaan, dan dunia yang global.

Satu hal yang perlu mendapat elaborasi lebih dan menjadi fokus dari tulisan ini adalah genealogi dari Islam Nusantara itu sendiri dan peran Gus Dur terhadap lahirnya identitas ini. Secara genealogi, terdapat tiga tahapan penting dari pembentukan Islam Nusantara setelah kemerdekaan.

Tahap pertama adalah apa yang terjadi tahun 1950 dan 1960-an ketika para sarjana asing melihat Islam di Indonesia sebagai distinctive Islam atau Islam yang beda (dari Timur Tengah atau tempat lain). Namun distingsi di sini lebih banyak mengacu pada makna negatif, yaitu superficial Islam dan peripheral Islam (Islam pinggiran).

Islam di Indonesia dianggap sebagai pinggiran tidak hanya karena secara geografis Indonesia terletak di pinggiran dunia Islam, tapi juga dari segi substansi dan kualitas umat Islam Indonesia itu dianggap belum memeluk Islam secara sempurna. Keislaman mereka hanyalah superfisial. Islam hanya menjadi lapisan tipis dari keyakinan keagamaan yang merupakan gabungan dari animisme, dinamisme, Hindu, dan Buddha.

Pendeknya, orang Islam Indonesia ketika itu dianggap hanya memeluk corrupted Islam atau Islam yang telah tercemar atau Islam yang tidak murni atau Islam yang tak sempurna. Inilah pemahaman beberapa pengamat asing tentang Islam Nusantara pada tahun-tahun awal Indonesia.

Tahap kedua adalah formation of identity atau pembentukan identitas Islam Nusantara. Ini terjadi tahun 1980 dan 1990-an dengan Gus Dur (Abdurrahman Wahid) sebagai tokoh yang paling penting. Pribumisasi Islam yang ditawarkan Gus Dur adalah pembalikan terhadap berbagai stigma negatif yang dialamatkan kepada Islam di Indonesia atau Islam Nusantara.

Gus Dur membangunkan keyakinan diri umat Islam Indonesia bahwa keyakinan keagamaan mereka yang sebelumnya dianggap sebagai heterodoks (menyimpang) itu sebetulnya tidak kalah ortodoksnya dengan Islam yang ada di pusat Islam di Mekkah dan Madinah. Bahwa Islam di Indonesia itu sama otentiknya dengan Islam di Arab Saudi atau negara lain.

Jika sebelumnya terdapat anggapan bahwa keramahan orang Indonesia itu karena mereka memeluk corrupted Islam, dengan pribumisasi Gus Dur ingin menunjukkan bahwa keramahan itu muncul karena mereka memeluk Islam yang otentik. Gus Dur menunjukkan bahwa Islam Indonesia yang damai, merayakan pluralitas, selaras dengan demokrasi, dan sesuai dengan HAM (hak asasi manusia) itu bukan berangkat dari keislaman yang sinkretik, tetapi itulah esensi dari Islam.

Singkatnya Gus Dur membangun sebuah identitas Islam Indonesia yang berbeda dari pengamatan orang asing semisal Clifford Geertz, LM Penders, dan Snouck Hurgronje. Tahun 1980-an juga menjadi tahun awal dari kebangkitan kaum nahdliyin dan lebih percaya diri dengan model keislamannya.

Tahap ketiga adalah yang terjadi belakangan ini, terutama pasca-Muktamar NU 2015 di Jombang. Memang istilah Islam Nusantara sudah dipakai Jurnal Tashwirul Afkar pada edisi nomor 26 tahun 2008. Istilah itu juga sudah dipakai oleh Azyumardi Azra dalam bukunya Islam Nusantara: Jaringan Global dan Lokal (2002) yang merupakan terjemahan dari buku Historical Islam: Indonesian Islam in Global and Local Perspective.

Meski demikian istilah Islam Nusantara yang dipakai NU saat ini memiliki makna khusus yang berbeda dari pemakaian sebelumnya. Nusantara di situ tidak hanya mengacu pada tempat, tapi juga keberagamaan tertentu. Menurut pengamatan saya, Islam Nusantara bahkan dipahami lebih dari sekadar identitas sebagaimana yang terjadi pada masa Gus Dur, tapi ini menunjukkan sebuah exceptionalism.

Islam Nusantara adalah sebuah kekhasan atau keunikan yang tidak bisa ditemukan di tempat lain. Ini bukan hanya karakter ataupun manhaj, tapi sebuah spirit dan penggerak dari sebuah perubahan.

Spirit ini mungkin bisa disandingkan dengan American exceptionalism yang sebanyak apa pun kritik terhadapnya, orang Amerika banyak yang tetap meyakini bahwa mereka dan negara mereka adalah exceptional. Inilah yang terjadi pada Islam Nusantara versi NU. Ini yang dirasakan secara luas oleh orang NU. Makanya banyak orang yang kemudian cemburu dan ingin tahu tentang identitas ini.

Persoalannya sekarang adalah apakah keislaman yang exceptional ini mampu berhadapan dengan gelombang konservatisme yang sedang terjadi di Indonesia? Apakah NU bisa terus meng-uri-uri keunikannya dan menampilkannya sebagai identitas di tengah kompetisi dengan berbagai gerakan Islam trans-nasional atau tarikan untuk bersikap sektarian seperti yang terjadi di Sampang, Madura?

Harapannya adalah keyakinan diri yang tinggi itu terus tumbuh dan Islam Nusantara bisa menghadapi wabah populisme yang menggejala di dunia.

Ahmad Najib Burhani, Peneliti Senior di Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI).

Tulisan ini terlebih dahulu terbit di Sindonews.