Aku Lihat Hantuku Datang dari Jauh…

Seperti balkoni sebuah rumah, aku tatapi apa saja aku inginkan
Aku mengintai teman-temanku,
yang mengendong surat khabar petang: membawa anggur dan roti,
Dan beberapa novel dan gulungan kertas…

Aku tatapi bangau laut, dan juga trak-trak tentera
Mengubah pohon-pohon di tempat ini

Aku menatap pula anjing yang berhijrah
Dari Kanada, sejak setahun setengah yang lalu…

Aku tatapi nama Abu Tayyib El-Mutanabbi
Seorang musafir dari Tabariyya yang menuju ke Mesir
Mengenderai seekor kuda yang berlagu

Aku tatapi mawar Farsi yang sedang kembang
Di atas pagar besi

Aku tatapi siapa saja yang aku inginkan

Aku tatapi pohon yang melindung malam daripada dirinya
Melindungi tidur mereka yang menyukai aku mati…

Aku lihat angin yang mencari tanahairnya
Pada dirinya sendiri…

Aku lempar pandangan kepada seorang wanita yang berpanas di tengah kontang haba…

Aku tatapi perarakan nabi-nabi purba
Mereka mendaki Jerusalam tanpa sepatu
Dan aku bertanya: Apa masih ada lagikah utusan
di zaman yang baru ini?

Aku tatapi, seperti balkoni sebuah rumah, siapa saja yang aku inginkan

*

Aku tatapi gambarku yang sedang keluar dari dirinya
Menuju ke tangga batu, membawa sapu tangan ibuku
Yang tidak larat lagi disapa angin: apa yang akan jadi jika aku kembali menjadi kanak-kanak? Dan aku kembali kepadamu… dan kamu oh ibu kembali padaku

Aku tatapi akar zaitun yang menyembunyikan Zakaria
Aku teliti kalimat-kalimat yang telah pupus di ‘Lisanul Arab’

Aku tatapi orang-orang Parsi, Rom, dan Sumeria
Dan semua pelarian baru…

Aku tatapi rantai leher salah seorang perempuan Tagore yang miskin
Digiling kenderaan putera yang tampan

Aku tatapi Hud hud yang setia pada omelan sang raja
Aku teliti apa yang luar dari biasa:

Apa yang akan terjadi… apa yang akan jadi selepas abu kelabu?

Aku lihat jasadku ketakutan dari kejauhan
Seperti balkoni sebuah rumah, aku tatapi siapa saja yang aku inginkan

*

Selepas dua hari aku melihat bahasaku
Kehilangannya sebentar sudah cukup
untuk Aeschylus membuka pintu kedamaiaan,
Sebuah ucapan pendek sudah cukup untuk Antonius memulakan perang,

Ku genggam tangan seorang wanita
Dan aku mendapat kebebasanku
Maka bermula pasang surut baru dalam tubuhku

Seperti balkoni sebuah rumah, aku tatapi siapa saja yang aku inginkan

Aku melihat hantuku
Datang
Dari
jauh…

I.
Ikon-ikon Kristal

Awan Mendung di Tanganku

Mereka mempelana kuda-kuda itu,
Mereka tidak tahu mengapa,
Akan tetapi mereka mempelana kuda-kuda di padang itu juga

…Tempat itu telah siap-sedia demi kelahirannya: sebuah bukit
Dari dua angin moyang-moyangnya dari timur dan barat.
Dan sepohon rimbun zaitun
Di sebelah pohon zaitun pada mushaf-mushaf yang meninggikan dataran bahasa..
dan asap dari lapis langit biru yang mempersiapkan siang ini dengan pertanyaan
Yang menjadi khusus urusan Tuhan,
Mac adalan anak yang paling manja…
Salju Mac seperti kapas di pohonan badam.
Mengikat tali pelana di laman gereja.
Mac adalah satu bumi malam yang menelan,
bagi wanita yang sedia menangis di hutan sunyi
Suaranya sampai ke rendang pohon oak.

*

Bayi itu telah lahir,
Dan tangisannya,
memecahkan suasana

*

Kita dipisahkan di atas tingkat-tingkat rumah. Mereka berkata:
“Di dalam tangisku ada waspada yang bisa menangkis sakit remeh pepohonan,”
Pada tangisku ada hujan, apakah aku telah sakiti saudara-saudaraku,
Apabila aku berkata aku melihat Malaikat bermain dengan serigala di halaman rumah?
Aku tidak ingat lagi nama mereka.
Dan aku juga tidak ingat lagi cara mereka berkata-kata…
Dan betapa sepoinya angin menerbangkan mereka

Teman-temanku berkerdipan pada malamnya,
dan tiada kesan yang ditinggal mereka itu
Apakah aku perlu memberitahu ibuku hakikat ini:
Aku mempunyai adik-beradik yang lain
Adik-beradik yang meletakkan sekujur bulan di balkoniku
Yang menganyam kain bunga seri pagi dengan jarum mereka

*

Mereka mempelana kuda-kuda itu,
Tidak tahu kenapa,
Akan tetapi mereka telah mempelana kuda-kuda itu di hujung malam

*

…Tujuh tangkai gandum ranum cukup untuk hidangan musim panas nanti.
Tujuh tangkai gandum berada di hadapanku.
Pada setiap tangkai akan tumbuh beberapa ladang,
Setiap satu dari gandum.

Bapaku mengambil air dari telaganya dan berkata pada telaga itu:
“Jangan kau kontang”
Dan dia menarik tanganku, membawaku
Dan aku melihat bagaimana aku tumbuh seperti portulaka…
berjalan di gigi telaga
“Aku punya dua buah bulan, satu di pundakku
Dan satu lagi di dalam air sedang berenang…
Aku punya dua buah bulan”

*

Seperti pendahulu mereka, mereka percayakan undang-undang…
Yang menukang besi pedang menjadi mata bajak
‘Pedang itu tidak akan mampu menjahit kembali musim panas yang telah rosak’- mereka kata. Dan mereka berdoa panjang dan menyanyikan puji-pujian kepada alam…
Akan tetapi mereka telah mempelana kuda-kuda itu
Agar mereka dapat menari mengikut rentak tarian kuda-kuda mereka.
dalam kegelapan malam

Awan mendung di tanganku melukakan diriku:
Aku tidak mahu apa-apa daripada bumi melainkan daripada bumi ini:
‘Bau buah pelaga dan jerami antara ayahku dan kuda’
Di tanganku ada awan mendung melukakan.
Akan tetapi aku
Aku tidak mahu apa-apa dari matahari ini melainkan sebiji limau dan
tidak lebih dari itu
Emas mengalir dari lafaz kalimat-kalimat azan

*

Mereka mempelana kuda-kuda itu,
Mereka tidak tahu kenapa,
Tetapi mereka telah mempelana kuda-kuda itu,
Dan mereka menunggu
Untuk hantu itu muncul dari retak-retak tempat itu…

Mahmoud Darwish, dianggap sebagai penyair kebangsaan Palestin. Beliau telah menerbitkan lebih 30 buah buku puisi dan 8 buku puisi. Pada tahun 1965, ketika masih muda beliau membacakan puisinya “Bitaqat Huwiyya”, Kad Pengenalan, yang kemudian tersebar di seluruh dunia Arab dan dijadikan lagu perjuangan. Mahmoud Darwish meninggal dunia pada tahun 2008 di Houston, Amerika Syarikat selepas menjalani pembedahan jantung. Jenazahnya dikebumikan di tanah Palestin seperti mana yang diwasiatkan. Presiden Menteri Palestin mengisytiharkan tiga hari berkabung.

Sajak-sajak ini diterjemah daripada bahasa Arab oleh Zahid M. Naser, yang baru sahaja menerbitkan kumpulan puisi beliau, Berehat di Sisi Paus .