Prof. Dr Bennedict Rog Anderson, atau yang lebih kita kenal dengan nama Ben Anderson, merupakan seorang professor ilmu politik di Cornell University, juga merupakan pakar pengamat bidang sosial politik Indonesia. Ahli Indonesia (istilah akademisnya: Indonesianis) yang karya-karyanya menjadi bacaan wajib bagi para peneliti Indonesia. Pengaruh Ben Anderson sebanding dengan George Mc Turnan Kahin, Clifford Geertz, Herbert Feith, Lance Castle, Bernard Dahm, Denys Lombard, James T Siegel, Dwight Y King, Daniel S Lev, dan R William Liddle. Ini semua menunjukkan betapa signifikan kedudukannya sebagai pembentuk wacana.

Ben Anderson, mengingat pendekatan empatinya, dikenal sebagai ahli yang banyak menyoroti sisi subtil kebudayaan Jawa dalam praksis politik Indonesia modern. Indonesianis Cornell University AS, yang puluhan tahun dicekal oleh penguasa Orde Baru kerana menulis Cornell Paper ini adalah ilmuwan (pekerja keras) yang tekun. Tak heran bila karya akademiknya bermutu tinggi. Beberapa karyanya, mengenai kecenderungan politik Indonesia sejak Orde Lama hingga Orde Baru, yang mengantarkannya mencapai status klasik sebagai Indonesianis, antara lain A Preliminary Analysis of the October 1, 1965, Coup in Indonesia (1971), Java in the Time of Revolutions (1972), Imagined Communities: Reflections on the Origin and Spread of Nationalism (1983), Language and Power: Exploring Political Cultures in Indonesia (1990), dan The Spectre of Comparisons: Nationalism, Southeast Asia, and the World (1998).

Ben Anderson pulalah yang berhasil menemukan identitas penulis asli buku “Tjamboek Berdoeri Indonesia Dalem Api dan Bara”, setelah melakukan penelitian hampir sepanjang 40 tahun. Buku ini menceritakan pengalaman penulisnya, alm. Kwee Thian Tjing, semasa tiga zaman: akhir kekuasaan Hindia Belanda, penjajahan Jepang dan dua tahun gejolak revolusi kemerdekaan Indonesia. Juga atas prakarsa Ben, maka buku karya salah satu perintis penulis Tionghoa ini dicetak ulang dengan Kata Pengantar dari Ben sendiri setebal 79 halaman.

Language and Power: Exploring Political Cultures in Indonesia merupakan kumpulan esai Ben Anderson sepanjang tahun 1966-1985. Edisi Indonesia buku ini dipublikasikan oleh penerbit Mata Bangsa dengan judul Kuasa-Kata: Jelajah Budaya-budaya Politik di Indonesia (2000), terdiri dari delapan bab dan dirinci dalam tiga bagian. Tiga bab bagian pertama mendiskusikan isu-isu kekuasaan Jawa. Tiga bab bagian kedua mengelaborasi hubungan politik dengan bahasa Indonesia. Dua bab bagian akhir mengulas sejarah mentalitas cendekiawan Jawa akhir abad ke-18 hingga dasa warsa pertama abad ke-20.

Menurut Ben Anderson, bahasa Indonesia telah kehilangan etos kerakyatan alias menjadi sangat elitis. Bahasa kebangsaan ini terperosok dalam imaji priayi Jawa tentang politik yang bergelimang aling-aling, ethok-ethok, dan topeng. Bahasa Indonesia mengalami kramanisasi-penekanan terpadu pada prinsip kehalusan. Bahasa dipakai tidak langsung ke masalah, dan, ditopang praktik yang menghargai ketidakterusterangan. Itulah tesisnya pada bab IV buku ini Bahasa-bahasa Politik Indonesia (The Language of Indonesia Politics) dan bab V Kartun dan Monumen Evolusi Komunikasi Politik di Bawah Orde Baru (Cartoons and Monuments: The Evolution of Political Communication Under the New Order).

Tesis Ben Anderson, sebagaimana buah pemikirannya yang lain, mempunyai bobot argumen yang kukuh. Harus diakui, dalam bahasa Indonesia memang terdapat perbendaharaan kata yang halus dan berderajat tinggi. Misalnya tunawisma, pariwisata, swasembada, saptamarga, masa bakti, purna tugas, dan sebagainya.

Masalahnya adalah, sankritisasi, penghalusan, dan kecenderungan bahasa topeng, yang merambah bahasa Indonesia, cukup memadai buat menyimpulkan bahasa nasional itu mengalami kramanisasi? Benarkah anggapan bahawa Indonesia semakin menjadi kerangka dengan daging yang semakin Jawa? Pengkajian seksama atas perkembangan pemakaian bahasa Indonesia, sebagaimana dikerjakan Mochtar Pabottingi (Prisma, No 2, 1991), justru menghasilkan gugatan atas tesis Ben Anderson.

Analisis Ben Anderson tersungkup dalam modalitas bahasa priayi. Setali tiga uang dengan analisisnya tentang kekuasaan Jawa yang terperangkap ideologi priayi. Justru di kalangan masyarakat menengah, kelompok sosial yang diduga menjadi tempat berkecamuknya kramanisasi, tesis Anderson mendapat sanggahan. Pertama, praktik berbahasa yang menghargai ketidakterusterangan umumnya tidak berlaku (dinafikan) kalangan sastrawan. Ambil contoh karya-karya Chairil Anwar, Armijn Pane, Achdiat Kartamihardja, Taufik Ismail, Pramoedya Ananta Toer, Rendra, NH Dini, Sutardji Calzoum Bachri, Gerson Poyk, Titis Basino, Putu Wijaya, Ahmad Tohari, Ayu Utami, Joni Aryadinata, Agus Noor, dan Indra Tranggono.

Putu Wijaya, guna mengefektifkan teror mental terhadap khalayak malah menggunakan perbendaharaan kata tanpa tedeng aling-aling seperti menyembelih, menggorok, coro, menyetubuhi, megap-megap, bangsat, bunting, gombal, dan bajingan. Penulis lakon teater itu rupanya merasa jengah dengan gaya hidup Jawa yang nguler kambang alias alon-alon waton kelakon. Kedua, bahasa bergincu juga tidak berlaku di lingkungan cendekiawan. Tulisan-tulisan Sartono Kartodirdjo, Sutandyo Wignyosubroto, Ignas Kleden, Kuntowijoyo, Mochtar Pabottingi, Syamsuddin Haris, Onghokham, YB Mangunwijaya, Kwik Kian Gie, Wahono Nitiprawiro, Azyumardi Azra, Arief Budiman, Ariel Heryanto, bahkan Lukman Ali pakar bahasa, semua merepresentasi bahasa rakyat.

Idiom-idiom mereka cenderung membongkar budaya adiluhung yang tak jarang jadi kedok praktik hegemoni dan dominasi para elite politik. Ketiga, modus bahasa tidak terus terang juga dikuliti oleh kalangan agamawan. Tokoh-tokoh puritan sangat terlatih membongkar borok-borok kehidupan sosial-politik. Dengan wacana ex-negativo (membeberkan aib) untuk kemudian mengarahkan kehidupan ke jalan mulia, para pemuka agama, seperti KH Zainuddin MZ, dan KH Alawy Muhammad dari Sampang Madura, misalnya, memperoleh tempat terhormat di hati umat.

Ben Anderson sendiri, dalam Bab VI, Sembah-Sumpah: Politik Bahasa dan Kebudayaan Jawa (Courtesy and Curses: The Politics of Language and Javanese Culture), mengakui adanya konsistensi semangat berbahasa egaliter di kalangan Muslim Jawa. Ia menyatakan bahwa di kalangan Islam Jawa ada insulasi yang menyelamatkan praktik bahasa dari kramanisasi (baca: pengkastaan masyarakat). Insulasi ini terbukti kemudian tidak hanya ditemukan dalam Islam Jawa melainkan pada majoriti Muslim Indonesia. Bahkan ditemukan dalam komunitas agama-agama lain yang persepsi religinya kuat dan mati hidupnya tidak tergantung birokrasi. Masih ditambah satu kelompok lagi, yakni bahasa kaum muda, yang bentuk ekstremnya ditampilkan bahasa prokem (Jakarta), dan basa walikan (Yogyakarta dan Malang). Bahasa ini jelas-jelas anti unggah-ungguh, menerjang gradasi. Ekspresi kebahasaan mereka dijiwai semangat bebas, nakal, dan jorok-tempat segala otoritas membelenggu, apalagai korup disingkirkan.

Praktik bahasa terbuka dan tidak berjenjang pada keempat kelompok sosial di atas jelas menggambarkan semangat berbahasa berbagai kalangan non-birokrasi. Kelompok-kelompok sosial itu, dengan berbagai caranya sendiri, terus menerus menghidup-hidupi (ngampakake dayaning urip) bahasa Indonesia. Ujung-ujungnya tidak akan muncul masalah kata ganti (seperti kowe, sampeyan, panjenengan, dan ngarsa dalem) yang secara khusus menjadi distingsi bahasa Jawa.

Relevansi buku, yang ditulis ilmuwan berkebangsaan Irlandia kelahiran Cina, dibesarkan di Inggris dan Amerika, berbicara dengan aksen Inggris kuno, tetap memegang paspor Irlandia, tinggal di Amerika, dan membaktikan hidup sepenuhnya untuk Asia Tenggara. Ben Anderson, melalui bab I buku ini Gagasan tentang Kekuasaan dalam Budaya Jawa (The Idea of Power in Javanese Culture), mengajak bangsa Indonesia mencari inspirasi ke masa silam guna menata kembali asas politik-ketatanegaraan Indonesia yang ambrol di sana-sini.

Konsep nasionalisme yang mendasari terbentuknya Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) perlu dikaji ulang kerana telah lama tercemar dengan imaji politik orang Jawa. Soekarno di zaman Orde Lama ingin mengembalikan keemasan Majapahit. Soeharto menginginkan reinkarnasi Mataram terutama zaman Sultan Agung dengan konsolidasi tentaranya.

Orde Baru merupakan pelanjut setia yang kreatif rejim kolonialisme Belanda. Seperti negara kolonial, Orde Baru bekerja lebih kerana dorongan-dorongan dari dirinya sendiri ketimbang melayani tuntutan rakyat. Semua kebijakan Orde Baru di bidang politik, ekonomi, sosial, dan keamanan digiring bagi penguatan state-qua-state atau state-for-itself. Negara telah menjadi dirinya sendiri (a state of its own) terlepas dari berbagai kepentingan dan kehendak rakyat banyak.

Negara dalam paham kekuasaan Jawa, menurut analisa Ben Anderson, tidak ditentukan oleh wilayah periferi, melainkan oleh pusat. Integrasi tidak dimengerti sebagai kesatuan wilayah politis melainkan keagungbinataraan Jakarta. Faham kekuasaan Jawa sangat gandrung konsep negara kesatuan. Padahal konsep ini, dielaborasi Prof Soepomodari pemikiran Benedicto Spinoza dan Adam Muller, mengandung benih-benih totalitarianisme. Konsep unitarianisme itu ketika diterapkan Hitler di Jerman dan Musollini di Italia terbukti mendorong timbulnya kejahatan negara atas hak asasi manusia (HAM). Mohammad Hatta sebenarnya sejak awal sudah mengingatkan, bila negara Indonesia berbentuk kesatuan akan menuai persatean nasional bukan persatuan nasional. Kekhawatiran Hatta akan paham unitarianisme yang Java-centris terbukti benar.

Begitu sang patriarch (Soeharto) bangkrut, banyak masyarakat terang-terangan mempertontonkan sentimen anti-Jawa. Aceh dan Irian Jaya menyatakan ingin bebas dari kolonialisme Jawa. Semua ini, meminjam istilah John Pemberton, dalam On the Subject of “Java” (1994), merupakan cultural effect Jawanisasi politik Indonesia.

Pemikiran Ben Anderson, jelas tetap relevan dan kontekstual untuk mencegah agar Indonesia tidak dikeping-keping disintegrasi hingga menjadi belasan republik kecil yang kerjanya bertikai melulu seperti negara-negara eks Yugoslavia di Semenanjung Balkan.


Diterbitkan semula dari blog kuninghijau.wordpress.com yang dikendalikan oleh Rismiyadi.

Achdiat Kartamihardja Adam Muller Agus Noor Ahmad Tohari Arief Budiman Ariel Heryanto Armijn Pane Ayu Utami Azyumardi Azra Benedicto Spinoza Bennedict Anderson Bernard Dahm Chairil Anwar Clifford Geertz Daniel S Lev Denys Lombard Dwight Y King George Mc Turnan Kahin Gerson Poyk Hatta Herbert Feith Hitler Ignas Kleden Indra Tranggono James T Siegel John Pemberton Joni Aryadinata KH Alawy Muhammad KH Zainuddin MZ Kuntowijoyo Kwee Thian Tjing Kwik Kian Gie Lance Castle Lukman Ali Mochtar Pabottingi Musollini NH Dini Onghokham Pramoedya Ananta Toer Putu Wijaya R William Liddle Rendra Sartono Kartodirdjo Soepomodari Sutandyo Wignyosubroto Sutardji Calzoum Bachri Syamsuddin Haris Taufik Ismail Titis Basino Wahono Nitiprawiro YB Mangunwijaya

Tinggalkan Balasan

Alamat e-mel anda tidak akan disiarkan. Medan diperlukan ditanda dengan *

Cancel Kirim Ulasan