….[the nation] is imagined as a community, because, regardless of the actual inequality and exploitation that may prevail in each, the nation is conceived as a deep, horizontal comradeship. Ultimately, it is this fraternity that makes it possible, over the past two centuries for so many millions of people, not so much to kill, as willing to die for such limited imaginings.”
― Benedict Anderson (1936-2015)

Ben Anderson lahir di Kunming, Tiongkok, meninggal di Batu, Indonesia. Ia berdarah Irlandia. Tapi orang yang tak bertanah-air ini, yang pandai pelbagai bahasa ini, menyaksikan, merasakan, dengan peka dan empati, apa arti sebuah bangsa, sebuah bahasa, bagi sehimpunan manusia.

Mungkin karena ia tak memandang bangsa sebagai mahkluk mitologis, yang berasal dari langit, melainkan sebagai komunitas yang dibentuk dalam sejarah, dengan sejarah, Ben Anderson menelaah “entitas” ini dengan cerdas dan teliti.

Sebenarnya dalam bahasa Indonesia, “bangsa” tak sedefinitif artinya seperti dalam kosakata politik Eropa sejak Revolusi Perancis — meskipun untuk beberapa lama “nation” pun kadang-kadang rancu dengan pengertian “ras”.

Ben menegaskan makna kata itu dengan meneruskan ide tentang bangsa yang, setelah Revolusi Perancis, dirumuskan Ernest Renan, misalnya: bangsa adalah sebuah konstruksi sosial-politik, yang dikukuhkan “wacana” (discourse) yang hegemonik.

Dengan itu, Ben memilih pokok soal yang penting. Bangsa lebih awet ketimbang yang diperkirakan. Internasionalisme yang dicitakan Marxisme ternyata tak berjalan seperti diduga: konflik Uni Soviet dengan RRT adalah kasus yang jelas. Globalisasi sekarang mungkin akan menghubungkan bangsa-bangsa dengan lebih efektif, meskipun “bangsa” di dalam hubungan itu hanya diwakili kelas yang cocok satu sama lain ketika melintasi batas nasional. Negara-bangsa yang ingin diatasi di Eropa sejak dua perang besar antar negara menghasilkan Uni Eropa, tapi Uni Eropa itu sendiri sejenis “komunitas yang dianggit’ (imagined) dan di sana-sini menunjukkan perspektif semacam “nasionalisme” — hanya dengan wilayah yang lebih besar.

Kita belum tahu, sejauh mana “komunitas yang dianggit” yang disebut “nation” itu akan bertahan. Sangat sangat mungkin, ia akan berubah. Hancurnya nation-state di Timur Tengah dan derasnya arus imigran ke Eropa, mungkin menandai itu.

Kita belum tahu, adakah kesetiakawanan internasional yang ditunjukkan dengan gilang gemilang oleh gerakan-gerakan kiri dulu, seperti dalam Perang Saudara melawan Fasisme di Spanyol, akan bisa hidup lagi. Mungkinkah ia kini berinkarnasi dalam gerakan relawan untuk kemanusiaan, “médecins sans frontère”. misalnya, dan akan jadi gerakan kemanusiaan yang meluas? Ataukah gerakan penyelamatan lingkungan akan jadi “kiri baru” sedunia — hingga “hijau” adalah “merah”?

Kita belum tahu. Kita kadang-kadang menggumamkan “Imagine, there is no country” John Lennon, tapi pada saat yang sama menitikkan airmata bila merah-putih dikibarkan dalam pemberian medali emas di Asian Games, atau dalam acara seperti Museumsuferfest di Tepi Sungai Main di Frankfurt.

Ben pasti tahu ambivalensi yang sebenarnya tulus dan menyentuh hati itu. Dalam arti tertentu, ia sendiri seorang internasionalis dalam tradisi kiri (dalam arti yang lebih luas ketimbang cuma Marxisme-Leninisme) dengan solidaritas kepada mereka yang tertindas di manapun juga.

Saya ingat dalam salah satu kesempatan ia meminta saya memperkenalkannya dengan Xanana Gusmao yang waktu itu di dalam tahanan Indonesia di Jakarta. Mungkin ia tahu saya pernah jadi semacam “kurir” Xanana membawa sepucuk surat rahasia buat Ramos Horta, yang akan menemui saya di Bilbao, Spanyol.

Ke rumah tahahan itu Ben membawa seorang anak kecil, “cucu saya”, katanya, dari Cirebon, yang ia inginkan punya kenangan bertemu dengan seorang pejuang kemerdekaan.

Penjaga sudah ramah dan tanpa kesulitan kami menemui pemimpin gerilya Timor Leste itu. Ben meminta agar pertemuan Xanana dengan si anak diabadikan dengan kamera.

Mungkin ayah anak itu, Juhana, yang dekat dengan Mas Ben, masih menyimpan foto itu.

Tapi lebih penting, anak itu, ayahnya, kami, teman-teman Mas Ben, juga pengagumnya dan pembaca bukunya, akan mengenang orang yang cemerlang dan sekaligus lembut hati itu.

Goenawan Mohamad, penyair dan eseis Indonesia.

Benedict Anderson Ernest Renan Esei Goenawan Mohamad

Tinggalkan Balasan

Alamat e-mel anda tidak akan disiarkan. Medan diperlukan ditanda dengan *

Cancel Kirim Ulasan