Baru saja kita mendengarkan Endah Laras, dengan suaranya yang merdu, membaca, dan menembangkan sebuah puisi Jawa abad ke-19.

Puisi itu bercerita tentang sebuah adegan yang dramatis, aneh, dan memukau: seorang yang dihukum bakar di sebuah alun-alun Jawa di abad ke-15, tapi di tengah nyala api, ia menulis, mungkin sebuah puisi.

Orang itu, Malang Sumirang, dianggap melanggar hukum dan ajaran agama. Raja dan para ulama besar memutuskan untuk menghapusnya dari kehidupan. Ia dihukum dengan dibakar hidup-hidup dalam sebuah auto-da-fé — seperti Al Hallaj, seorang sufi dari Baghdad di abad ke-10, seperti banyak orang yang dianggap bid’ah dalam Inquisisi Gereja Spanyol di abad ke-15.

Tapi berbeda dari cerita-cerita itu, Malang Sumirang dengan tenang berjalan sendiri memasuki api yang dikobarkan di atas unggun kayu di tengah alun-alun kerajaan. Di tengah panas yang tak terkira, ia, seakan-akan tak tersentuh, meminta sebatang pena, sebotol tinta, dan beberapa lembar kertas. Ia menyuruh anjingnya yang setia untuk membawakan itu semua. Dan ia menulis.

Sultan, para petinggi, para ulama besar, dan ratusan orang yang ingin menyaksikan kekejaman hari itu, merasa takjub. Malang Sumirang tidak hangus. Ia tidak tewas. Bahkan kemudian api padam, dan ia melangkah turun, lalu meninggalkan alun-alun dan semua yang hadir. Sebelum pergi, ia memberikan sajak yang digubahnya kepada baginda.

Dan ia pun berjalan menuju ke sebuah hutan yang tak tertembus.

Segera sesudah itu, Raja memerintahkan agar apa yang ditulis Malang Sumirang dibaca di hadapannya. Tapi tak disangka-sangka, orang yang dititahkan untuk membacanya tak bisa menyelesaikan tugas.

Kisah ini tak menyebutkan apa sebenarnya makna kata-kata yang digubah Malang Sumirang. Raja dan para pengguawanya juga tak bisa mencarinya di hutan berduri ke mana Malang Sumirang lenyap.

Para hadirin yang saya hormati,

Saya sangat berterima kasih kepada Ausstelung und Messe serta FBF untuk kesempatan yang langka ini — kesempatan berbagi hal-hal yang bernilai, yang kami bawa dari Indonesia. Kami sadar, Indonesia sebuah negeri yang amat jauh dan umumnya tak dikenal di sini. Tapi sambil mendengarkan Endah Laras menembang dan mengisahkan riwayat Malang Sumirang, saya berharap anda bisa mengenali beberapa lapis alegori di dalamnya. Saya percaya banyak hal yang bisa membangun percakapan antara kita, meskipun kita datang dari benua yang berjauhan; misalnya dalam menampik kekejaman, merasakan sakitnya penindasan, dan mengalami paradoks kekuasaan.

Kisah Malang Sumirang bisa ditafsirkan bercerita tentang kekejaman sebuah kekuasaan — baik kekuasaan politik maupun agama. Tapi dengan segera tampak juga bahwa kekuasaan itu akhirnya terbatas: raja dan para ulamanya bahkan tak bisa menghentikan langkah seekor anjing yang lazimnya dianggap najis tetapi setia.

Lebih jauh lagi, dalam kisah ini, kekuasaan terhenti ketika menghadapi hasrat dan energi yang melahirkan tulisan. Dalam arti ini, menulis telah membuat seorang yang terhukum mebalikkan posisinya, dari seorang yang terkutuk menjadi seorang yang tak terjangkau. Malang Sumirang menulis — dan dengan itu ia mengubah mereka yang berkuasa menjadi yang tak berdaya.

Tak berdayanya kekuasaan itu juga yang menyebabkan apa yang ditulis Malang Sumirang — mungkin puisi — terlepas dari cengkeraman makna yang dipaksakan. Boleh dikatakan kisah ini adalah sebuah alegori tentang makna yang tidak bisa dikuasai, seperti tokoh cerita ini yang menghilang ke dalam hutan. Ibarat terlindung dalam belantara yang lebat, makna tak mudah dijinakkan untuk dimufakati dan dimufakati untuk dijinakkan. Makna tak mudah diringkus.

Mudah-mudahan dengan kearifan inilah kita, hari-hari ini, menyambut kelahiran buku. Menyambut kelahiran buku tak hanya berarti memamerkan kekenesan para pengarang. Juga tak hanya berarti memajang sejumlah besar komoditi di sebuah pasar yang ramai.

Yang saya harapkan ialah bahwa kita semua bersedia mengingat kembali apa yang dilakukan Malang Sumirang: kita menulis untuk menegaskan keseteraan manusia. Kita menulis untuk menghidupkan percakapannya. Dan dengan demikian kita menulis juga untuk menumbuhkan kemerdekaannya.

Sekian, terima kasih.

Goenawan Mohamad

Sumber: Tempo.co

al-Hallaj Endah Laras Frankfurt Book Fair Malang Sumirang

Tinggalkan Balasan

Alamat e-mel anda tidak akan disiarkan. Medan diperlukan ditanda dengan *

Cancel Kirim Ulasan