tepitasik_major

 

Assalamualaikum Tuhan

Ada yang  mencari Tuhan di luas langit; di gelora laut;
di sebalik gunung Adranus yang di jaga dewa.
Dan ada yang menganggur Tuhan di bibir cangkir bir;
di bidai jendela; di gigi langit dimasa senja;
atau di saat menyarungkan jilbab pada kepala.

Tuhan sudah lama termangu.
Lama menanti doa-doa yang ingin dituntaskan.
Tuhan telah lama meraib sunyi
seperti matahari yang menganak sendiri
ketika ramai riuhkan purnama di malam hari.

Tuhan seolah menjadi waktu terbiar
dan senyumnya mati di syurga yang dahaga.

Kita tak akan pernah kehilangan Tuhan
walau Tuhan telah lama kehilangan kita
Tuhan sentiasa wujud pada ujung lidah yang melafazkan
Assalamualaikum ke-atasNya.

 

Matahari Juga Mati, Sayangku

Koyo diambung mataari ubon-ubon ne
kupingku kerungu koyo dibisik angin,
sesok mataari orak njemputku
nyeluk-nyeluk aku karo matahari,
“angger kuey orak eneng kepiye..
aku arep tangi, sayangku”
mataari agek meneng, surem.
mampir liwat suoro ngerungok key,
“gusanala pangeran ba’lek nang pangeran..
memang ey sesok di’noku”

 

Terjemahan:

Matahari mencium lembut ubun kepala,
Telingaku mendengar bisik-bisik angin,
Bahwa esok matahari tidak lagi menjemputku..
Berteriak aku kepada matahari,
“bagaimana aku mahu bangun tanpamu,sayangku”
Matahari masih diam, sugul.
Lalu seketika kemudian suara garau bergema,
“yang tercipta akan kembali kepada pencipta..
Maka hari esok adalah hariku.”

 

Malaikat Ngorok

Di sebelah kiri ranjang ada malaikat milik Tuhan sedang empuk ngorok didalam becak anyir-anyir… Lamatnya  mengeram dengan dosa-dosa yang dihisab dari lengkung bibirku.
Atap rumah benderang diguyur hujan gusar;
guruh lari berchempera dengan suara riuh-rendah tidak mahu sekali menanggung taksir.

Khawatir aku, tuan
engkau menyusut dek boleng-bolengku
yang meruas menjadi ireng mengkal.

 

Aku Tidak Lagi Mencintaimu, Kata Kesedihan

Seperti mimpi jauh malam yang cuma enak di ranjang
aku mungkin sama nasibnya dengan luka basah yang diingati seketika;atau genangan keringat datang bersinggah  di lekuk leher – tetapi habis setelah diseka.

Di matamu, aku tak berhasil menemukan apa-apa; bahkan separa pipiku. desah napasmu tidak kunjung di sela-sela rambutku.

Barangkali di kelahiran semulaku nanti akan kunamakan diriku “kesedihan” dan aku tidak lagi mencintai dirimu.