Budaya Baca, Budaya Pencerahan

oleh
4 Januari, 2013 | kategori Esei | komen [0] | Cetak | kongsi  
Penulis ketika menyampaikan pidatonya di program Pidato Anak Muda Siri 1 anjuran Akademi Pak Sako sempena pelancaran program Jelajah Buku © Akademi Pak Sako

Penulis ketika menyampaikan pidatonya di program Pidato Anak Muda Siri 1 anjuran Akademi Pak Sako sempena pelancaran program Jelajah Buku © Akademi Pak Sako

Yang utama,khalayak yang menghadiri majlis pidato hari ini, yang mengangkat akan judulnya “Julang Semangat Pencerahan”.

Yang dihormati, rakan-rakan dari Akademi Pak Sako,majalah atas talian, Jalan Telawi dan Institut Kajian Dasar yang sudi menjemput diri ini untuk berhujah pidato.

Yang didokong, gagasan rakan-rakan Buku Jalanan seluruhnya, mengufuk dari timur ke barat, dari utara ke selatan.

Assalamualaikum Warahmatullahi Wabarakatuh. Selamat Petang.

Berdirinya saya ini dari Kelompok Buku Jalanan, Saudara Muhammad Zikri Abdul Rahman akan berbicara soal praksis budaya baca, kaedah menjulang semangat pencerahan.

Tegarnya, Buku Jalanan ini berdiri di atas pasak prinsip, “membenih ilmu, mengakar pengetahuan”; yang pada kami,di mana soal membaca dan berdiskusi adalah sebentang jalan jalur sebuah cerah pemikiran.

Saya bukanlah orang yang arif untuk berbasa-basi soal falsafah pencerahan, sebaliknya saya akan berbicara soal praksis pencerahan itu sendiri,iaitu aksi membaca, aksi terus kepada membudaya pencerahan itu sendiri.

Yang jelas pada kita,kebenaran adalah perlawanan, perseteruan antara hak dan batil dan aksi membaca adalah jalan pada kebenaran. Dan pada apa kita untuk tidak menyorotinya?

Ada tiga teras utama yang ingin saya ujar pada khalayak petang ini soal praksis membaca,

Pertamanya,semangat ayat Surah Al Alaq, yang mula-mula melaung kata iqra’, “Bacalah”. Dan pada aturan hidup ini, adalah sesuatu yang revolusionari untuk sebuah agama bermula dengan suruhan, bacalah, ini.

Pada hakikat sejarah, Junjungan Besar kita, Nabi Muhammad S.A.W ini seorang ‘Ummi’, diertikan buta huruf, bahkan tidak pandai menulis, bahkan tidak pandai membaca apa yang yang tertulis.Dengan segala rendah diri, bukanlah ianya satu penghinaan, ianya satu pemaknaan iktibar terhadap manusia, pada apa membaca itu, jika bukan tanggungjawab melebar faham pencerahan itu sendiri.

Ingat, dua kali Jibril menutur kata buat Junjungan Besar, “Bacalah”, dan dua kali Junjungan Besar kita ini gugup, resah menolak akan “agungnya” wahyu ini, memberat pikul, hinggalah untuk kesekian kalinya, tuturlah akhirnya akan Nabi Muhammad akan wahyu itu,membentuk satu rukun anutan kita.

Ada iktibar dalam peristiwa ini, iktibar akan kemampuan kita manusia, untuk menempuh soal kemahuan dan kehendak akan ilmu, pada apa asas pencerahan, yang asasnya membaca ini, akan kita pasakkan? Jelas, bagi seorang Junjungan Besar Muhammad S.A.W, pasaknya pada tutur kata ini, “Bacalah dengan nama Tuhan-mu.”.

Menelusuri tafsirnya ayat surah ini melewati faham Bung Hamka, ayat ini yang memperihal asal muasal manusia dicipta dari segumpal darah dan air mani, ini adalah apa yang kita tidak ketahui, kecuali dari peringatan ayat yang pertama wahyu, bacalah! Dan ini dalam keadaan kita, manusia culas serba serbi, yang tidak mengerti, dibiarkan mencari, kita mencari atas nama cerahnya sebuah ilmu.

Dan sekali lagi,”Bacalah dengan nama Tuhanmulah yang paling pemurah” menjadi gempita arahan Malaikat Jibril buat junjungan besar kita,

Dan diusul wahyu oleh Tuhan, “Dia yang menganjurkan dengan kalam” (menulis dengan pena!)

Dan dari apa menulis itu jika bukan mengarus sebuah polemik, gelojak gulat fikrah kan bertaufan membawa badai fikiran,bukan? Dan ini peringatan yang hadir dari sebuah aturan hidup yang kita anut, yang kita enggan angkat, dalam melewati soal pencerahan, justeru pada apa kita ini tercela jika akhirnya enggan membaca?

Susunan ayat ini hadir termaktub bukan kosong-kosong, lihat pada aturnya dari ayat pertama hingga akhir surahnya, dan “Bacalah” adalah pelengkap kesempurnaan manusia, selepas diulang dua kali dalam sebuah surah revolusionari, sulung ulung hakikatnya ini,diapit akan tutur “Ia telah menciptakan manusia dari segumpal darah” dan lengkaplah saatnya ilmu dicatat oleh kalam yang dipegang kejap sepasang tangan kekar, tersemat dalam teguh sebuah hati akan pesannya ini, persis tafsirnya seorang ulama besar kita ini, Syeikh Muhammad Abduh dalam Tafsir Juz Amma-nya,yang  sangat berahi mengangkat peranan dua ketetapan, aksi membaca menulis ini, menjadi pasak ketanggungjawaban sebuah pencerahan.

Dan mengalirlah akan arus isi pidato ini langsung ke teras kedua isi pidatonya petang ini adalah pada apa, tokoh-tokoh sastera kontemporari mengangkat pedoman pencerahan dalam soal membaca untuk melebar sebuah tamadun pencerahan.

Ambil seorang, Salman Rushdie,seorang penulis prolifik, penulis yang diharamkan atas nama karyanya The Satanic Verses, hatta di Malaysia ‘Boleh!’ kita ini sekalipun. Di  dalam warkah catatan kompilasi esei dan kritisisme, One Thousand Days in a Balloon, Salman menegaskan serta mengunjur untuk menyampai, mencerita, konstruk dan dekonstruk apa yang dibaca, dari catatnya yang jelas ini,

“..Those who do not have the power over the story that dominates their lives, power to retell it, rethink it, deconstruct it, joke about it, and change it as time changes, truly are powerless, because they cannot think of new thoughts..”

Terjemahannya: “..Bagi mereka yang tidak punya kuasa terhadap kisah yang mempengaruhi hidup mereka, kuasa untuk menceritakannya semula, memikirkannya semula, meruntuh dan membinanya semula, berjenaka tentangnya, dan menukarnya seperti detik masa yang berlalu, adalah mereka yang benar benar tiada berkuasa, kerana gagalnya mereka untuk berfikrah perkara baru..”

Jelas, di dalam rangkap diungkap tulis ini, pelanggaran dogma dan kemampuan kita dalam membaca, bukan sekadar dibaca, malahan berpanjangan soal kemampuan fikrah untuk menjalin, menyimpul dan menenun akan lembar bait kata yang dibaca, yang tuntasnya memberi erti pada memekar sebuah tamadun fikir, bukan lagi soal mengulang taklid pada bicara-bicara dogmatik yang membatu keras.

Keduanya mengambil tutur Pak A. Samad Said, Sasterawan Rakyat utamanya, Sasterawan Negara anugerahnya, dalam menekuni, bagi saya, soal praksis dalam membudaya pencerahan ini pada dua pesannya lebih kurang begini, “Pertamanya,bacalah,keduanya,bacalah,dan ketiganya,bacalah sebelum mula menulis…”. Ini selari seperti yang diungkap dan dimartabat oleh Syeikh Muhammad Abduh.

Bagi pesan kedua dari Pak A. Samad Said dalam bukunya, Biografi A. Samad Said, Memberi Hati Nurani yang disusun oleh Rosnah Baharudin ini, pada jaket kulit selak muka depannya sudah tertera akan ungkapannya ini, “Melihat,membaca, dan bergaul,saya bertambah ranum.”

Menguliti pesan ini, hakikat pencerahan ini makin kuat hadir pada kemampuan kita untuk wajib mengangkat soal soal pewacanaan ilmu dalam kerangka disiplin aksi yang lebih utuh, pastinya, aksi utamanya dari membaca itu sendiri.

Yang ketiga dan yang terakhir, Mas Goenawan Mohamad, sosok intelektual Indonesia, yang terus-terusan tegar menulis dalam kolumnya, Catatan Pinggir, baginya, membaca ini satu perlakuan seni yang halus, perbuatan melihat susunan kata, mencari makna, dan mengilhami suasana.

Atas pesan ini, pencerahan tidak dapat tidak, wajib berjalan atas indera sebuah kesedaran nuansa suasananya, kesedaran akan gelita-gelapnya sebuah masyarakat, dari segenap segi, dari gelam politik ke ekonomi, dari segala maha legap buat bertembung tamadunnya, dan pada setiap gelap, gelam dan legapnya, akan hadir, yakinlah, akan sebuah obor pencerahan dari asas pesan pesan praksis tiga sosok ini.

Menghampir akan kita adalah isi akhir pada pidatonya petang ini. Dan pada bermula sesuatu, padanya ada sejarah yang boleh diinsafi sifatnya, termasuklah soal-soal pencerahan, yang seringkali hadir dalam pergulatan zaman, dan kontradiksi kontradiksi.

Ambil pada sorotan merdeka sejarah, lihat di mana aparat penjajahnya resah?

Akar gugupnya penjajah itu seringkali hadir di balik dinding gedung buku dan penerbitan, akan sekelompok yang bersimpuh diskusi ide di warung-warung, di celah-celah jari runcing yang menaip, dan ya, sepasang mata yang ralit membaca. Ini praksis sebuah budaya pencerahan, ini membumi persis pesannya Saudara Mochtar Lubis saat Revolusi Indonesia, 17 Ogos 1945, ditempiknya akan kata ini,”Bacalah untuk merdeka..”.

Kerana seringkali, merdeka itu hadir dalam apa yang kita telesuri, yang kita insafi, yang kita mengiktibar, khususnya dalam soal menanggapi soal kebebasan, dan seringkali karya sastera ke hadapan dalam memberi erti sudut pandang ancaman-ancaman sebuah aksi membaca dalam membudaya pencerahan itu sendiri.

Ini terangkul dalam dua buah novel klasik yang kontradiktif dalam nilai isinya, ambil contoh, satu novel utopia, Brave New World karya Aldous Huxley dan satu novel distopia, 1984 karya George Orwell.

Keduanya ada menyentuh soal membaca ini secara sedar dan langsung, yang satu,dalam 1984, dengan segala ide mengekang, bersumber pada aturan bahasa orde baru Big Brother, ”Newsspeak” dengan jargon-jargon  seperti “Thought Crime” dan parah utama yang meruntuh, jenayah fikrah ”Crime Think”, kesalahan hanya kerana berfikir dan sebagainya dengan institusi-institusi (yang hadir malahan dalam kerajaan yang nyata sekalipun) yang memandul akan sebuah “kebebasan” atas nama sebuah kestabilan, entah untuk apa dan siapa.

Yang kedua, dalam Brave New World, lebih nyata dalam suasana kita sekarang, ambil contoh, dititipkan atas nama kebebasan, segala macam bahan baca diutarakan, selambak-lambaknya, dari segala macam sampah hingga hanyirnya dikongsi, jika boleh diertikan sebegitu, hingga warga, tidak lagi upaya menapis mengerti akan bahan baca yang benar-benar bermakna.

Awas, ini bahana moden paling ampuh atas nama globalisasi arus perdana dan kita dipaksakan membina persetujuan atas soal ini, dan kita yang percaya pada semangat pencerahan ini, harus waspada, ya, waspada kerana kata putus akhir, termaktub pada kita dalam membumi praksis pencerahan dalam aksi membaca ini adalah kemampuan kita untuk menanggapi  dan menghadam soal masyarakat kita, akhirnya.

Dan ya, pencerahan bukan perkara seketika, bukan persis angin menampar pipi diri dan berlalu pergi, tidak, pencerahan persis ombak menggulung mengampuh pantai setiap detik, menghakis bobrok sejagat dan dalam diri, langsung melaut gelora sebuah tamadun fikrah bersemi.

Sekian.Terima kasih.

“Membenih ilmu, mengakar pengetahuan.”

Zikri Rahman atau @panlusi, penggerak kelompok Buku Jalanan yang membawa konsep BACA (Books, Arts, Culture, Activism). 

 


Tags: A. Samad Said, Akademi Pak Sako, Aldous Huxley, Buku Jalanan, George Orwell, Goenawan Mohamad, Hamka, Institut Kajian Dasar, Jibril, Mochtar Lubis, Pidato, Quran, Revolusi Indonesia, Rosnah Baharudin, Salman Rushdie, Syeikh Muhammad Abduh
 

 

Tinggalkan Komen

WordPress SEO fine-tune by Meta SEO Pack from Poradnik Webmastera