Satu malam di tahun 2006 beberapa orang anak muda berbincang dan akhirnya bersepakat untuk membentuk grup musik akustik. Mereka menamakan kumpulan tujuh orang itu sebagai ‘Crocourt Acoustic’. Setelah berapa lama anggota menjadi empat orang dan nama bertukar menjadi ‘Stackato’ dan kemudiannya berubah lagi menjadi “Sense Acoustic’ yang mempunyai tiga orang ahli iaitu Kupid, Cok dan Man Angga.

Sense Acoustic memilih untuk bermain musik akustik. Perubahan sikap dan estetika berlaku selepas luasnya pergaulan dengan banyak teman pemusik dan seniman aneh. Mereka mula memainkan lagu-lagu top empat puluh dan mulai menciptakan karya-karya baru. Maka terciptalah Nosstress pada tahun 2009.

Dewasa ini, Nosstress menembangkan lirik-lirik tentang hal-hal kecil dalam keseharian, optimisme, kritik dan lingkungan. Bermain dengan mencampur sedikit suasana blues folk dalam alunan pop dan entah apa lagi. Secara spesifik tidak diketahui apa aliran Nosstress. Album pertama yang diberi judul “Perspektif Bodoh” pun baru saja di rilis, berisikan materi dari awal band ini terbentuk.

Sesi wawancara ini dilakukan di rumah Cok dalam suasana santai dan ditemani aktivis di Komunitas Taman 65, Ngurah Termana sebagai pemerhati. Semua jawapan tanpa dinyatakan nama adalah mewakili band Nosstress secara umumnya.

 

Okay perkenalkan diri sendiri. Bercinta dengan siapa? (Semua ketawa). Sedikit latar belakang.

Kupit: Saya Guna Warma atau Kupit, saya belajar Pendidikan Komputer Media, jurusan teknik jurukomputer. Sudah selesai empat tahun yang lalu dan sampai sekarang saya kekal sebagai penganggur ya.

Angga: Saya Man Angga, pendidikan terakhr saya Hospitaliti Industri. Ya… Saya belum pernah pergi Malaysia tapi saya sering tonton Malaysia di TV, saya tonton Upin Ipin, saya suka sekali dengan Upin Ipin. (ketawa)

Cok: Saya Cok Bagus, pendidikan terakhir, Sarjana Hukum. Sudah lulus, sudah habis satu semester yang lalu.

Kenapa kalian memilih akustik sebagai muzik?

Kerana akustik sangat simple. Ia seperti light, muzik ringan sekali tak perlu kecoh-kecoh. Di mana-mana kalau di pinggir jalan, kita main akustik ya.

Memang sengaja kalian pilih main akustik?

Tak sengaja. Tapi kebetulan itu alat-alat pertama yang kita pelajari. Gitar akustik dan langsung di sana hati yang berlabuh.

Kenapa tidak main elektrik?

Mungkin juga satu hari… (Kami) Tidak menutup kemungkinan untuk main elektrik.Tapi sekarang kami masih menikmati permainan akustik.

Album pertama kalian sekitar tahun Oktober 2011 ya? Boleh ceritakan sedikit proses penghasilan, atau proses kreatif?

Nosstress sudah sejak 2008.Tapi mulai cipta lagu sendiri dari 2009 sampai akhirnya 2010, kita duduk, rakaman pertama… Satu tahun proses rakaman sampai 2011, rakaman, mixing dan pelancaran.

Bagaimana kritik dan respon dari khalayak? Satu dari segi penjualan.Satu dari segi karya. Maksudnya mereka menerima Nosstress seperti apa?

Terimanya dengan sangat bagus sekali. Positive. It’s good. Bagus. Massa sepertinya jatuh cinta juga. Penjualan bagus walau pun dalam skala kecil, belum berusaha untuk besar. Tidak terjangkau untuk Indonesia, masih berusaha di Bali.

Katanya seribu dicetak. Sekarang sudah terjual?

Hampir habis seribu.

Kenapa judul albumnya Perspektif Bodoh? Apa di balik itu?

Bodoh itu maksudnya bukan dalam bodoh/stupid, tidak tahu apa-apa, tapi maksudnya dipandang secara sederhana, bukan secara rumit. Kadang-kadang kita boleh menemui inti masalah itu dengan memandang secara sederhana saja, daripada dipandang secara rumit – mengelembung arah entah ke mana-mana. Jadi perspektif bodoh itu memandang dengan kesederhanaan, sesuai dengan muziknya, sesuai dengan kesederhanaan.

Satu yang aku perhatikan, lirik lagu Nosstress sangat santai sekali. Maksudnya lirik nya tidak terlalu berat. Adakah kalian sengaja memlilih lirik yang sederhana untuk menyampaikan kritik?

Jadinya seperti itu. Tapi ada, lebih sedikit bahasa-bahasa yang puitis…Tapi secara alamiah kita tidak ada konsep untuk (menjadi) seperti itu. Susah nak digambar tetapi alami,..(Tidak dikonsepkan dari awal)

Kalau jadinya baru melihat “oh bentuknya seperti ini?”

Ya.

Tapi sudah ada liriknya memang terus dijadikan lagu?

Cuba dijadikan lagu, kalau dirasa aneh, tak jadi. Bila sudah jadi itu baru dengarkan, tunggu respon bertiga.

Tren ‘galau’ (jiwa kacau) semakin menjadi-jadi. Kalian melihat galau itu seperti apa?

Galau banyak diertikan tentang cinta. Bukan tentang galau sebagai proses bernegara, “aduh galau sekali negara ini.” (ketawa)

Galau itu sebenarnya satu perkataan yang lebih ditegaskan hubungnya dengan ‘lebay’ (lebih), dikeraskan ertinya. Sejak awal, perkataan galau itu memang sudah ada dalam Bahasa Indonesia. Hampir mirip kepada situasi yang disebabkan kebosanan, ingin sesuatu yang lain, atau kerana mengalami kesedihan boleh juga masuk ke galau, seperti gangguan jiwa dalam skala kecil gitu. Cuma sekarang dilebihkan kerana danak muda yang dikaitkan dengan ‘lebay’ (lebih) itu.

Di zaman Suharto anak-anak mudanya mungkin tidak terlalu memikirkan tentang galau kerana sibuk melawan itu, melawan ini (reformasi) dan kini di Indonesia aktivisme mulai mengendur. Adakah tren galau ini kerana disebabkan anak-anak muda mulai hilang arah?

Memang ada seperti itu, anak-anak muda yang ‘lebay’, yang galau. Mungkin kerana jumlah yang ‘lebay’ lebih banyak daripada yang serius, makanya jelas terlihat dan yang galaunya lebih banyak berkicau di Twitter.

Mungkinkah juga gerakan muzik terpengaruh dengan galau kerana faktor-faktor lain?

Galau punya potensi yang besar untuk bisnes. Pokoknya terjual. Menggalaukan diri untuk masuk ke mainstream. Itu galau juga.

Termana: Aku  lihat ada perubahan bagus yang dibawa beberapa band di Bali. Dulu di Jakarta generasi indie lama banyak dikuasai konteks sosial politik. Namun generasi baru agak bingung mencari arah termasuk di luar Jakarta dan Bali juga. Menurutku, Nosstress pasca indie underground membawa satu aliran yang di luar mainstream dan underground. Sekarang di Bali kita berhasil mendobrak mainstream dan juga underground yang diwakili muzik Punk dan Black Metal. Dulu pasca reformasi genre ini yang menguasai. Sekarang band seperti Nosstress, Dialog Dini Hari hadir sebagai “hero-hero” terutama bagi penggemar-penggemar yang mengalami stagnansi di genre underground. Aku merasa begitu, bukan kerana Bali kecil tapi kerana ada gerakan yang cukup menarik di Bali entah kerana di bawa Nosstress atau mungkin faktor lain. Indie versi underground boleh mengalami perubahan ketika muzik yang dibawakan melalui akustik.

Jadi bisa aku simpulkan Nosstress telah memberi impaknya.

Termana: Ya gerakan ini munculnya cepat. Di Jakarta pun lambat. Band-band yang besar SID, Efek Rumah Kaca dan lain-lain masing-masing masih genre elektrik dan melaung melaung. Sedangkan di Bali mulai banyak perubahan di bawa Nosstress dll. Mereka bisa di bilang pembawa perubahan gerakan indie,. Mereka bawakannya dengan sebuah indie baru dengan nada yang sederhana tapi optimis. Itu perubahan generasi baru (Nosstress) yang cuba masuk ke dalam generasi yang sangat galau. Tetapi kalau dilihat dari cara direpresentasikan, “Okay, semua negara sudah buat ini..” Tetap optimis tapi masih dengan pemikiran yang santai. Itu yang dibawa Nostress apa yang aku lihat.

Aku suka sama lagu Mau Apa?” terutama liriknya kerana secara peribadi dekat dengan aku. Tapi aku melihat lagu itu sebagai satu lontaran tentang pencarian jati diri. Tapi itu kan boleh dimaknakan galau cinta, atau… kemasan galaunya kurang jelas… Adakah lagu itu mewakili identiti Nosstress?

Itu karya yang saya buat diam. Tentang kegalauan. Mahu apa hidup ini? Sudah dua puluh tahun, masih belum jelas. Tapi sudah ada sebenarnya jawapan ‘seperti yang kau tahu’ tapi cuma aku yang belum tahu itu apa. Mungkin ada orang yang tahu aku ini seperti apa dan apa aku akan jadi.

Aku melihat dia sudah ada potensi seperti itu dan mungkin dia belum yakin atau macam mana.

Tapi itu juga boleh juga seperti memberi peringatan, seperti tidak ada pen, tidak ada pen untuk semua orang. Tapi seluruhnya ketika mereka mendengar itu, anak muda galau sekarang yang masih belum tahu hendak ke mana, mereka mahu usaha ya, harus ada rencana… Ya itulah untuk menyedarkan walau mereka tidak berusaha… Lirik itu belum tentu tepat, ada masalah ada penyelesaiannya, baru bertambah lebar hidup ini.

Kalau di Malaysia, syarikat rokok tidak boleh menaja apa-apa. Tapi di Indonesia mereka penaja besar untuk pelbagai acara. Bagaimana kalian menyikapi hal ini? Adakah lagu Smoking Kills kalian menjadi jurubicaranya?

Lagu Smoking Kills dihasilkan ketika kita masih merokok. Kita berhenti kerana faktor kesihatan

Di Indonesia, ada pandangan mengatakan dasar yang anti kepada perokok dilihat menindas petani tembakau. Tetapi ada beberapa wilayah di Indonesia mulai ada perubahan. Maksudnya petani tembakau itu boleh berubah dari tembakau ke…

ke Ganja.. (ketawa)

Untuk petani, banyak juga orang mati gara-gara rokok. Kalau orang merokok berkata “aku menyelamatkan petani rokok” bermakna sama juga seperti membunuh banyak orang.

Sangat jelas sebenarnya kalau aku lihat kedudukan pemerintahan di sini. Sangat jelas. Jadi kedudukan pemerintahan itu, rokok tetap dihasilkan, (dalam masa sama) larangan juga dibuat… Yang penting larangan sudah ada, orang sudah tahu rokok itu membahayakan untuk diri sedangkan kalau dicekup permit rokok, berapa orang akan menganggur di Indonesia? Jadi larangan telah dibuat, rokok juga telah dibuat. Tinggal memilih untuk merokok atau tidak.

Boleh sentuh sedikit tentang penglibatan kalian dalam gerakan ONE DOLLAR FOR MUSIC. Aku melihat ONE DOLLAR FOR MUSIC dari segi ideanya agak brilliant maksudnya berjaya merakyat dengan memasuki sekolah-sekolah dan apakah peranan/pengaruh kalian dalam membela pemuzik?

Dari awal kita main muzik 2007, 2008, awalnya Nosstress tiada di sana, tapi dengan komposisi yang berbeda jadi dapat banyak ilmu tentang musik dan teman-teman juga yang sama pemikiran, sama seperti sekarang. Peranan kita sekarang ialah membantu setiap program-programnya untuk memberi workshop-workshop, memberikan bimbingan dan apa-apa yang perlu dibantu. Tetapi sebelum membimbing kita juga dibimbing dulu. Itu prosesnya. Dibimbing dan membimbing. Gerakan muzik di Bali, Indie-nya, terasa sekali. Di sini kita dapat pilihan pelbagai untuk buka fikiran. Ia memberikan warna yang berbeda dalam underground, muzik etnik, musik elektronik, semuanya berwarna. Dulu punk, metal, death metal, black metal, hardcore. Malah di kampung-kampung semua orang main muzik ini. Namun kini genre ini mulai perlahan.

Boleh ceritakan sedikit tentang ONE DOLLAR FOR MUSIC?

ONE DOLLAR FOR MUSIC adalah sebuah gerakan muzik, kalau selama ini gerakan muzik memang berhambakan pasar, sekarang kita fokuskan kepada pendidikan muzik. Muzik sebagai medium perubahan dan medium pendidikan.

Bagaimana kalian melihat keberagamaan secara umum di Bali dan secara umum di Indonesia. Maksudnya sekarang ini bagaimana? Masih dalam posisi baik atau buruk?

Tengah-tengah. Pembentukan manusia di Bali itu kan sepertinya pembentukan dari pemerintah, dikatakan orang Bali itu rajin, baik dan kerana itu juga dikatakan banyak pelancong datang.

Penguatan  identiti Bali pasca-bom 2002 dilihat semakin sangat kuat melalui Ajeg Bali, sedikit komentar?

Itu sebenarnya kalau aku lihat dari segi politik, ia usaha pemerintah. Politik wang. Usaha-usaha pemerintah yang mahu membentuk Bali ini sebagai pulau pelancongan. Jadi dengan itu ia membentuk orang-orangnya juga seperti itu. Tapi sekarang sudah banyak yang berfikiran lebih terbuka dalam erti sudah berani mengkritik  penguatan identiti yang dinilai mendiskriminasi.

Bali ke hadapan seperti apa?

Makin tamak orang Bali ini. Ertinya semakin terasa hingga Bali itu dijual (secara) perlahan-lahan. Dan kita lihat Kuta itu sudah sold. Bukan kepunyaan orang Bali lagi. Yang diterima itu pelancong asing, pelancong asing terutama berkulit putih di sana diterima dengan senyum lebar. Kalau kamu orang lokal bermain di sana, tidak. Sebab itu Kuta itu sudah sold. Kuta itu sudah milik pelabur. Ketamakan ini memang dipertahankan dan kalau dibiarkan berkembang seperti sekarang, Bali sold selama-lamanya. Bali dijual sudah.

Bagaimana kalian menanggapi pembodohan yang dicipta melalui sektor pelancongan dengan imej orang Bali yang dikatakan hidupnya nyaman?

Kok nyaman? Nyaman sudah lain arahnya dan bukan digerakkan oleh masyarakat Bali lagi tetapi oleh pelabur asing yang berkuasa. Jadi umumnya orang Bali ini sudah jadi hamba. Di mana di hotel orang Bali kerja di posisi atas? Tidak ada, jadi boneka saja.

Terima kasih kalian untuk masanya

Sama-sama, kami amat gembira sekali