Pidato untuk Hari Jadi Sastrawan Negara dan Profesor Emeritus Muhammad Haji Salleh; Penang, 14 April 2012.

Tak perlu saya uraikan panjang: hari ini saya mendapatkan kehormatan dan kebahagiaan sekaligus. Diundang untuk menyajikan sesuatu pada ulangtahun ke-70 seorang sastrawan terkemuka yang dihormati dalam masyarakat sastra Melayu di Malaysia, Singapura, dan Indonesia, berarti sebuah kepercayaan yang istimewa. Berada di tengah kegembiraan mendampingi Muhammad Haji Salleh di hari kelahiran beliau merupakan sebuah bonus, sebuah karunia tambahan, yang tak datang sembarang waktu.

Sebagai seorang yang satu generasi — saya lebih tua beberapa belas bulan — saya sadar, usia 70 tidak akan pernah datang buat kedua kalinya. Pada titik ini, ujung jalan di depan itu sudah tampak; tiap kali hari bertambah, kita pun kian mendekat ke sana.

Dan hari tak akan berulang. Saya selalu berpendapat bahwa kata ‘ulang tahun’ dalam bahasa Melayu-Indonesia untuk ‘birthday’ adalah sebuah kesalahan. Tanggal 26 Maret tidak berulang di kurun yang berbeda. Tiap tahun adalah tahun baru. Sebab itu sebuah ucapan jenaka dalam bahasa Inggris ada benarnya: ‘Birthdays are good for you; the more you have them, the longer you live.’

Dengan mengutip itu, saya ingin mengucapkan selamat kepada Muhammad Haji Salleh, seraya berdoa, semoga tahun baru ini setidaknya akan memberi cabaran dan kesempatan bagi beliau untuk melahirkan karya-karya yang cemerlang. Sebagaimana tahun-tahun sebelumnya.

Karena itulah dalam kesempatan ini saya tak akan sekedar mengenang buah tangan Muhammad Haji Salleh, seperti galibnya orang memperingati seorang yang usianya di atas setengah abad. Saya akan mengenang karya beliau, tetapi juga ingin mengembangkannya — sebagai tanda penghargaan saya kepada yang telah disumbangkannya kepada kesusastraan kita.

Demikianlah, dalam kesempatan ini saya memilih untuk berbicara tentang pantun — bentuk ungkapan sastra yang dikenal akrab baik di Malaysia maupun di Indonesia, yang berkat telaah Muhammad Haji Salleh yang original dan perseptif, bertambah jelas nilainya bagi kita.

Tidak mengherankan bila kita bukan saja mendapatkan pantun dalam permainan anak-anak. Kita juga menemukannya dalam karya penyair dan penulis lakon terkemuka. Pantun tak hanya mengutarakan pemikiran, tapi juga, seperti dikatakan Muhammad dalam eseinya, ‘Estetika Pantun Melayu’, ‘perasaan, kesenian dan perkelilingannya,’ dan semua itu ‘dikutip’ dalam ‘jumlah yang besar, rinci lagi dalam’.

Dengan petunjuk yang disebut dari telaah itu, saya akan mengambil dua pasal kearifan di antara sekian pasal lain yang saya anggap dapat dipetik dari pantun.

Pertama: Tentang Tafsir dan Khaosmos

Kita tahu, pantun tak akan lepas dari dua bagian kuatrin ini: yang pertama ‘sampiran’ (atau ‘pembayang’) dan yang kedua ‘isi’ (‘maksud’).

Muhammad Haji Salleh telah meninjau dengan analisis yang peka dan mendalam apa yang terkandung dalam kedua bagian itu; saya tak akan mengulangi semuanya. Saya hanya ingin mengambil satu segi: kontras antara bagian ‘pembayang’ dan bagian ‘maksud’. Bagian pertama pantun, kata beliau, mengandung ‘goncangan citra surrealistik’; bagian ‘maksud’ mengungkapkan ‘kesan penenang’.

Pucuk pauh delima batu
Anak sembilang di tapak tangan;
Sungguh jauh di negeri satu,
Hilang di mata di hati jangan

Menyebut ‘goncangan citra surrealistik’ tepat sekali buat dua kalimat awal tadi. Kita tak akan pernah dengan persis menemukan hubungan yang masuk akal antara ‘pucuk pauh’ dan ‘delima batu’, apalagi kemudian ditambah, ‘anak sembilang di tapak tangan’. Masing-masing mengesankan sebuah benda atau imaji (citra) yang terlepas sendiri. Mengikuti Muhammad Haji Salleh, tapi dengan rumusan yang sedikit berbeda, saya akan mengatakan, dalam ‘sampiran’ atau ‘pembayang’ itu kita bersua dengan sejenis khaos.

Lebih jelas lagi tentang itu adalah yang kita dapatkan dalam Kapai-Kapai, lakon Arifin C. Noer yang terkenal itu. Ia menggunakan elemen khaos dalam ‘pembayang’ itu dengan lebih kentara, ketika dua perannya berdialog dengan pantun:

Pepaya bunting isinya setan
Dimakan dukun dari Sumedang
Perut aye bunting isinya intan
Ditimang sayang anak disayang

Pohon pisang tidak berduri
Pagar disusun oleh rembulan
Mohon abang lahir si putri
Biar disayang setiap kenalan.

Tapi seperti tampak di sana, setelah ‘pepaya bunting isinya setan’ dan ‘pagar disusun oleh rembulan’, segera menyusul dua baris bagian ‘maksud’ atau ‘isi’ untuk menyampaikan sesuatu yang lain. Dalam kata-kata Muhammad Haji Salleh, itu adalah sesuatu yang ‘menenangkan fikiran kita.’ Walhasil, setelah ‘guncangan citra surrealistik’ yang ‘khaotik’, kita masuk ke dalam sebuah kosmos, sebuah tata yang tenang. Di sini, hubungan antara kata lebih langsung membentuk makna.

Muhammad Haji Salleh mengatakan, dalam pantun ada keadaan ‘samukur’ yang ibarat ‘dua bahagian kertas yang boleh dilipat.’ Tapi mungkin kita juga dapat melihat hubungan antara ‘sampiran’ dan ‘isi’ sebagai sebuah dialektika. Maksud saya, sebuah proses pertentangan atau kontras yang akhirnya membuahkan ‘tempuk-junjung’, (terjemahan saya atas pengertian yang dalam bahasa Jerman disebut Aufhebung, atau dalam bahasa Inggris sublation). Dengan kata lain, tempuknya kedua anasir itu — ‘sampiran’ dan ‘isi’ — akhirnya menjunjung sesuatu yang baru.

James Joyce, dalam Finnegan’s Wake menyebutnya chaosmos, perpaduan antara ‘khaos’ dan ‘kosmos’. Di sana yang tak beraturan, yang liar dan tak terduga, campuh dengan sebuah tata, sebuah tertib, sebuah ketenangan.

Tentu saja harus segera ditambahkan: sebenarnya, tak ada yang mutlak. Jika kita dengarkan pantun sebagai sebuah bangunan yang satu, sebagai Gestalt, kita akan merasa bahwa dua bait ‘pembayang’ itu tak seluruhnya ‘khaotik’. Muhammad Haji Salleh menyebut adanya ‘kod-pembayang’ yang tak jarang terasa kuat di dua kalimat itu. Seperti dikatakan Za’ba, yang dikutip Muhammad Haji Salleh, dua baris pertama itu mengandung ‘tujuan yang dimaksudkan’. Dengan catatan, tujuan itu ‘telah ada terbayang di situ, tetapi tiada terang, seolah-olah sengaja ditudung…’

Dari analisis Za’ba kita akan menerima bahwa kata ‘pembayang’ memang tepat sekali — lebih tepat ketimbang kata ‘sampiran’. ‘Pembayang’ menyarankan adanya hubungan pengaruh yang wajar, sedangkan ‘sampiran’, mengesankan sebuah ornamen yang aksidental.

Boleh juga diduga bahwa setidaknya kedua baris ‘pembayang’ itu memberi peluang bagi pendengar/pembaca pantun untuk merasa adanya sebuah makna, sebuah ‘kod’ — walaupun mungkin ‘kod’ itu sebenarnya tak dimaksudkan oleh si penggubah pantun. Bagaimana pun juga, ada tata yang menyelinap di dalam khaos yang hadir dalam dua baris pertama itu:

Kembang diuca balik beroleh
Tambang garam di dalam sekoci
Dipandang sahaja diambil tak boleh,
Bertambah geram di dalam hati

Sebagaimana galibnya, dan sudah pula kita singgung di atas, dalam dua kalimat pertama, kita seakan-akan diberi sebuah teka-teki dengan kata-kata yang makna semantiknya tak padu (koheren). Apalagi bila kita tak mengerti apa arti kata ‘diuca,’ misalnya. Tapi terasa, baris-baris itu menginterupsi ketidak-paduannya sendiri dengan sebuah metrum yang rancak: jumlah suku kata kedua frase itu sejajar. Atau khaos yang kita rasakan dalam paduan imaji-imaji dalam ‘pembayang’ dipadukan, menjadi terarah, berkat permainan asonansi dan aliterasi.

Meskipun demikian, dialektika antara khaos dan kosmos itu tetap, dan tak pernah usai. Tempuk-junjung yang tercapai, khaosmos itu, tak pernah stabil. Muhammad Haji Salleh menyebut dalam komposisi pantun tersirat teknik ‘ganggu-dan-tenangkan’. Saya ingin menambahkan bahwa khaos yang meng-‘ganggu’ selamanya seperti menyusup dan membuat tata yang menenangkan itu guyah. ‘Pembayang’ yang mengandung sesuatu yang ‘ditudung’ itu tak akan uzur sehabis ‘maksud’ pantun itu muncul dan dikomunikasikan. Itu sebabnya sebuah pantun akan dikenang bukan hanya karena maknanya. Sebuah pantun hidup terus justru karena ia lekat dengan ‘pembayang’ yang seakan-akan tak mempedulikan makna.

Dari situlah kita boleh menelaah lebih jauh. Pantun adalah sebuah gejala bahasa yang pra-diskursif: manusia, yang tak hanya menggerakkan bahasa tetapi juga digerakkan bahasa, tak pernah berada dalam ekspresi dan komunikasi verbal yang sepenuhnya dibangun oleh makna yang jernih dan persis. Ego cogito, ‘aku-yang seutuhnya-dalam-keadaan-berpikir,’ tak pernah terjadi. Impian Descartes untuk mencapai gagasan yang clair et distinct tak akan pernah sampai.

Dalam Yang Indah, Berfaedah dan Kamal, Sejarah Sastra Melayu dalam Abad 7-19, V.I. Braginsky mencoba merekonstruksi kaidah-kaidah penciptaan sastra dalam teks-teks Melayu Klasik. Ia menyimpulkan bahwa bagi teks-teks ini peran ‘akal’ sangat penting. ‘Akal’ itu pula yang mengendalikan ‘citra-citra’ sesuai arahannya.

Braginsky mungkin sekali benar — tapi ia tak berbicara tentang pantun. Ia berbicara tentang syair dan hikayat. Pada hemat saya, yang membedakan pantun dari syair adalah intensitas dorongan (impuls) puitik yang lebih kuat pada pantun — dorongan yang tak dikendalikan akal, bahkan lebih dekat ke bawah sadar, yang oleh Kristeva disebut ‘le sémiotique‘. Dorongan itulah yang menggerakkan ritme, dan ritme itulah yang, dalam baris-baris pantun, membentuk rentak, seperti beat dalam musik, yang diterjemahkan dalam metrum. Dorongan puitik itu pula yang melahirkan kecenderungan ‘surrealistik’ kalimat-kalimatnya.

Dalam menguraikan kaidah sastra Melayu Klasik itu, Braginsky tak menyebut pengaruh pandangan Yunani (melalui Aristoteles dan Plato) dalam risalah-risalah Timur Tengah (Islam) yang jadi sumber kaidah-kaidah itu — sebuah pandangan yang pada dasarnya tak meletakkan puisi sebagai sesuatu yang mandiri. Puisi, dalam pandangan itu, termasuk pandangan Abd al-Qadr al-Jurnani, hanya varian dari pemikiran. Sebagai demikian, di dalamnya kata dianggap sepenuhnya konsep.

Susunan kata lebih dilihat sebagai lafz yang mematuhi makna, dan makna itu ditentukan akal. Makna (ma’ani) adalah ‘penguasa kata yang sebenarnya’, tulis Braginsky mengikuti al-Jurjani.

Al-Jurjani melihat garis lurus antara akal, makna, dan kata. Derrida akan menyebutnya ‘logosentris’. Dalam pandangan seperti ini, kata dianggap sepenuhnya diisi makna yang stabil, berlaku tetap. Anggapan ini tak selamanya benar. Setidaknya kaidah al-Jurjani tak berlaku untuk pantun. Pantun tak seutuhnya melalui jalan lurus yang berangkat dari akal ke makna. Pantun berangkat dari pengalaman yang kongkrit, bukan dari alam pikiran yang bersih dari persentuhan dengan dunia.

Dengan pengalaman dalam dunia kehidupan itu, bahasa pantun mencerminkan percakapan yang hidup: percakapan dengan metafora. Metafora, berbeda dari konsep, tak menawarkan makna yang sepenuhnya solid. Makna itu bergeser dalam waktu. Maka dialog antar manusia tak pernah berakhir. Tapi dialog yang tak pernah berakhir itu tak dirasakan sebagai sesuatu yang itu-itu juga — karena para pengujar jawab menjawab, sambut menyambut, dari dalam posisi yang tiap kali berubah, tiap kali berbeda.

Itu sebabnya belajar dari pantun kita tahu, pertemuan antar manusia tak berlangsung dengan bahasa di dataran yang abstrak, bahasa dengan kepastian konsep-konsep. Belajar dari pantun kita tahu, di dunia kehidupan, manusia mampu melampaui aku-nya yang sendiri — tapi bukan dengan kapasitas intelektualnya.

Mari kita dengarkan pantun ini:

Dari ladang mandi di gurun
Mandi berlimau bunga lada
Hari petang matahari turun
Dagang berurai air mata.

Kita tak kenal siapa perantau yang menangis itu. Mungkin si dia, mungkin anda, atau saya. Di sini, suasana hati itu sesuatu yang kongkrit tapi sekaligus universal. Tampaknya hanya dengan empati, dengan Einfuhlung, kita dapat memahami itu — ketika kita ikut merasakan kesedihan itu. Hanya dengan keterbukaan hati dan fikiran untuk ikut merasakan apa yang dirasakannya kita dapat menjangkau orang lain.

 

Halaman: 1 2

Abd al-Qadr al-Jurnan Alfred North Whitehead Aristoteles Derrida Fauconnier Goenawan Mohamad James Joyce Julia Kristeva Karl Marx Mandailing Marleau-Ponty Muhammad Haji Salleh Pantun Plato Sutardji Calzoum Bachri Tagore V.I. Braginsky Walter Ong Za'aba

Tinggalkan Balasan

Alamat e-mel anda tidak akan disiarkan. Medan diperlukan ditanda dengan *

Cancel Kirim Ulasan