Tak pernah terpikir oleh saya untuk berkunjung ke sana—ke Recoleta. Kalau masih ada waktu, saya hanya akan mendatangi satu-dua museum. Atau menyusuri kota lagi, tepatnya bagian-bagiannya yang sudah saya jelajahi, namun yang masih “mengganggu” hati saya dalam dua-tiga hari sebelumnya—misalnya saja Avenida Corrientes, Palermo dan San Telmo. Kota macam apakah ini—yang seringkali terasa sebagai gema-bentuk dari Paris dan Madrid? Kenapa ia bisa memupuk Borges dan Cortázar, misalnya?

Udara di akhir musim panas di penghujung April 2007 itu terasa agak dingin. Saya bangun pagi-pagi, merapikan isi dua koper-geret saya, dan menutupnya. Saya masih punya waktu kurang lebih 8-9 jam sebelum terbang dengan Aerolineas Argentinas ke Madrid. Seusai sarapan pagi, saya tahu bahwa hari itu saya bisa mengunjungi Museo Nacional de Bellas Artes dan Museo de Arte Latinoamericano de Buenos Aires—keduanya berada di bagian timur-tenggara kota, dan masuk-akal jaraknya satu sama lain—sebelum melaju ke lapangan terbang Ezeiza pada petang harinya.

Dari hotel saya di Viamonte saya berjalan kaki cepat-cepat ke Avenida Callao, singgah di sebuah kafe yang merangkap toko musik, dan membeli sejumlah CD tango lama dan tango baru. Kemudian taksi membawa saya ke Museo Nacional de Bellas Artes di Avenida del Libertador. Ternyata saya tiba terlalu awal; museum baru dibuka pada tengah hari di hari Minggu itu. Membuka peta, saya pun tahu bahwa Recoleta tak jauh letaknya dalam jarak jalan kaki. Jadi kenapa tak melesat ke sana?

Saya segera bergegas ke arah barat laut, menyeberangi dua jalan raya besar, Avenida del Libertador dan Avenida Pueyrredon, melintasi dua taman umum yang luas, dan sampai di kompleks pemakaman itu. Saya agak tersesat, karena Recoleta tersembunyi di balik sebuah kompleks bangunan besar yang berlaku sebagai “pusat budaya” sekaligus pusat perbelanjaan.

Recoleta saya dengar mula-mula beberapa tahun lalu dari sebuah sajak Jorge Luis Borges dengan judul itu (inilah tempat di mana ia, ketika masih sangat muda, menemui “noble certainties of dust” dan “the place of my ashes”; saya kutip terjemahan Inggris Stephen Kessler). Di Santa Cruz de la Sierra, Bolivia, beberapa hari sebelumnya, dua teman Argentina menyebut-nyebut tempat itu dan menganjurkan saya ke datang sana. Itu tontonan yang ganjil, kata mereka. Tapi saya segera lupa. Sebab, saya kira, banyak tempat lain yang penting buat dikunjungi.

Sepintas, Recoleta tampak seperti kompleks pemakaman di Eropa Barat pada umumnya. Paling tidak saya pernah melihat yang serupa di sana. Pintu gerbangnya terlalu megah. Jalan-jalan di dalamnya sangat lebar, sekitar lima meter. Jalan masuk dari pintu gerbang bahkan lebih lebar lagi, dengan jajaran pohon sipres tinggi tua di kanan-kirinya. Dengan sendirinya, kelebaran itu membuat kompleks pekuburan memang hadir untuk dilihat, diperhatikan, bahkan didengar. Cericit burung dan desir angin sangat terasa. Ini adalah kompleks perumahan untuk orang-orang mati. Ya, mereka berumah, bukan berkubur. Warga Argentina punya kebiasaan mengenang tokoh-tokoh mereka bukan pada hari kelahiran mereka, namun pada hari kematian mereka.

Recoleta memang bukan pe(r)makaman dalam arti kata biasa. Tepatnya, ia adalah himpunan mausoleum. Setiap mausoleum dimiliki satu keluarga. Dan hanya keluarga-keluarga kaya-terkemuka yang bisa membeli kapling di sana. (Tentu, di kompleks mahaluas yang dibuka pada 1822 itu, tak tersedia kapling lagi kini.) Keluarga-keluarga borjuis (dalam arti sesungguhnya, bukan “borju” seperti diuar-uarkan di Jakarta). Dan bukan kebetulan pula mereka, sebagian mereka, punya peran penting dalam sejarah Argentina. Misalnya saja keluarga-keluarga Sarmiento dan Mitre (yang memberikan dua presiden Argentina), dan keluarga Borges (yang melahirkan Jorge Luis; tapi si fabulis wafat dan dikuburkan di Geneva). Juan Domingo Peron tidak dimakamkan di La Recoleta, tapi di Chacarita, yakni pemakaman lain di Buenos Aires “yang lebih rendah derajatnya,” tersebab asal-usul keluarganya. Tapi Eva (“Evita”) Peron ada di La Recoleta, meski ia “tak layak” berada di situ (ia berasal dari kelas bawah)—mungkin lantaran kenekadan para pendukungnya yang bersikeras menaikkan kelas sosialnya.

Setiap mausoleum di Recoleta adalah bangunan neoklasik mini terbuat dari pualam atau granit; sebagian dengan patung besar Kristus, Maria, atau malaikat bersayap. Seluruh isi mausoleum itu bisa ditengok dengan leluasa dari luar, dari pagar besi setinggi pinggang. Dengan mata “menembus” jeruji pintu besi yang tergembok, kita dapat melihat apa yang ada di dalamnya: peti-peti mati yang bersaf-saf ke atas atau ke samping. Nama-nama si mati bisa terbaca jelas pada peti-peti yang terbuat dari kayu kokoh kekar itu (oak, mahoni, eboni, misalnya). Pada lantai kadang-kadang terlihat lubang dan tangga ke ruang bawah tanah, yang mestinya tempat penyimpanan peti-peti mati juga. Berdiri di depan mausoleum semacam ini saya yakin bahwa mereka, keluarga-keluarga itu, ingin mengalami kejayaan bukan hanya dalam kehidupan, tapi juga dalam kematian. Mereka hendak memperlihatkan, bahwa si mati masih bersama kita, bersama karyanya di dunia ini. Si mati tidak berada di bawah-tanah, tapi masih di atas tanah, seperti kita yang hidup.

(Pernah saya kunjungi pekuburan-mausoleum semacam ini di Italia Selatan. Tapi di sana tidak ada peti mati terlihat, karena semuanya sudah “dikuburkan”—memang tidak di bawah tanah, tapi di atas tanah. Peti-peti mati itu dimasukkan ke semacam laci, yang dibenamkan ke tembok dan dikunci dengan dinding tembok itu sendiri.)

Sejumlah mausoleum di Recoleta terawat dengan sangat baik. Ada karangan kembang di situ, yang masih segar dan yang sudah layu, bukti bahwa si rumah baru dikunjungi—tepatnya dimasuki—oleh sanak saudara atau kerabat (yang tentulah memiliki kunci gembok). Ada juga peti-peti mati yang tampak masih sangat segar dan mengilap, seperti baru di tahun-tahun kemarin diletakkan di sana. Namun sejumlah mausoleum lain tampak sangat berdebu, penuh sawang, bahkan tertutup oleh selimut abu yang tebal; potret para almarhum di situ terpasang miring, hampir jatuh, bahkan pecah kaca piguranya. Sebagian lain lagi sedang diperbaiki oleh para tukang; mereka santai-santai saja membersihkan dinding, langit-langit, peti mati, meja alas peti mati, altar kecil, atau tempat lilin; ada juga yang merokok atau bercanda dengan rekan kerjanya.

Peti-peti mati yang terlihat—tepatnya yang disusun pada rak-rak untuk bisa dipandang oleh pengunjung biasa seperti saya atau disentuh oleh anggota keluarga yang bersangkutan—adalah hunian para jenazah dari generasi terbaru sang keluarga. Mereka adalah pendatang baru di Recoleta. Adapun para pendatang lama, yakni generasi terdahulu dari sang keluarga, bersama peti-peti mereka, sudah dibaringkan di ruang bawah tanah.

Belum pernah saya melihat begitu banyak peti mati dalam waktu sesingkat itu. Baru sekali ini saya menyaksikan makam menjadi rumah, rumah sungguhan, bukan cuma “tempat peristirahatan terakhir,” di mana si mati masih seperti berusaha menatap mereka yang hidup.

Recoleta memberi jeda yang tepat—atau kebetulan yang memberkati—sebelum saya memasuki Museo Nacional de Bellas Artes, di mana saya menatap, antara lain, sejarah seni rupa Argentina sejak Prilidiano Pueyrredon dan Carlos Morrel sampai Nicolás García Urriburu dan Guillermo Kuitca.

Saya sendiri tidak tahu kenapa saya, jika cukup punya waktu, “suka”—atau tertarik-tarik untuk—mengunjungi pemakaman jika berada di mancanegara. Mungkin teman saya di Iowa City selama musim gugur 2007, Chris Chrissopoulos, penulis Yunani yang dengan bersepeda suka mengunjungi pemakaman tua di pinggir utara kota itu, menjawab dengan tepat, “Karena di situ kita tahu bahwa posisi vertikal itu cuma sementara, sementara posisi horisontal itu selama-lamanya.” Ia pasti tak tahu bahwa kompleks pemakaman di Indonesia sudah lama direndahkan mutunya oleh cerita hantu pocong. Itulah sebabnya, antara lain, sekarang saya kisahkan lagi Recoleta.

 

Nirwan Dewanto, penyair dari Indonesia. Beliau telah menerbitkan dua buah antologi puisi, Jantung Lebah Ratu dan Buli-buli Kaki Lima.

Argentina Avenida Corrientes Bolivia Carlos Morrel Chris Chrissopoulos Cortázar Guillermo Kuitca Jorge Luis Borges Madrid Nicolás García Urriburu Palermo Paris Prilidiano Pueyrredon San Telmo Santa Cruz de la Sierra Stephen Kessler

Tinggalkan Balasan

Alamat e-mel anda tidak akan disiarkan. Medan diperlukan ditanda dengan *

Cancel Kirim Ulasan