© Life Archives

Dahaga

–kepada Andy Warhol

Kau mencuri dari lidahku
Merah muda belia
Atau putih semenjana
Untuk melunakkan coklatmu.

Kau hidup berkalang es
Untuk menyelamatkan aku
Dari kentang goreng Prancis
Pencengkeram urat leherku.

Betapa daging bakar Argentina
Gagal (lagi) berjodoh denganmu
Tapi bakmi kerinting di Shanghai
Bisa masuk ke perangkapmu.

Meski (masih) tumbuh dewasa
Oleh kopi pahit Sidikalang
Lidahku belajar berkhianat juga
Oleh rasa jejarum manismu.

Kau rajin mencabuti akarku
Supaya aku membubung tinggi
Ketika puisi ini kering bertanya
Coklat itu darahmu atau hujanmu.

Tapi (diam-diam) masukilah aku
Seperti sayap dari Timbuktu
Jadikanlah puisi ini ringan belaka
Seperti kaki gila pemain bola

Namamu Coca Cola, bukan?

(2009)

 

Hujan di Monona

Mengelabui kaca jendela, tangan hujan.
Tertinggal di ranting Mapel, rambut hujan.
Mengulum tampuk peoni, mulut hujan.
Terlipat di pinggir danau, jubah hujan.
Mengiris roti panjang malam, pisau hujan.
Terdampar ke cermin subuh, mata hujan.
Menjemput kaki kelinci, sepatu hujan.
Terantuk kalimat lebat, titik hujan.

(2009)

 

Tulisan pada Nisan

Kuucapkan selamat tinggal kepadanya,
Meski aku tetap terjatuh ke haribaannya.

Kukenakan pakaian panjang putih. Supaya ia
Leluasa menodaiku. Mungkin menghitamkanku.

Masih ada bercak darah kubawa, ternyata.
Ia berkata seseorang menembakku di Gaza.

Ia bertanya kenapa aku bergegas ke mari.
Kujawab tidak. Sudah kulupakan matahari,

Sebab terang bukan milikku dan percayalah
Namaku telanjur terpahat di batu gamping ini.

Ia bumi, bukan? Aku belajar mencintainya?
Ketika kalian berebut wajahnya nun di atasku.

(2010)