Pacu Jawi, acara tradisi di Sumatera Barat setelah musim menuai. © Rarindra Prakarsa

RARINDRA PRAKARSA, adalah nama besar dalam dunia fotografi. Gambar-gambarnya sudah cukup untuk berbicara. Tak perlu kata lagi. Mungkin benar tafsirannya, bahawa kita lebih mudah memandang berbanding membaca. Maka, gambar adalah jawapannya. Namun, meski memiliki nama besar, jurugambar dari Indonesia ini tak lokek untuk berbagi pengetahuan. Sangat ramah. Juga baik. AQIL FITHRI, yang kebetulan bersamanya dalam tempoh penggambaran di Bromo tanggal 20-22 September 2011, telah mengambil kesempatan untuk mewawancaranya. Tapi, wawancara ini hanya saja terjadi dan lengkap lewat mel-e. Dari wawancara ini, kita dapat menyaksikan betapa dunia fotografi ini sebenarnya tak kalah menariknya. Sebuah dunia yang sangat lapang untuk kita bereksperimen. Sebuah dunia yang sangat indah untuk kita menikmatinya. Kerana itu, lewat fotografi kita dapat saja mengecilkan dunia, dengan memuatkannya hanya dalam imaginasi kita. Mungkin itulah yang dikatakan, bahawa fotografi adalah antara jalan-pintas untuk kita memiliki dunia, setidaknya dunia kita sendiri.

Bagaimana anda mula-mula berkenalan dengan fotografi?

Saya mula-mula berkenalan masa kuliah di Politeknik Universitas Indonesia, di Fakultas Seni dan Grafik. Rasa-rasa masa itu saya senang sekali ambil gambar dan develop in dark room.

Benarkah bidang fotografi ini sangat mahal. Anda tentunya bukan punya wang yang banyak saat memulakan minat fotografi ini, bukan?

Tidak juga. Masa awal saya meminjam kamera daripada dosen saya. Masih ingat kamera itu adalah Fujica SLR. Saya bekerja dulu selama satu tahun, baru kemudian dapat beli SLR. SLR pertama saya adalah Nikon FM2. Itu kamera yang cukup OK juga masa itu. Saya rasa yang terpenting dalam memulai fotografi adalah dengan alat yang sederhana dapat gambar yang cantik. Jika itu sudah dapat, maka terus akan berkembangan alat kita sampai kita sudah mulai pro. Jangan kita bermula dari suatu yang besar dengan hasil yang kecil.

Portret seekor ayam jantan dan seorang tua. © Rarindra Prakarsa

Kamera pertama anda adalah Nikon. Justeru, sejak kapan anda menukarnya kepada Canon? Dan, mengapa anda menukarnya kepada Canon? Apa yang istimewanya Canon?

Nikon atau Canon adalah dua brand terkenal. Tidak ada yang berbeda banyak dari hasil kedua jenama ini. Yang berbeda hanya feature dan bagaimana mengoperasikannya. Saya bermula ke Canon sejak digital. Dan sudah terbiasa dengan operationalnya. Jika ada jenama lain yang bagi saya lebih menyelesakan…. maka saya tidak keberatan untuk menukarnya! Sebab yang terpenting bukan jenama. Tapi, your imagination.

Mengapa terus menggunakan tali Nikon hingga sekarang, meskipun kamera anda adalah Canon?

Tali Nikon adalah tali dari kamera pertama saya: Nikon FM2… sekadar memorabilia.

Apakah makna gambar pada anda?

Pada saya, makna pertama untuk gambar itu adalah dokumentasi. Itu nilai terpenting. Saya beli kamera dulu karena itu setelah lihat-lihat gambar lama keluarga besar saya. Nilai lain adalah ekspresi seni. Dan nilai lebih jauh lagi adalah fotografi komersial.

Menampi beras © Rarindra Prakarsa

Bagaimana untuk kita menghasilkan gambar yang menarik? Apakah anda punya cara-cara yang boleh berbagi dengan kami?

Jika bertanya bagaimana gambar menarik? Tentu sekali gambar sebagai alat seni. Apapun seni yang terpenting adalah imaginasi, naluri seni itu sendiri. Lepas itu: asas fotografi ialah sehingga orang lain dapat menerima, dan bersetuju bahawa gambar kita sudah memenuhi kaidah umum sebagai gambar yang cantik.

Salah satu kesulitan fotografer yang baru ialah untuk mendapatkan dedahan yang tepat (correct exposure)? Bagaimana anda melakukannya?

Pelajari buku panduan. Lepas itu ambil gambar, ambil gambar dan ambil gambar.

Kamera biasanya punya sama ada A (aperture priority) atau S (shutter priority)? Bagaimana anda menggunakannya? Atau, anda menggunakan M (manual) sepenuhnya?

A, tentu saja saat ketika depth of field(DOF). Dan, S berkaitan dengan gerakan, dan pada saat kondisi cahaya merata/normal. Saat kondisi kontras cahaya pula, kita pakai M.

Salah simbah © Rarindra Prakarsa

Di waktu siang hari yang terang, sebetulnya bagaimana caranya untuk kita killing background (supaya latarnya jadi gelap), tapi objeknya tetap cerah?

Kalau subjek di daerah yang terang, boleh kita pakai reflector, atau boleh juga guna flash.

Gambar-gambar anda banyak mengenai kanak-kanak dan pendesaan, dengan seni melukis cahaya yang menarik sekali? Tapi mengapa anda meminati kanak-kanak sebagai subjek anda?

Saya seolah kembali kepada zaman kanak-kanak. Saya bahagia masa kanak-kanak. Dan, saya sangat yakin dan mengimbau kepada orang tua: bahawa Masa kanak-kanak adalah masa bermain, bukan dipaksa untuk terus belajar. Tentu saja, ini dengan pengawasan orang tua yang bijak.  Saya sendiri adalah orang kota. Saya lahir dan besar di Jakarta. Tapi pedesaan adalah tempat yang natural, yang akan membuat kanak-kanak terlihat senang pada lingkungannya.

Mungkin gaya fotografi anda kini telah mula ditiru. Apakah anda akan terus dengan gaya yang telah identik dengan anda ini?

Tidak masalah dengan ditiru sebab itu artinya gambar saya dihargai. Tapi yang terburuk adalah jika ada yang klaim bahawa itu adalah gaya seseorang. Pernah terjadi dan sangat menyebalkan.

Apa pandangan anda tentang flash?

Flash adalah satu hal yang dapat menolong kita lebih banyak menghasilkan gambar pada situasi apapun.

Mengapa waktu fajar dan senja begitu bermakna untuk anda sebagai fotographer?

Ya tentu, gambar yang terhasil takkan rata (flat)!

Apakah gambar yang anda paling suka dan kenangi? Di mana anda mengambilnya? Dan mengapa gambar itu istimewa pada anda?

Saya tidak ada gambar yang benar-benar suka dan tidak suka. Yang saya hasilkan adalah yang membuat saya senang. Semua bermakna.

Kini banyak yang menggunakan suntingan untuk menghasilkan gambar yang lebih baik. Tapi, dalam hal ini, sejauh mana Adobe Photoshop membantu anda?

Suntingan adalah tindakan terakhir, dan ‘sunnah’. Photoshop tidak hasilkan gambar yang cantik hanya dari gambar yang biasa-biasa saja. Tapi gambar cantik akan jadi gambar yang ‘sangat cantik’ dengan Photoshop.

Apa pandangan anda mengenai HDR, dll lain-lain kaedah suntingan dalam fotografi? Apakah anda berminat dengan HDR?

Tidak terlalu suka dengan HDR. Tapi mungkin hal-hal tertentu itu berguna sebagai sebuah solusi.

Mengapakah proses mengambil gambar yang berkualiti itu lebih penting dari faktor suntingan? Atau kedua-duanya penting?

Ya, gambar adalah dokumentasi, komunikasi visual, seni. Suntingan? Hanyalah alat, untuk mengemasnya belaka.

Tuan dan kudanya. © Rarindra Prakarsa

Bilakah pertama kali anda ke Malaysia? Dan, sebagai fotografer, bagaimana anda melihat Malaysia? Apakah ada sesuatu subjek yang menggoda di Malaysia dari perspektif anda sebagai fotografer?

Kali pertama saya datang justru untuk menjadi peserta bengkel. Tapi bukan bengkel fotografi. Kedua kali saya menjadi pembicara bengkel di Kuala Lumpur pada tahun 2008. Malaysiaadalah negara serumpun, dengan bahasa yang 60% sama dengan Indonesia. Maka karena itu saya sering berbagi di Malaysia. Undangan untuk berbagi ini datang dari mana-mana negara. Tapi, bicara English saya benar-benar lemah. Pada saya, Malaysia tentu juga punya beberapa tempat menarik. Tapi, Indonesia dengan tempat yang lebih luas dan beragam budaya, bagi saya adalah tempat yang paling menarik di dunia.

Apakah ada beda antara permandangan untuk fotografi antara Malaysia dengan Indonesia? Sepertinya Indonesia lebih natural ketimbang Malaysia?

Tidak ada…sama saja di negara-negara manapun. Dengan peralihan analog ke digital, semuanya bisa dicoba-coba.

Menurut anda, apakah permandangan atau objek fotografi di Indonesia yang terindah?

Banyak sekali. Semua pulau berbeda. Unik dengan budaya dan alamnya.

Bagi kalangan fotografer, nama anda cukup terkenal. Bukan saja di Indonesia, tapi juga di Malaysia dan seluruh dunia. Apa pandangan anda pula mengenai perkembangan dunia fotografi di Indonesia? Di Malaysia pula, kalau anda punya pandangan tertentu?

Fotografi Indonesiasudah maju pesat. Orang yang baru saja pegang kamera satu tahun sudah jadi pro, dua tahun sudah jadi guru. Kalau tiga tahun sudah jadi maestro (ketawa).

Apakah pandangan anda secara khusus mengenai Bromo? Sudah berapa kali anda ke sana?

Bromo satu tempat tercantik di dunia. Di sana, lengkap dari semua perspektif fotografi yang dapat diambil, dan sangat unik.

Apa tujuan anda mengadakan acara fotografi Bromo-Bali ini? Walhal anda boleh saja untuk mengambil foto sendirian? Mungkinkah ada istimewanya mengambil gambar secara berkumpulan?

Saya senang sekali perkenalkan rakan-rakan fotografer dari seluruh dunia untuk berkunjung ke Indonesia. Saya menikmati hal ini.

Rarindra Prakarsa

Apa anda punya projek fotografi tersendiri, untuk Indonesia barangkali? Mungkin anda mahu mengumpul wajah-wajah Indonesia dan dijadikan koleksi? Atau juga, mungkin anda mahu bikin buku fotografi anda sendiri?

Masa ini, belum befikir ke situ dulu. Menurut saya, internet sangat bagus dalam mendukung fotografi. Semua yang kuasai lewat internet akan menguasai dunia juga, termasuk untuk fotografi.

Ke mana tempat yang ingin sekali anda pergi, selain dari di Indonesia?

Asia, tentu sekali. Saya tidak ada minat ke luar Asia. Pada saya, India, China, Vietnam, Tibet adalah tempat-tempat eksotik.

Apakah yang selalu menjadi kepuasan anda dalam fotografi?

Saya senang… orang lain juga senang. Itu saja.

Siapa tokoh fotografi yang menarik minat anda, serta menjadi teladan pada anda dalam dunia fotografi ini?

Tidak ada. Saya cuma suka fotonya. Tapi bukan fotografernya. Tak ada photographer kegemaran.

Apakah pengalaman fotografi anda yang paling buruk?

Paling buruk adalah bila saya terlewat detik penting ketika membidik gambar. Juga persaingan dunia fotografi membuat dunia fotografi itu tidak nyaman lagi.

Apakah boleh fotografi menyumbang sesuatu untuk pemberdayaan, dan pembangunan masharakat dan negara?

Ya. Dunia pelancongan misalnya, dan masih banyak hal-hal yang lain lagi. Karena umumnya, orang senang melihat gambar daripada tulisan. Saya selalu berusaha untuk itu, untuk membuat orang ingin datang ke Indonesia.

Tidakkah anda mahu jadi fotografer sepenuh masa? Mungkin dengan sepenuh masa, anda lebih bebas?

Ya… tentu saja… slowly but surely saya harus menuju ke situ. Tapi persaingan sudah kian teruknya. Jadi, bayangan masa depannya tidak terlalu baik.

Apa pesan anda kepada mereka yang ingin menjadi fotografer?

Pesan saya: Tidak usah menjadi fotografer jika ingin kaya!