Alain Badiou © Eric Fougere/VIP Images/Corbis

Politik tak hadhir dengan begitu saja. Politik itu sentiasa menuntut representasi. Politik yang terputus dengan representasi –kalau dalam bahasa Juergen Habermas– adalah adalah politik yang kehilangan legitimasi. Tapi, yang kita mahu membicarakan di sini bukannya Habermas. Tapi lawannya, Alain Badiou. Filsuf kontemporer Perancis ini terkenal dengan wacana ontologi politik, dan cuba mempermasalahkan kembali hubungan antara premis-premis politik dewasa ini. Ini yang secara serius diungkapkan Badiou menerusi bukunya, Being and Events, sebuah buku tebal yang disusuli lagi dengan sekualnya, The Logic of Worlds. Soalnya, siapa yang mahu melihat pentingnya soal ontologi politik ini? Politikus mana yang berminat? Sulit untuk berharap, tatkala sebuah kekuasaan di tangan yang cuba melarikan diri (atau, memanipulasi) dari representasi. Maka, berharap pada kolektivisme itu barangkali mampu menyelamatkan kembali apa yang sesungguhnya menjadi cita-cita murni politik. Justeru, Maois selalu disalah ertikan. Justeru, MARTIN SURYAJAYA, yang merupakan didikan STF Driyarkara cuba menjernehkan kembali persoalan “ontologi politik” ini. Tentunya, ia banyak berkaca pada Badiou. Di sini, AQIL FITHRI telah berkesempatan menyorot buah-buah pemikirannya. Wawancara ini dijalankan secara lisan, ditranskripsi, dan disunting kembali oleh anak muda ini, yang dalam usianya secara menakjubkan telah menulis dua buah buku “Imanensi dan Transendensi,” dan “Alain Badiou dan Masa Depan Marxisme.”

Ontologi politik, adalah wacana yang sering terlupakan. Sebetulnya, apa yang dimaksudkan dengan ontologi politik?

Sejauh yang saya baca dari filsafat Perancis kontemporer —sepertimana yang dikembangkan oleh mereka— teori ontologi mereka berimplikasi secara langsung kepada pandangan politik mereka. Implikasi ini sehinggakan mereka mahu menggariskan suatu kritik terhadap representasi—yang mulanya merupakan konsep ontologis dari falsafah modern. Mithalnya mereka yang membicarakan soal ontologi politik ini sudah memaparkan dasar-dasar dari kritik atas logik demokrasi parlimenter. Menurut kalangan ini, sistem parlimenter itu sebetulnya didukung oleh klaim-klaim representasi dalam ontologi. Jadi ontologi dan politik itu bukanlah dua ranah yang berbeza. Kedua-duanya mesti diandaikan sebagai suatu kesatuan. Adanya sesuatu selalu bererti ada bersama yang lain dalam pengelompokan yang tertentu, dalam organisasi yang tertentu. Ertinya, “ada” bererti “ada-dalam-politik.”

Saya fikir, intuisi “ada” ini memang diungkapkan oleh Alain Badiou. Dalam beberapa karyanya, Badiou memunculkan kembali teori Marx tentang kesatuan antara teori dan praktik. Ini bererti antara tindakan dan fikiran itu tak ada beza sama sekali. Memang, ini juga adalah diskusi klasik, iaitu dari satu sisi, ada fikiran yang mengetahui, dan di satu sisi yang lain, ada materi yang diketahui. Tapi, Badiou sendiri pernah menyatakan bahawa tesis dasar filsafat adalah tesis dasar Parmenides. Ertinya bahawa antara Ada dan fikiran itu satu dan sama. Sebab itu, tak ada jarak antara keduanya itu. Nah, di situ juga Badiou memaksudkan kesatuan itu sebagai konsistensi dalam politik. Badiou di sini menyentuh mengenai pentingnya sikap dasar. Politik mestilah mempunyai sikap. Setiap politik yang emansipatoris sejati mestilah bermula dari aksiom atau postulat. Justru, ranah politik inilah yang berfungsi sebagai sikap dasar itu. Maka, orientasi yang mempunyai sikaplah yang selayaknya tampil berdebat tentang makna emansipasi.

Bagaimana untuk meletakkan Badiou dalam konteks dewasa ini?

Jadi, jelas bahawa politik mesti mengandaikan suatu sikap dasar itu. Ini sikap Badiou. Lalu, setiap kritik Badiou ini ternyata cocok dan kontekstual sekali dengan waktu sekarang. Sebab, dewasa ini kita lihat politik sepertinya kehilangan, atau persis tak mempunyai sikap dasar. Yang dimaksud sikap dasar ini adalah soal kerangka analisis atas situasi. Jadi politik yang bersikap dasar bererti politik yang berasaskan pada pemikiran. Dan sikap dasar ini, bagi Badiou, harus ilmiyah, tidak sekadar normatif. Dewasa ini, sebaleknya, politik jatuh pada moral dan itulah yang sebabkan kenapa dewasa ini banyak sekali tindakan politik yang mengatas-namakan moral: entah agama, entah ideologi etnik maupun entah “etika” kapitalisme (semangat pengejaran laba secara individu). Posisi Badiou berlawanan dengan reduksi politik pada moral macam itu. Baginya, politik mesti berdasar pada asumsi yang boleh diuji secara ilmiyah. Dengan cara itu, kita dapat memerangi fundamentalisme dalam berbagai bentuknya dewasa ini dan sungguh berfikir tentang emansipasi nyata.

Di mana secara tepat Badiou mengungkapkan hal ini?

Kalau tentang kritikan terhadap represantasi, itu Badiou tulis dalam bukunya Metapolitics. Juga ada tercatat dalam karya monumentalnya, Being and Event, itu. Kalau dalam Being and Event, aksiom atau sikap dasar itu dirumuskan secara ontologis-matematis, sementara dalam Metapolitics aksiom dirumuskan secara politis.

Apakah ada sisi ontologi politik yang lain, selain soal representasi yang dikritik Badiou?

Selain representasi? Badiou juga mengkritik logika mediasi, logic of mediation. Ini kerana representasi itu, bagi Badiou, adalah sama dengan mediasi. Ertinya, kritik Badiou ini mahu menunjukkan bahawa politik emansipatoris sejati tampak dalam penolakkannya pada mediasi. Ini maksudnya, kita kembali pada sumber inspirasi Marx mithalnya “masharakat tanpa kelas” di mana masharakat hadhir langsung tanpa representasi atau mediasi. Sebaleknya, dalam perspektif penguasa, masharakat yang kehadhiran elemennya tak “dihadhirkan kembali” atau distruktur-ulang ini tak bermakna. Dengan kata lain, dalam perspektif penguasa, representasi adalah perlu dan nescaya. Emansipasi atas situasi, kerana itu, bererti pengakhiran atas representasi. Kerana itu juga, sisi ontologi politik yang lain adalah pemikiran tentang presentasi yang terbebas dari representasi/mediasi. Hanya dalam erti itulah kita boleh bicara tentang demokrasi dalam erti yang paling utuh.

Tapi, bukankah “masharakat tanpa kelas” itu memang mashrakat yang jelas-jelas sudah tak punya representasi?

Tentu saja. Ertinya, mengapa saya menyebut Marx, itu kerana sikap dasar atau aksiom Marx adalah ide tentang presentasi murni, iaitu masharakat tanpa kelas. Jadi memang tak ada representasi di sana. Memang betul bahawa dalam sejarahnya ide “masharakat tanpa kelas” justeru terjebak dalam representasi. Tentu kita ingat tentang persoalan birokratisme Soviet Union dahulu. Dan, itu sebenarnya adalah kebalekan dari orientasi dasar Marx berkenaan dengan presentasi murni. Tetapi, kalau kita bicara Realpolitik, terkadang representasi tak boleh dihindari. Tentu kita tak pernah lihat masyarakat yang tertata tanpa birokrasi. Persoalannya adalah apakah struktur representasi itu tunduk pada presentasi dasarnya atau tidak: kalau ya, maka kita bicara tentang “masharakat tanpa kelas”. Tapi kalau tidak, maka kita bicara masharakat berkelas.

Martin Suryajaya © Aqil Fithri

Bagaimana sikap Heidegger dalam soal ontologi politik ini? Bahkan ada buku yang ditulis Pierre Bourdieu, The Political Ontology of Martin Heidegger.

Memang, ontologi politik boleh juga dilacak dari Heidegger, kerana sumber pemikiran falsafah Perancis kontemporer itu datangnya dari Heidegger. Salah satu mithalnya, komentar Heidegger di Perancis yang banyak berbicara soal ontologi politik, yang Jean-Luc Nancy secara tersirat membicarakan mengenai ontologi politik. Ia dengan Philippe Lacoue-Labarthe itu adalah berteman dan murid kepada Derrida, dan mereka sebenarnya turut terinspirasi dari Heidegger. Tapi, kemudiannya mereka merumuskan suatu ontologi politik sendiri.

Sikap Heidegger sendiri soal ontologi politik dapat kita lihat, mithalnya, dalam Introduction to Metaphysics.  Di bahagian awal buku itu Heidegger menulis bagaimana situasi filsafat kontemporer adalah tersepit di antara liberalisme Amerika dan komunisme Soviet Union. Lalu dia berbicara soal Takdir Bangsa Jerman yang akan membebaskan dunia dari dua bahaya itu melalui pemahaman yang baru atas Ada. Ertinya, di situ Heidegger melihat kesatuan antara ontologi (pemahaman atas Ada) dan politik (bangsa Jerman). Tapi pengertian Heidegger tentang ontologi politik ini bermasalah kerana pandangan ontologinya—bahawa manusia mesti bersikap pasif dengan membiarkan Ada memperlihatkan-dirinya tanpa campur tangan manusia—akan berimplikasi pada penghancuran politik itu sendiri: politik direduksi pada kepasifan, dengan kata lain, pada non-politik. Ertinya, dalam Heidegger ontologi justeru membatalkan politik, sejauh kita mengerti politik sebagai perkara emansipasi.

Bagaimana hubungan antara budaya dengan ontologi politik? Apakah bila adanya perubahan budaya, juga bermakna adanya perubahan ontologi politik?

Budaya adalah bagian dari apa yang ada. Oleh kerana itu, ontologi dalam erti yang luas juga merupakan teori tentang budaya, sepertimana ontologi juga merupakan teori tentang politik.  Hubungan antara budaya dan ontologi politik selalu disifatkan oleh kontinjensi (contingency), iaitu dalam kondisi yang selalu boleh berubah. Seperti pernah dikatakan oleh Louis Althusser, hubungan antara basis ontologis dan suprastruktur budaya adalah hubungan “overdeterminasi” (overdeterminacy). Pada dasarnya, situasi yang ada menentukan budaya (ontologi menentukan budaya), tetapi begitu budaya terbentuk maka budaya akan memiliki its own internal coherence. Dengan demikian, budaya bekerja dengan logikanya sendiri yang pada akhirnya juga menentukan situasi sebagai salah satu bahagian darinya. Tak ada hubungan sebab-akibat yang linear antara ontologi dan budaya, antara ontologi dan politik. Dan, justeru kerana itu kita boleh bicara tentang kesatuan ontologi-politik dan bukan dikotomi antara sebab dan akibat.

Selain representasi, apakah ada unsur lain yang membuktikan adanya ontologi dalam politik?

Selain representasi dan presentasi, hadhirnya pandangan ontologis dalam politik juga boleh kita lihat dalam setiap assessment terhadap situasi politik apapun. Dalam setiap assessment itu, kita selalu dapat melihat adanya asumsi tentang hakikat situasi. Dalam asumsi politik itu, dengan kata lain, terletak ontologi. Kerana dalam ertinya yang luas, ontologi—sebagai ilmu tentang apa yang ada—dapat juga bererti ekonomi yang menjadi basis dari sebuah situasi. Tak ada social phenomenon apapun tanpa produksi material yang membuat phenomenon itu ada. Di situ, ekonomi memiliki status ontologis dalam politik masharakat kita. Begitulah saya fikir.

Jadi, apakah Badiou memberikan alternatif?

Badiou memang memberikan alternatif. Itu berupa semacam seruan kembali untuk memikirkan “hipotesis komunis” (communist hypothesis). Badiou mendefinisikan “hipotesis komunis” sebagai hipotesis egalitarian dasar bahawa semua orang adalah setara dan mampu berfikir. Alternatif ini adalah soal presentasi murni yang inheren dalam ide tentang “masharakat tanpa kelas”. Ini, menurut Badiou lagi, tetap merupakan misi emansipotoris yang dibilangnya dalam buku “The Meaning of Sarkozky” (2008). Baginya, hanya ada satu hipotesis yang benar-benar nyata, iaitu “hipotesis komunis”. Ini kerana setiap hipotesis yang beranjak keluar dari hipotesis ini pastinya akan terjatuh ke dalam ekonomi liberal. Ini ertinya akan melupakan erti yang mendasari terhadap apa yang ingin kita capai, iaitu presentasi yang setara dalam masharakat. Ini dalam bahasa Marx, adalah “masharakat tanpa kelas” itu. Dan Badiou dengan baik menunjukkan bahawa persoalan kita sekarang bukan lagi persoalan untuk mempraktikkan hipotesis tersebut. Bukan itu. Juga bukan untuk memperjuangkan komunisme seperti abad ke-20. Bukan itu. Tapi, ini yang penting, adalah usaha untuk menunjukkan bahawa hipotesis itu sendiri ada dan membuktikan kebenarannya sehingga dapat berdepan dengan konteks ekonomi liberal yang begitu menghegemoni seperti sekarang ini.

Tapi, apakah itu kembali lagi sebagai sebuah utopia?

Tidak. Kerana utopia adalah citra khayalan, sementara hipotesis adalah aksioma yang rasional. Utopia bererti harapan yang tak boleh tercapai, seperti ufuk langit yang terus menjauh ketika didekati. Utopia bererti tujuan. Hipotesis komunis bukan tujuan. Melainkan titik berangkat analisis. Mithalnya, dengan menjadikan hipotesis bahawa semua orang setara dan dapat berfikir sebagai sebuah perspektif, maka kita dapat menunjukkan bahawa demokrasi parlimenter bukanlah bentuk politik yang setara sebab demokrasi parlimenter mengasumsikan bahawa tidak setiap orang dapat berfikir sendiri sehingga harus diwakili oleh parlimen. Di sini kita dapat tengok bahawa “komunis” atau “komunisme” yang tersirat dalam “hipotesis komunis” bukanlah suatu tujuan di ufuk tertentu melainkan sifat dari sebuah perspektif yang dijalankan dalam menganalisis persoalan politik.

Tapi, bagaimana proses untuk melaksanakan projek ini?

Proses itu diterangkan Badiou dalam buku Being and Event. Singkatnya, emansipasi yang berbasis pada hipotesis komunis akan terjadi melalui perubahan paradigma berfikir dalam sebuah situasi. Institusionalisasi dari paradigma yang baru akan mengubah situasi itu secara menyeluruh sehingga tercipta tatanan yang baru, yang lebih emansipatoris dari sebelumnya. Bentuk nyata dari proses emansipasi ini adalah pembentukan “dewan-dewan rakyat” (communes). Badiou banyak terilhami oleh peristiwa Komune Paris pada tahun 1871. Ini boleh kita lihat dalam buku barunya, The Communist Hypothesis. Ia nyatakan di sana bahawa dalam format dewan rakyat itulah politik presentasi murni (atau politik komunis) terwujud. Akan tetapi, strategi yang ditawarkan Badiou untuk sampai ke sana hampir boleh dikatakan bukan strategi sama sekali kerana ia menolak sama sekali regim kepartaian dan perjuangan elektoral atau bentuk gerakan apapun yang bersentuhan dengan negara. Dalam konteks strategi, Badiou sungguh tak punya tawaran tentang itu. Ini memang kelemahannya.

Adakah Badiou turut melihat politik dewasa ini sudah dimanipulasi oleh faktor-faktor yang bukan pada dirinya lagi. Maksudnya, politik kini telah kehilangan identiti murninya?

Badiou melihat bahawa politik dewasa ini adalah politik yang dilakukan tanpa ide apa-apa pun. Yang ada hanya ide tentang keselamatan dan tentang kesuksesan, dll. Bagi Badiou, itu sama sekali tidak berhubung dengan politik. Kerana politik bagi Badiou adalah tentang kesetaraan. Politik, bagi Badiou, adalah tentang pembebasan masharakat dalam kesetaraan. Di luar itu hanya ada kepentingan ekonomi dalam baju moral.

Namun, apakah “masharakat tanpa kelas” seperti yang kembali dicita-citakan oleh Badiou tetap berakhirnya pada hubungan subjek-objek?

Kritik Heideggerian atas hubungan subjek-objek sebetulnya sejalan dengan kritik Badiou atas representasi. Sebabnya kerana hubungan subjek-objek yang dikritik Heidegger sebetulnya adalah hubungan representasi (iaitu soal bagaimana subjek merepresentasikan objek dalam kesedaran). Dalam erti ini, “masharakat tanpa kelas” adalah tatanan sosial yang melampaui hubungan subjek-objek. Inilah juga yang dikatakan oleh Marx dalam Economic and Philosophical Manuscripts of 1844. Ia nyatakan di sana bahawa dalam tatanan kapitalis, hubungan antara manusia tampak menjadi hubungan antara komoditi. Dalam konteks itu, manusia direduksi menjadi “pekerja-upahan” (wage labourer) yang merupakan instrumen produksi, ibarat barang atau objek di hadapan kapitalis sebagai subjek. Maka itu, pelampauan atas kapitalisme secara logis bererti pelampauan atas hubungan subjek-objek. Saya fikir, Badiou juga memahami hal yang sama dengan model “dewan rakyat”-nya.

Persoalan yang Badiou kemukakan ternyata banyak berkisar mengenai politik. Hal yang penting dalam politik adalah juga persoalan negara. Maka, apakah Badiou sampai mengkritik sistem negara itu?

Sudah tentu! Badiou mengkritik sistem negara dengan cukup keras, dan tunjukkan landasan ontologi dari konsep negara. Di sana, Badiou jelaskan bahawa representasi selalu berfungsi untuk menghapuskan suatu “kelebihan” (excess). Yang dimaksud dengan “kelebihan” ini adalah segala pehak yang tidak diperhitungkan dalam sistem politik yang ada tetapi sekaligus menjadi dasar dari adanya sistem itu sendiri. Yang tak terhitung inilah yang cuba direpresentasikan melalui kategori “rakyat”, mithalnya. Dengan berbicara melalui kategori “rakyat” seolah-olah kita boleh menghitung semua yang ada dalam situasi politik nasional. Demokrasi parlimenter dibangun dengan representasi serupa itu. Masalahnya: “rakyat” adalah kategori yang mengabstraksikan segala kekhasan dari orang-orang yang ditempatkan dalam kategori itu. Dengan kata lain, “rakyat” hanyalah nama bagi sesuatu yang sejatinya tak bernama. Mereka yang tak terhitung inilah yang direpresentasikan melalui para wakil dalam demokrasi parlimenter. Tetapi bagaimana mungkin merepresentasikan sesuatu yang tak terhitung? Demokrasi parlimenter, kerana itu, adalah sistem representasi yang berdiri di atas kekosongan.

Jadi, ternyata, sistem demokrasi itu bermasalah?

Ya, sejauh demokrasi dimengerti sebagai sistem politik yang bergantung pada representasi atau perwakilan. Akan tetapi, bukan berarti Badiou menolak demokrasi sama sekali. Dengan model “dewan rakyat” a la Komune Paris, sebetulnya Badiou sedang berbicara tentang demokrasi. Tapi dalam bentuknya yang paling mendasar, iaitu demokrasi partisipatoris. Memang bahawa dalam Komune Paris juga ada perwakilan. Akan tetapi, sepertimana dilaporkan Marx dalam Civil War in France, rakyat memiliki hak recall yang boleh digunakan bila saja untuk mengganti wakil mereka. Jadi, kalaupun ada representasi, representasi itu tunduk pada presentasi dasarnya. Dengan begitu, Badiou masih seorang yang percaya pada ide dasar demokrasi, yakni “pemerintahan rakyat” (demos-kratein). Di sini terlihat bahawa Badiou tetaplah seorang Maois dan bukan anarkis.

Apakah bedanya antara Anarkis dengan Maois?

Anarkis adalah orang yang menolak segala bentuk pemerintahan kolektif/bersama. Orang-orang anarkis hanya percaya pada pemerintahan oleh diri mereka sendiri secara individu. Bagi mereka, seorang hanya boleh diperintah oleh dirinya sendiri. Sementara Maois adalah orang yang percaya pada pemerintahan kolektif. Seorang Maois akan memperjuangkan pemerintahan masharakat yang berada di bawah kendali masharakat itu sendiri—bukan para wakil. Inilah yang mahu dilakukan oleh Mao dalam Revolusi Kebudayaan di sekitar tahun 1966-1968: membangun kembali komune sebagai kekuatan masharakat yang independen terhadap partai.

Terakhir, Anda menulis buku terbaru anda, “Alain Badiou dan Masa Depan Marxisme.” Boleh Anda jelaskan tentang apa tujuan buku ini dihasilkan lebih-lebih lagi dalam susanana dunia yang berharap dengan demokrasi?

Buku ini adalah pengantar menuju falsafah Badiou dalam hubungannya dengan Marxisme. Di dalamnya akan ditunjukkan bahawa Marxisme bukanlah totalitarianisme seperti yang banyak dikumandangkan dewasa ini, bahawa dalam Marxisme kita justeru dapat menemukan tesis dasar tentang emansipasi, iaitu ide tentang pemerintahan demokratis-partisipatoris. Pengertian tentang Marxisme sebagai ide tentang demokrasi non-parlimenter inilah yang dikemukakan lagi oleh Badiou dalam bentuknya yang baru. Dalam suasana dunia yang berharap dengan demokrasi, saya fikir buku ini akan memberikan sumbangannya tersendiri, iaitu dengan menunjukkan bahawa adalah keliru memandang Marxisme sebagai teori yang menolak demokrasi sama sekali, bahawa Marxisme yang direkonstruksi Badiou justeru memperdalam pengertian kita tentang demokrasi. Kepada para pembaca, saya harapkan buku ini dapat memberikan bahan pemikiran baru tentang hubungan antara falsafah dan emansipasi sosial-politik, iaitu bahawa emansipasi sosial-politik mensharatkan suatu philosophical emancipation yang akan menjadi dasarnya.