Hari ini 28 April, tanggal yang saban kali mengingatkan kita pada sosok penyair Chairil. Di Indonesia ada yang menyambut Hari Chairil Anwar, puisinya dibaca-deklamasikan di acara-acara awam dan beliau dikenang. Tarikh 28 haribulan April 1949 Chairil meninggalkan dunia ini tapi tidak dunia kepenyairan. Dia seperti masih hidup kerana para penyair dan pembaca dekat terus-menerus membaca ulang 72 buah keseluruhan sajaknya itu.

Goenawan Mohamad misalnya menulis lagi tentang Chairil di Catatan Pinggir-nya yang terbaru. Untuk tidak hanya mereduksikan penyair itu pada puisi Aku, Mas Goen bicara tentang ‘sajak suasana’ dan ‘sajak penyataan’ Chairil. Katanya:

Dalam banyak hal, Chairil memukau saya karena ia menghadirkan apa yang saya sebut “sajak suasana”. Ia menampilkan subyek yang gawal.

Kerana,

“Sajak suasana” berbeda dari “sajak pernyataan”: seperti Aku. Dalam “sajak pernyataan”, subyek masih tampak dalam posisi yang ingin mengendalikan arti.

 

Dalam nada yang serupa, sekurangnya dalam soal membebaskan Chairil dari ‘sesiapa yang menggemari klise dan nostalgia’, penyair Nirwan Dewanto telah menulis tiga kiriman tentang Chairil di blognya. Bagi Nirwan sudut pandang bahawa Chairil hanya sebagai binatang jalang yang meradang dan menerjang segala hal termasuk tradisi pemuisian adalah meleset sama sekali. Ujar Nirwan,

Terbalik dengan itu, selama 1942-1949 ia sungguh-sungguh mengerjakan budaya tulisan: melakukan studi terhadap para pendahulunya, membaca sastra dunia dan mengambilnya ke dalam dirinya, merumuskan konsep penciptaannya dengan terang, dan akhirnya menulis (ya, bukan mengarang) sajak-sajak yang membayangi sastra kita hingga hari ini.

Sehingga,

Puisi Chairil membangkitkan kekayaan bahasa kita sampai ke tingkat yang mustahil dikatakan dengan cara lain, tetapi yang tetap sedap dan masuk-akal, sehingga para penyair yang kemudian seperti gementar di hadapannya dan akhirnya mau tak mau mengambilnya sebagai model atau sebagai lawan-tanding.

Demikianlah Chairil Anwar yang telah menjadi ‘penyair induk’ kesusasteraan Melayu dan sudah tentu menimbulkan semacam the anxiety of influence kepada penyair-penyair lain.

 

Bacaan lanjut :

28 April, Goenawan Mohamad, Tempo.

Situasi Chairil Anwar (1), Nirwan Dewanto, KualaKuali.

Situasi Chairil Anwar (2), Ibid.

Situasi Chairil Anwar (3), Ibid.

 

 

 

Chairil Anwar Goenawan Mohamad Nirwan Dewanto Puisi

Tinggalkan Balasan

Alamat e-mel anda tidak akan disiarkan. Medan diperlukan ditanda dengan *

Cancel Kirim Ulasan