Duga Cinta

Dinda
kalau kita terjaga dan matahari sedang saga
mengancam dingin segala akal jiwa raga
untuk kali ini setelah sekian lama
tetapkan lambungmu di peraduan kita
sampai suteramu mencium detakku
sampai derau darah kita menderu

namun dengar dulu pujaanku
ini jantungku t’lah terkarang
duga cinta dan rembulan bara
aku rindu raut dinda sewindu yang lalu
aku rindu kerling manja seperdetik yang malu
tersipu dan bisu
di diam yang biru

dinda
kalau kita dahaga kerna matahari sedang saga
dan delimamu t’lah haus di birai telaga
tusuklah kakiku dengan kersani paling jingga
sampai mahu pun menimbun bak angin segara
tapi berapi pun jiwa kita tetap terdera

lamun berkelar haru perempuanku
berani laku redah terhadang
tuba berupa manisan digala
diusik menyinga
dibiar menghama

aku pun merasa kurang sabar
aku peras jin yang sedang turun dari langit
biru perang merah jingga yang desak mendesak
t’lah ku curi berita di telinganya
yang tadi berselindung di awan sopak
dan sekarang aku menunggang lintar
pulang ke sanubari dinda

2009


Gagau

malam tetap suam sewaktu embun turun titik demi titik, seakan cuba membalut suara cangkerik. gelap mengurung dirinya yang konon sentiasa ada, sambil cuba ditikam-sulam cahaya yang konon adalah dicipta. tidak terdengar selain oleh malam dan gelap adalah rimbun hati yang berbalah: pecah dan lecah di perdu lagu cangkerik, resah dan desah selaku rindu tercarik—

sungguh, dia meratib bukan lagi kepadamu gusti. dia telah mengusirmu sejak kelmarin. “gusti, demi kasih kepadamu, biar aku ikrarkan tidak tahu.” lalu, dia pun melemparkan kunci ke kerak bumi, merelakan diri terpenjara cinta dewi khidmat. menjerit-jerit adalah dia, ke cuping telinganya sendiri, “dewi bahagia, dengarkan ini sumpah kasih…”

ternyata ada getar di tangkainya, dan gentar di lantainya. cinta-kasihnya sering seakan debunga terhembus—menghinggap, tapi tak selalu jadi kembang. nyali menipis, daya menipis.

dewi khidmat bersetia. lalu ingatkah gusti, dia berpaling kepada engkau yang diusirnya tadi, tersedu-sedu minta keselamatan dan hukuman.

dewi bahagia bersedia. berpalingkah dia darimu gusti? Tanpa ragu menjelirkan yakin dan harapan, dengan ombak di cakerawalanya.

2009

Kata mimpi

biar aku cium saja pipimu
kerana itu keinginanku

dengan mata pejam berkhianat lagi

dan setelah itu adalah bayang kata-kata
dari mimpi kolam, basah, teman lama dan kereta lajunya, dua ayah yang buta, ikan hijau

… engkau, dan goreng cabai

(mimpiku,warna pagi, kembali ke tempat permainan paling lama. Kita lagi-lagi begitu)

telah aku sapu susu
dari punggung pelurumu

dan engkau merasa cemburu
kerna aku menulis puisi
dengan sisa kata dari mimpi

2009

Cinta Murad Ata Puisi