Segala puji bagi Allah, Tuhan semesta alam. Kami meminta kepada-Nya ampunan, pertolongan, hidayah dan perlindungan dari kejahatan hati dan perilaku kami. Kami aturkan selawat dan salam untuk Nabi kami, Muhammad, keluarga, sahabat dan pewaris risalahnya hingga hari akhir.

Kami sungguh bahagia dengan terbitnya buku cetakan kedua ini, kerana dengan ini kami merasa telah memenuhi janji kami kepada pembaca sekalian untuk memperbaiki kekurangan-kekurangan yang ada di dalam cetakan pertama, termasuk di antaranya persoalan-persoalan yang menurut pandangan kami belum terselesaikan secara tuntas dan memuaskan. Berkat kurnia dan pertolongan Allah, akhirnya, dalam waktu tiga tahun sejak terbitan pertama, kami dapat menyelesaikan itu semua dan menambahkan beberapa perbahasan yang tercicir dari cetakan pertama.

Di antara pembahasan penting yang kami tambahkan ke dalam cetakan kedua ini adalah, pertama, pembahasan tentang hadis-hadis dan atsar-atsar qauli (ucapan Nabi) yang memiliki kaitan dengan topik buku ini. Dalam hal ini, kami mendapatkan bahawa “tidak adanya penentuan hukuman Syar’ie (hadd syar’i) bagi orang murtad”—yang telah kami simpulkan dari tidak ditemukannya hadis-hadis fi’li (perilaku Nabi) yang menceritakan penerapan hukuman syarak terhadap orang murtad—tidak mendapat pertentangan dari satu pun hadis dan atsar qauli tersebut. Dengan demikian, menjadi lengkaplah penghujahan kami bahawa tidak ada satu dalil pun yang menegaskan adanya hukum syarak atas kejahatan pindah keyakinan atau pindah agama yang tidak disertai tindak kejahatan lain.

Penyebutan bentuk hukuman (hadd) itu tidak ditemukan di dalam al-Quran, sebagai sumber pertama hukum syari’ah. Allah berfirman menegaskan kedudukan al-Quran:

“Dan Kami telah turunkan kepadamu al-Quran dengan membawa kebenaran; membenarkan apa yang sebelumnya, iaitu Kitab-kitab (yang diturunkan sebelumnya) dan pelindung bagi Kitab-kitab yang lain. Maka putuskanlah perkara mereka menurut apa yang Allah turunkan dan janganlah kamu mengikuti hawa nafsu mereka dengan meninggalkan kebenaran yang telah datang kepadamu. Untuk tiap-tiap umat di antara kamu, Kami berikan aturan dan jalan yang terang.” (QS. Al-Maidah: 48)

“Tidakkah kamu memperhatikan orang-ornag yang telah diberi bahagian dari Al-Kitab (Taurat)? Mereka diseru kepada kitab Allah supaya kitab itu menetapkan hukum di antara mereka; kemudian sebahagian dari mereka berpaling, dan mereka selalu membelakangi (kebenaran).” (QS. Ali Imran: 23)

Demikian pula, sepanjang kehidupan Rasulullah tidak ditemukan satu pun peristiwa yang boleh dianggap sebagai bukti bahawa Rasulullah pernah menerapkan hukuman duniawi terhadap orang-orang yang murtad. Padahal di zamannya, tidak sedikit orang yang keluar dari Islam (murtad) secara terang-terangan. Allah berfirman:

Sesungguhnya orang-orang yang beriman kemudian kafir, kemudian beriman (pula), kemudian kafir lagi, kemudian bertambah kekafirannya, maka sekali-kali Allah tidak akan memberikan ampunan kepada mereka, dan tidak (pula) menunjuki mereka kepada jalan yang lurus. (QS. An-Nisa’:137)

Ini membuktikan bahawa penerapan hukuman bagi orang-orang murtad tidak pernah terjadi di dalam sunnah fi’liyah Rasulullah. Demikian pula, melalui penelusuran kami terhadap sunnah-sunnah qauliyah, kami tidak mendapati satu sunnah qauliyah pun yang dapat dijadikan sandaran penentuan hukuman duniawi terhadap orang yang murtad.

Kedua, pembahasan tentang pendapat para ahli fekah berkenaan dengan penentuan hukuman (hadd) bagi pindah agama (riddah). Alasan utama kami menambahkan pembahasan ini adalah, kerana majoriti, ahli fekah menyandarkan pendapat mereka—yang mewajibkan hukuman mati bagi orang yang murtad—pada sunnah-sunnah qauliyah dan ijma’. Untuk itu, kami perlu menelusuri seluruh pendapat para ahli fekah tersebut satu persatu, mempelajari sekaligus menguji secara kritis pembahasan dan penghujahan mereka. Ternyata, tindak kejahatan (jarimah) yang dimaksud para ahli fekah tersebut bukan riddah yang kami maksud; yang mereka bicarakan adalah tindak kejahatan berlapis (jarimah murakkabah) dalam perspektif politik, perundangan, sekaligus sosial. Ertinya, tindakan berpindah agama yang dilakukan orang murtad tersebut merupakan akibat dari perubahan sikap, afiliasi dan kesetiaannya terhadap umat, jamaah, masyarakat, pimpinan politik, serta sistem sosial dan pemerintahan Islam.

Dalam pembahasan tersebut, kami juga menggugat dakwaan para ahli fekah yang mengatakan adanya ijma’ (konsensus ulama) berkenaan dengan hadd syar’i terhadap tindak kejahatan riddah. Kami membuktikan bahawa tidak pernah ada ijma’ berkenaan dengan hadd syar’i, yang ditetapkan al-Quran dan dijelaskan al-Sunnah, atas tindak kejahatan riddah dalam pengertian yang telah kami jelaskan.

Dengan demikian, jelas sudah bahawa manusia—dalam pandangan Islam—memiliki kebebasan untuk memilih agama yang ingin dianutnya. Kebebasan ini merupakan kebebasan peribadi yang dijamin oleh Allah. Sebab, kebebasan adalah asas pertanggungjawaban seseorang.”Orang yang dipaksa” (mukrah) berada di luar wilayah taklif (pembebanan). Oleh yang kerana itu, ia tidak akan diminta pertanggungjawaban, baik itu di dunia mahupun di akhirat atas tindakan yang dilakukannya di bawah tekanan atau paksaan. Ketika kebebasan seseorang dalam memilih berkurang maka pertanggungjawabannya pun berkurang. Sebab, Allah selalu mengaitkan setiap perintah dan larangan-Nya dengan keleluasaan dan keampunan manusia. Allah berfirman:

“Allah tidak memikulkan beban kepada seseorang melainkan sekadar apa yang Allah berikan kepadanya. Allah kelak akan memberikan kelapangan sesudah kesempitan” (QS. Ath-Thalaq: 7)

Pun, Allah membiarkan manusia untuk memilih sendiri apa yang menjadi tanggungjawabnya. Allah berfirman:

“Dan katakanlah, ‘Kebenaran itu datangnya dari Tuhanmu. Maka barangsiapa yang ingin (beriman) hendaklah ia beriman, dan barangsiapa yang ingin (kafir) biarkanlah ia kafir.’ Sesungguhnya Kami telah sediakan bagi orang-orang zalim itu neraka, yang gejolaknya mengepung mereka. Dan jika mereka meminta minum, nescaya mereka akan diberi minum dengan air seperti besi yang mendidih dan menghanguskan muka. Itulah minuman yang paling buruk dan tempat istirahat yang paling jelek.” (QS. Al-Kahfi: 29)

Selain itu, Allah tidak pernah menghalang kehendak manusia. Ia pun menjadikan kehendak itu benar-benar boleh difungsikan untuk memilih. Allah berfirman:

“Barangsiapa menghendaki kehidupan sekarang (duniawi), maka Kami segerakan baginya di dunia itu apa yang Kami kehendaki bagi orang yang Kami kehendaki dan Kami tentukan baginya Neraka Jahannam; ia akan memasukinya dalam keadaan tercela dan terusir. Dan barangsiapa yang menghendaki kehidupan akhirat dan berusaha ke arah itu dengan sungguh-sungguh sedang ia adalah mukmin, maka mereka itu adalah orang-orang yang usahanya dibalas dengan baik.” (QS. Al-Isra’:19-19)

Demikian pula, Allah membezakan pertanggungjawaban antara tindakan yang dilakukan dengan silap (khata’) dengan tindakan yang dilakukan secara sengaja (‘amd), juga antara kesilapan dari tindakan yang kurang hati-hati (khatba’ ‘an ihmal) dengan kesilapan dari tindakan yang disengaja (khatba’ ‘an ‘amd), serta antara kesilapan yang terus dilakukan dan tidak pernah disesali dengan kesilapan yang dilakukan lagi dan diikuti dengan taubat. Itu semua menegaskan bahawa manusia memiliki kebebasan dalam hal berkehendak, berfikir, berbicara dan berbuat. Buku ini, sebenarnya kami arahkan sebagai sebuah percontohan tentang bagaimana kita sebenarnya bersikap kritis terhadap khazanah klasik (turats) kita yang kaya, untuk menyelematkannya dari debu-debu yang mengotorinya saat mengharungi penggalan-penggalan sejarahnya. Semoga, di dalam buku ini, para penuntut ilmu-ilmu naqli dan ilmu-ilmu kemanusiaan mendapatkan apa yang bisa dijadikan pedoman dalam menyelesaikan persoalan-persoalan penting yang dihadapi umat dan kebudayaannnya, tanpa membuat perpecahan atau menyeret masalah-masalah khilafiyyah.

Perhatian kami pada persoalan pindah agama

Kami telah menulis persoalan ini dalam bentuk artikel sederhana sejak tahun 1992. Beberapa teman mendesak kami untuk mencetak artikel tersebut—yang saat itu tidak lebih daripada seratus halaman—dan menyebarkannya. Namun sebahagian lain tidak setuju, kerana khuatir akan berdampak negatif terhadap al-Ma’had al-‘Alami li al-Fikr al-Islami (International Institute of Islamic Thought—IIIT) yang kami ketuai saat itu. Pada tahun 1996, semasa jawatan kami sebagai ketua IIIT berakhir. Namun kami tetap diingatkan agar tidak menyebarkan artikel tersebut, kerana—kali ini—dikhuatirkan akan merusak citra lembaga yang kami pimpin.

Tanpa terasa, enam tahun berlalu. Usia semakin lanjut dan penyakit pun semakin bertambah. Kami tidak ingin bertemu dengan Allah dalam keadaan menyembunyikan ilmu yang dikurniakan Allah kepada kami. Sebab, Rasulullah pernah bersabda, “Siapa yang diberi ilmu oleh Allah, lalu meyembunyikannya di hadapan manusia, maka ia akan diikat oleh Allah dengan tali dari api neraka.” Kami pun tidak ingin seperti orang-orang yang berkata, “Di dadaku ini ada ilmu, yang kalau kuperlihatkan, orang-orang pasti akan memenggal leherku.” Kemudian ia mati dan rahsia ilmu itu terkubur bersamanya. Kami juga tidak ingin menyembunyikan apa yang kami pelajari hanya kerana takut memicu perpecahan atau silang pendapat. Sebab, menurut kami perpecahan atau silang pendapat yang ditimbulkan tulisan kami tidak ada apa-apanya dibandingkan dengan perpecahan dan silang pendapat di tubuh umat yag disebabkan oleh penguasa zalim dan ulama jahat dulu.

Bagi kami, menyingkap penyakit yang diderita umat, insyaAllah akan lebih memudahkan penyembuhan daripada menyembunyikannya. Oleh kerana itu, kami memohon kepada setiap pembaca agar tidak menahan doa kebaikannya untuk kami, jika menemukan kebaikan di dalam buku ini. Namun jika menemukan selain itu, maka kami berharap agar pembaca melayangkan surat dan menunjukkan kesalahan-kesalahan kami, sehingga kami dapat melakukan pembetulan, atau jika memungkinkan pembaca boleh mendatangi atau mengundang kami untuk melakukan dialog dalam semangat ilmiah dan kepala yang dingin. Kami meminta ampunan kepada Allah atas dosa-dosa kami. Tidak ada petunjuk untuk kami kecuali dengan seizin Allah. Kepada-Nya kami tawakal dan kembali.

Mungkin hanya Allah yang tahu, kalau kami benar-benar cinta dan bangga pada turats umat kami. Kerana itu, kami tahu bahawa bahawa di dalam turats kami itu ada kotoran, dan bahawa kritik dan penilaian akan membuatnya kembali bersih. Turats umat kami adalah turats yang kaya. Turats umat kami adalah turats yang tidak takut pada kritik dan penilaian. Dan kita tidak selayaknya takut. Jauh-jauh hari syair Duraid bin al-Shummah menyindir kita,

Aku hanyalah orang Ghuzayyah

Jika Ghuzayyah tenggelam,aku tenggelam

Jika Ghuzayyah timbul, aku timbul

Metodologi Pembahasan

Kami berusaha semampu mungkin untuk patuh pada metodologi penelitian ilmiah. Kerana itu, kami tidak akan memaksakan nash atau dalil agar sesuai dengan pendapat yang kami yakini sebelum pembahasan ini. Kami akan membiarkan fikiran dan otak kami kosong daripada pendapat mana pun, baik itu milik kami peribadi atau milik orang lain, sejauh kemampuan yang dapat dilakukan seorang manusia. Kami akan menjadikan dalil-dalil syar’ie sebagai rujukan kesimpulan kami, bukan sebagai pendukung pendapat kami—sebagaimana yang sering dilakukan kebanyakan peneliti. Kerana yang penting bagi kami adalah mencapai apa yang sebenarnya dikehendaki oleh dalil syarie, bukan apa yang kita mahukan dari dalil itu agar sesuai dengan tuntutan masa kini atau masa lalu.

Oleh kerana itu, metodologi yang paling tepat untuk digunakan di dalam penelitian ini adalah metodologi yang menggabungkan pendekatan-pendekatan falsafi-usuli, analitik, deduktif dan kesejarahan, berikut pendekatan-pendekatan tradisional yang lazim digunakan dalam kajian ilmu-ilmu naqli kita pada era tadwin (penyusunan ilmu-ilmu Islam) dan setelahnya.

Atas dasar itu, dalam menafsirkan ayat al-Quran, kami akan bersandar pada kaedah-kaedah yang ditetapkan para ulama tafsir. Dalam menilai dan menghukumi hadis, kami akan menggunakan kaedah-kaedah yang biasa dipakai para ahli hadis. Berkaitan dengan pokok-pokok agama (usul), kami akan, pertama, menjadikan Quran sebagai sumber hukum. Allah berfirman, “Hukum itu hanyalah kepunyaan Allah.” (Yusuf: 40). Dan di sini, kami hanya berupaya mewujudkan supremasi hukum (hakimiyah) al-Quran. Kedua, kami akan menjadikan hadis sebagai penjelas al-Quran. Dan berkaitan dengan ijma’, kami tidak akan menerima dakwaan bahawa telah berlaku ijma’ atas sesuatu yang terbukti masih menjadi bahan perdebatan di kalangan para sahabat. Ijma’ yang benar adalah ijma’-nya para sahabat.

Selanjutnya, kami akan menjadikan prinsip-prinsip pokok Islam (al-qiyam al-hakimah) dan tujuan-tujuan syariat (maqasid al-syariah) sebagai dalil umum (adillah kulliyah) yang menentukan arah “objek hukum” (mustadall) dalam persinggungannya dengan makna konotatif (dallah) dan dalil khusus (adillah juz’iyyah). Dan terakhir, kami akan menjelaskan makna sebuah kosakata dalam al-Quran pertama-tama dalam mengacu pada kebiasaan Sunah, kemudian pada kebiasaan orang-orang Arab dalam bahasa, frasa dan retorika mereka; agar kebiasaan orang-orang Arab dalam memaknai kosakata-kosakata mereka tidak menjadi penentu bagi pemaknaan kosakata-kosakata al-Quran.

Jika semua yang kami lakukan benar, maka itu berkat kurnia dan petunjuk-Nya. Jika tidak, maka sesungguhnya manusia adalah tempat kelemahan dan kesalahan. Niat kami hanyalah untuk mencari kebaikan dan melakukan perbaikan semampu kami. Kami meminta kepada Allah kebenaran dalam bertutur dan bertindak, dan semoga Ia menjauhkan kami dan para pembaca dari gangguan syaitan. Dan, ya Tuhan, kami berlindung kepada-Mu dari kehadiran syaitan-syiatan itu!

Adakah seseorang yang seluruh tingkah lakunya dihargai?

Seseorang cukup dianggap mulia jika kesalahannya masih terhitung.

Batasan dan Pokok Pembahasan

Ketika menuliskan ijtihadnya, para ulama ushul biasanya melakukan “uji materi” (tahqiq al-manath) setelah menyaring dan meyeleksinya. Sedangkan ketika membahas persoalan ikhtilaf dan mengungkapkan sanggahan, biasanya mereka memulai dengan membebaskan “pokok perdebatan” dari masalah-masalah lain. Berdasarkan metodologi tersebut, kami ingin memulai pembahasan ini dengan membebaskan persoalan pokok pembahasan ini dan masalah-masalah lain; agar pembaca tidak salah tangkap:

1. Buku ini tidak membahaskan persoalan “apakah orang murtad dalam pengertian sebenarnya (murtadd riddah haqiqiyah) dianggap kafir atau tidak? Kafirnya orang murtad merupakan hal yang sudah pasti (ma’lum min al-din bi al-dharurah) dan bukan menjadi perdebatan, baik itu ia murtad dengan cara berpindah ke agama lain atau tidak beragama sama sekali.

2. Buku ini tidak menentang penerapan hukuman keduniaan terhadap orang murtad yang melakukan tindak jenayah melawan hak, aturan atau adat-istiadat jamaah, atau yang melakukan pembangkangan terhadap jamaah atau pemerintahannya yang sah. Tindak jenayah lain yang dilakukan orang murtad, baik itu didasari motif riddah (pindah agama) atau motif-motif lain, maka bagi umat atau jamaah agar bersikap tegas menerapkan hukum yang telah ditetapkan syariat atau undang-undang kepadanya. Dan ia pun harus mendapat perlakuan yang sama dengan pelaku jenayah lain. Kerana status riddah, jika tidak membuat seorang pelaku jenayah dihukum berat, maka tidak selayaknya dijadikan peringan hukuman untuknya.

3. Kami tidak pernah berpendapat dan menuntut jamaah atau umat untuk mengizinkan orang murtad mengajak orang-orang pindah agama, secara sembunyi-sembunyi mahupun terang-terangan, atau mendirikan perkumpulan yang bertujuan untuk mengubah aqidah, pandangan atau prinsip keimanan dan keislaman umat atau jamaah, baik dengan kekuatan mahupun hasutan. Itu semua kami anggap sebagai tindak jenayah yang mengancam keselamatan umat atau jamaah. Kerana itu, umat atau jamaah berkewajiban untuk mengantisipasinya dan menangkap serta menghukum para pelakunya sesuai bahaya yang diakibatkan tindakan mereka dan didasarkan pada nilai-nilai luhur dan maqashid syaria’ah.

4. Pokok pembahasan buku ini adalah persoalan “pindah agama murni” dalam pengertian tindakan seseorang mengubah keyakinannya, berikut pemikiran, pandangan dan perilaku yang didasarkan pada keyakinan itu, tanpa disertai tindakan pembangkangan terhadap jamaah, aturan, atau kepimpinannya; tidak melakukan aksi keganasan, tidak angkat senjata melawan jamaah, tidak bergabung dengan musuh dalam bentuk atau cara apapun, serta tidak mengkhianati jamaah. Apakah terhadap orang yang mengubah keyakinan akibat salah faham atau keraguannya terhadap seluruh atau sebahagian keyakinan lamanya, tanpa menghasut orang lain untuk ikut dengannya, Allah mensyariatkan hukuman mati yang wajib diterapkan umat? Layakkah seseorang dihukum mati hanya kerana mengubah keyakinannya itu dengan tindakan-tindakan lain yang kami sebutkan di atas? Jika seorang Muslim membunuhnya, ia tidak dikenai apa-apa hukuman sama ada qisas mahupun tebusan, selain hukuman kerana lancang mengambil alih tugas penguasa? Apakah wajib bagi umat untuk memaksa orang yang murtad untuk kembali memeluk Islam? Apakah ini, jika terjadi, dianggap sebagai “pemaksaan agama” yang ditolak al-Quran? Apakah pendapat yang mengatakan wajibnya membunuh orang murtad merupakan konsensus ulama (ijma’) sepanjang masa ataukah di dalamnya masih terdapat silang pendapat namun tidak banyak diketahui orang? Jika dikatakan wajib membunuh orang murtad, apakah ini bererti bahawa “ orang yang kafir dari semula” juga wajib dibunuh secara syar’ie? Apakah hukuman untuk perbuatan pindah agama—dalam pandangan orang yang meyakini hukuman itu memang ditetapkan—dianggap sebagai hukuman terhadap tindak jenayah politik (jarimah siyasiyah) ataukah masuk ke dalam ruang lingkup jinayat (jenayah agama), kerana diistilahkan dengan hadd? Apakah hadd ini—jika kita meyakininya sebagai hadd syar’ie—dianggap sebagai penebusan dan penghapusan dosa? Kerana sebagaimana dijelaskan nash, setiap hadd syar’ie ditujukan sebagai penghapusan dosa? Apakah tindakan pindah agama dianggap sebagai keluar dari islam ataukah dianggap sebagai sikap menentang Islam?

Inilah masalah-masalah yang menjadi bahasan pokok buku ini. InsyaAllah, kami akan mengurai persoalan-persoalan tersebut—berikut beberapa persoalan lain yang memiliki kaitan dengannya—dengan berusaha semampu mungkin untuk patuh pada metodologi pembahasan yang kami jelaskan di muka. Tidak lupa, kami pun meminta pertolongan kepada Allah agar diberi kurnia pendapat dan perkataan yang benar. Sesungguhnya Ia adalah pemilik taufiq dan mahakuasa untuk memberikannya kepada hamba-Nya.

Kami berharap apa yang kami ketengahkan ini menjadi penilaian kritis atas turats, yang menjadikan turats kita tetap sesuai dan berada dalam bingkai semangat al-Quran. Kami juga berharap apa yang kami lakukan ini menjadi pembuka jalan bagi para peneliti lain untuk semakin berani melakukan penilaian kritis terhadap turats. Harapan terkahir kami, semoga Allah memberi balasan kebaikan atas usaha ini.

Wallahul muwafiq,

Dr. Taha Jabir al-Alwani

Buku karangan Dr. Taha Jabir al-Alwani ini yang bertajuk La Ikra fi al-Din telah diterjemah dan diterbitkan oleh Institut Kajian Dasar (IKD). Sebarang pertanyaan boleh layangkan emel kepada farhan.affandi@gmail.com.

Buku Dr. Taha Jabir al-Alwani Hudud Islam Murtad Syariah

Tinggalkan Balasan

Alamat e-mel anda tidak akan disiarkan. Medan diperlukan ditanda dengan *

Cancel Kirim Ulasan