Via: Kompas

Amin Sweeney mungkin sebuah contoh radikal manusia diaspora. Pria berkulit putih ini adalah seorang keturunan Irlandia yang memutuskan “masuk Melayu” secara kafah sejak tahun 1958 lantaran jatuh cinta kepada kesusastraan Melayu.

Pilihan itu kemudian mengantarkannya menjadi seorang akademikus terkemuka di bidangnya, tidak saja karena ia telah menghasilkan banyak karya ilmiah mengenai kesusastraan Melayu, tetapi juga karena ia mempunyai penciuman yang terkenal tajam dalam mengendus aroma kolonialisme dan Eropa sentrisme dalam sejarah studi sastra dan bahasa Melayu.

Amin Sweeney mungkin juga seorang deviant. Banyak akademisi memilih “beristirahat” setelah memasuki masa purnabakti. Namun, ia justru tak hendak membuang pena. Sejak pensiun sebagai profesor emeritus dalam
bidang kajian Melayu di University of California, Berkeley, tahun 1998, dan kemudian memilih tinggal di Jakarta, ia terus menulis karya ilmiah.

Hasilnya, dalam empat tahun terakhir ini ia telah menghasilkan tigajilid buku setebal lebih dari 1.680 halaman yang membahas karya-karya Abdullah bin Abdul Kadir Munsyi.

Abdullah lahir di Melaka bulan Agustus 1796 dan meninggal di Mekkah tahun 1854. C Skinner (1959) menjulukinya “bapa sastra Melayu modern”—nada yang kurang lebih sama ditemukan dalam banyak karya sarjana kolonial pada paruh pertama abad ke-20—yang dikritisi Sweeney dalam seri ini (Jilid 1:14-16).

Seri “Karya Lengkap Abdullah bin Abdul Kadir Munsyi” ini membahas semua karya Abdullah yang ditulisnya sendiri, tidak termasuk beberapa karya kolaboratifnya dengan orang lain dan karya terjemahannya.

Jilid 1 (2005) membahas dua karyanya: Kisah Pelayaran Abdullah bin Abdul Kadir Munsyi dari Singapura Sampai ke Kelantan (1838) dan Kisah Pelayaran Abdullah bin Abdul Kadir Munsyi dari Singapura Sampai ke Mekkah (1858-9).

Jilid 2 (2006) menelaah karya-karya pendek Abdullah yang dikelompokkan menjadi dua bagian: puisi, yaitu Syair Singapura Terbakar (1843), Syair Kampung Gelam Terbakar (1847?), dan Malay Poem on New Year’s Day (1848); serta ceretera, yaitu Ceretera Kapal Asap (1843) dan Ceretera Haji Sabar ‘Ali (1851).

Jilid 3 yang kita bicarakan ini mengupas karya Abdullah yang paling panjang dan paling kompleks, yaitu Hikayat Abdullah bin Abdul Kadir Munsyi—sering disingkat Hikayat Abdullah—(1849), yang dianggap sebagai otobiografi pengarangnya sendiri. Teks ini paling sering mendapat perhatian para sarjana Eropa karena—seperti disentil oleh Sweeney—kepintaran mereka sekaligus karena kenaifan mereka memandang kesusastraan Melayu hanya dari geladak kapal tradisi kesarjanaan Barat.

Buku ini terdiri atas enam bab, diperkaya dengan tiga lampiran yang berisi perbandingan petikan-petikan dari teks Injil dalam Hikayat Abdullah dengan beberapa terjemahan Alkitab dalam bahasa Melayu; salinan dua pucuk surat majikan Abdullah, Alfred North, yang mengandung penjelasan mengenai Hikayat Abdullah dan Abdullah sendiri serta salinan deskripsi tentang dirinya dalam Encyclopaedia Britanica (2005); dan ejaan nama-nama orang Eropa yang ditemukan dalam Hikayat Abdullah.

Dua bab pertama mendeskripsikan tiga salinan naskah Hikayat Abdullah dan versi litografinya (1849), komentar rumit mengenai naratif teks ini dalam rangka menjelaskan kompleksitas aspek budaya dan kesastraannya serta dimensi kesejarahannya.

Dua bab berikutnya berisi pengantar dan suntingan teks Hikayat Abdullah. Bab III mendeskripsikan ejaan dan gaya bahasa edisi litografi (cap batu) jawi 1849 yang dijadikan teks dasar suntingan.

Selanjutnya, Bab IV berisi hasil suntingan teks Hikayat Abdullah yang didahului oleh penjelasan mengenai prinsip-prinsip penyuntingan dan pengalihaksaraan dan diakhiri dengan catatan tentang teks edisi ini, daftar nama orang, serta bahagian tarikh yang disebut di dalamnya. Edisi litografi 1849 yang dijadikan teks dasar diterbitkan oleh Benjamin Peach Keasberry dan dicetak oleh Percetakan Bukit Zion, Singapura, tahun 1849.

Bab V berisi perbandingan teks Hikayat Abdullah edisi litografi 1849 dengan naskah Thomson (1843) yang dianggap paling dekat dengan naskah Hikayat Abdullah yang asli. Inilah untuk pertama kalinya versi naskah Hikayat Abdullah diterbitkan—selama ini yang diterbitkan hanya versi litografinya—yang berisi beberapa kritik pedas yang disensor oleh majikan Abdullah, Pendeta North dan Keasberry, dalam versi cetak. Bab VI berisi senarai kosakata arkais yang dipakai dalam Hikayat Abdullah.

Sebagaimana halnya dalam dua jilid terdahulu, dalam Jilid 3 ini Sweeney melakukan tinjauan menyeluruh terhadap berbagai aspek dalam dan seputar Hikayat Abdullah, termasuk konteks sastra dan sejarah teks ini, tanggapan dan pendekatan para peneliti terdahulu terhadapnya, serta uraian mengenai pendekatan sastra yang dianggap sesuai untuk menganalisis teks ini.

Penulis mengkritik dominasi pendekatan sejarah oleh para sarjana kolonial terhadap karya-karya Abdullah dan karya sastra Melayu pada umumnya. Pendekatan ini cenderung menakar realitas fiksional yang terdapat dalam teks sastra (Melayu) dengan ukuran-ukuran di luarnya. Pendekatan itu akan gagal memaknai sebuah teks sastra sebagai entitas dengan strukturnya sendiri.

Inti masalahnya terletak pada pemakaian tanpa evaluasi konsep ilmu pengetahuan (scholarship) Barat terhadap kesusastraan Melayu. Sweeney mengkritik para sarjana zaman kolonial yang “begitu yakin bahwa klasifikasi budayanya sendiri memiliki nilai sejagat sehingga mereka terdorong memaksakan sistem penggolongan yang disangkanya alamiah itu kepada budaya Melayu” (Jilid 1:9).

Menurut Sweeney, inilah penyebab munculnya penilaian negatif para sarjana kolonial kepada hasil kesusastraan Melayu: apa yang justru dinilai penting dalam naratif kesusastraan Melayu malah mereka anggap mubazir dan bertele-tele.

Kekeliruan para sarjana kolonial ketika membahas karya-karya Abdullah adalah merancukan konsep realisme dan realitas. Mereka memandang Hikayat Abdullah dari sudut realisme tanpa menyadari bahwa realisme hanyalah satu kaidah untuk menciptakan ilusi realitas.

Oleh karena itu, sudah tiba saatnya untuk menerapkan pendekatan sastra yang kontekstual dalam membedah karya-karya Abdullah. Namun, ada syaratnya: harus dipahami lebih dulu sistem noetika (lisan) Melayu dan pergeseran yang terjadi dalam kelaziman noetika itu akibat pengenalan tradisi cetak (print culture) sejak paruh kedua abad ke-19 yang menghasilkan “buah”—atau “korban”?—insan-insan yang mulai berpikir dalam noetika keberaksaraan cetak seperti pribadi Abdullah.

Seluruh gejala kebahasaan dan literer yang muncul dalam karya-karya Abdullah adalah refleksi dari pengaruh keberaksaraan cetak (literacy) Barat yang dicerapnya dari para kolega Eropa-nya yang kemudian bersemuka dengan tradisi kelisanan (orality) yang begitu berakar dan hidup subur dalam sistem noetika Melayu.

“Sebagian besar masalah Abdullah dalam menanggapi masyarakat Melayu menyangkut kelisanan dan keberaksaraan” (hal xvii). Kelaziman dalam budaya Melayu yang dianggap bodoh oleh Abdullah sebenarnya sesuatu yang normal saja dan berterima luas dalam sistem noetika lisan Melayu.

Berpijak dari pemahaman terhadap sistem noetika Melayu itu, dengan semangat pendekatan sastra yang mendobrak kategorisasi “sastra Melayu klasik (lama)” versus “Sastra Melayu/Indonesia modern (baru)”, Sweeney lalu membahas berbagai aspek intrinsik Hikayat Abdullah dan menjelaskan segala sesuatu yang terkait dengan kepengarangan (authorship) teks ini (Bab II). Analisisnya yang mendalam dalam bab ini bertujuan memberi pemahaman kepada pembaca bahwa Hikayat Abdullah adalah ciptaan. Sebagai “Sang Pusat Panggung, Abdullah bukan hanya memaparkan kisah-kisah secara transparan, melainkan mempunyai agenda-agenda dan permainan-permainan sendiri!” (Jilid 1:13-4).

Dalam buku ini Sweeney berhasil menunjukkan bahwa kearifan konvensional tentang karya-karya Abdullah selama ini kurang tepat.

Walaupun mulut Abdullah disuap pisang dan buntutnya dikait onak oleh para penginjil Eropa yang dibantunya, meskipun ia sering dituduh sebagai “tali barut” (kaki tangan) Inggris dan keislamannya diragukan, ternyata tujuan utama Abdullah amat mulia: memperjuangkan serta mempertahankan bahasa Melayu.

Membaca buku ini—dan juga dua jilid terdahulu—membuat kita sering mengumbar senyum. Dalam analisis ilmiahnya, Sweeney menyelipkan humor yang tidak lepas konteks, misalnya, sekadar contoh: “Maaf ya, Abdullah meninggal di Mekah!” (hal 59; kursif oleh Suryadi); juga ketika menjelaskan nama keluarganya, Suibhne, dalam bahasa Gaelige, Sweeney menulis: “Dan ‘su’ itu sama dengan ‘su’ dalam Sukarno dan Sugriwa, karena bahasa Gaelige Irlandia memiliki hubungan erat dengan bahasa Sanskerta. Rasain!” (hal xxi; garis bawah oleh Suryadi).

Besar kemungkinan seri ini akan bertambah panjang. Ada petunjuk—maaf ya, saya tidak memakai kata indikasi—bahwa Sweeney belum akan meletakkan pena setelah Jilid 3 ini terbit sebab di halaman 603 ia menyebut-nyebut “sebuah jilid yang akan datang”. Saya sangat menunggunya, mungkin juga Anda.

Suryadi, Dosen dan Peneliti pada Opleiding Talen en Culturen van Indonesië Universiteit Leiden, Belanda