laju_major

Rekwim Untuk Negeri

Ranjang tidak lagi
bergoyang
sedang mimpi
masih berperang
sekujur tubuh
telanjang
menjejak
bayang-bayang hilang
sejuta wajah
melayang
menoreh bilur luka
panjang
sepanjang sungai airmata
yang telah kontang
kerna lama
menggenggam
arang
biarkan
alam
garang
datang
meradang


Tamadun

Gelap bercipratan
mengguyur seisi aspal legam
yang langitnya senak
oleh kebejatan para warga

adalah jagal kandas dalam sebuah
keterdesakan
Setelah tidur pun dininabobokkan
cerita-cerita dongeng
penglipur kotak-kotak masa depan

Esok;
sepotong kekaburan
dari mozek-mozek tamadun
yang menggelepar
dimamah tanah sakit

Merontokkan Waktu

Kuhabisi belam malam
seperti selalu:
menghirup irama nyawa
tembang tembakau,
kekasihku yang merdu
sambil merekam kisah
dinding-dinding batu
lalu runtuh.
di trotoar sedan-sedan
membisu, ujung Disember
kota yang tak acuh
laron-laron bersenggama
di pundaknya jelaga
lalu mati–
Aku tidak mungkin
bisa berlari!
cakaran mimpi
pesta setengah penuh
juga euforia bodoh
para pemburuh
Sedang ini tubuh
tak terbendung lagi
malu bersekutu dengan
nafas hodohku

Malam

Malam menghendap
sebelum kamar
menjelma alun-alun biadap
Ketika larut, kesenyapan
serupa mayat
cuaca pecah dalam gumam
melulu menjadi
kesundalan segala dendam
darahku menggelagak
merangkaki kebutaan sajak
— yang lebih pekat dari tuak?
Malam membentak.
mekar, lalu meretak.
Ada malaikat ceroboh
rumah-rumah tak berjudul
ketika anak-anak proletar
memeluk mimpi yang sugul
Tapi siapa yang bernyanyi sadis
dalam keramaian yang ajaib?
Langkahku kian tandus
dalam penyaksian sebuah ritus.
Ketika gerimis pelan-pelan
menembus,
sepi di bulevar mampus

Menempuh Amsal

Kamar ditatal serdak
terhapus rona memerah
lampu-lampu padam melusuh
tak juga beku sisa waktu
Kubenamkan pada rusuk bumi
matahari uzur tanpa melodi
segala kisah kesunyian anak lelaki
gadis-gadis kecewa setiap kota

Akankah datang hidup yang sekali
relung hujan yang kemarin tertunda
sebelum pagi menelan sunyi
sebelum deru merah behenti.
Hanya dendam malam
tak menahanku dari bicara
menempuh amsal selembar peta
sepanjang sepi tenggorokan basah

Penumpang Malam

Dari sekoci tren
yang menderu bagai peluru;
aku dihanyutkan
dalam sungai kenangan
yang pernah tumpah
di hutan tua,
bersama seribu unggas
tak mengenal tuan

— bukankah tak ada yang
lebih menyenangkan
hidup merdeka dari kenangan?

Di perempatan, sepi menyenggam
bagai singa lapar, di tanah tandus
bernama malam
kubur-kubur dijarahi haloba
orang orang menempah maut
di simpang yang tak ingin padam
pada sisa api
pertarungan yang menjenuhkan

— atau hidup tak lebih dari
catur raksasa
bernama Kalah-Menang?


Wahyudi Yunus, penyajak yang bergabung di dalam Geng Gudang Garam.

Sajak Wahyudi Yunus

Tinggalkan Balasan

Alamat e-mel anda tidak akan disiarkan. Medan diperlukan ditanda dengan *

Cancel Kirim Ulasan