gus-dur

DURRAHMAN

Mengenakan kemeja dan celana pendek putih,
Durrahman berdiri sendirian di beranda istana.
Dua ekor burung gereja hinggap di kedua bahunya,
bercericit dan menari riang.
Senja melangkah tegap, memberinya salam hormat,
kemudian berderap ke dalam matanya yang hangat dan terang.

Di depan mikrofon Durrahman mengucapkan pidato singkatnya:
“Hai umatku tercinta, dalam diriku ada seorang presiden
yang telah kuperintahkan untuk turun tahta
sebab tubuhku terlalu lapang baginya.
Hal-hal yang menyangkut pemberhentiannya
akan kuselesaikan sekarang juga.”

Dua ekor burung gereja menjerit nyaring di atas bahunya.
Durrahman berjalan mundur ke dalam istana.
Dikecupnya telapak tangannya, lalu dilambai-lambaikannya
ke arah ribuan orang yang mengelu-elukannya dari seberang.

Selamat jalan, Gus. Selamat jalan, Dur.
Dalam dirimu ada seorang pujangga yang tak pernah binasa.
Hatimu suaka bagi segala umat yang ingin membangun kembali
puing-puing cinta, ibukota bagi kaum yang teraniaya.
Ketika kakiku masih terbenam di persimpangan,
kakimu sudah melangkah jauh di masa depan.

(2010)

Joko Pinurbo

via jokopinurbo.com

LELUCON MENJELANG KEMATIAN

1/
Aku ingin mendengar leluconmu, sebelum mati. Engkau pun bercerita perihal kerbau.
Syahdan, seekor kerbau muncul di depan istana. Para penjaga heboh, dan langsung
melapor pada Presiden. “Apa yang harus kami lakukan?” tanya penjaga.
“Biarkan saja,” jawab Presiden. “Saya ingin tahu, apakah kalau saya biarkan, kerbau itu
berdampak sistemik atau tidak…”

2/
Maut, yang berdiri di sisi ranjang pun tertawa. Bahkan, menjelang mati pun kamu
masih lucu. Lalu perlahan disentuhnya ruhmu.
“Bukan kematian benar menusuk kalbu,” katamu, sembari mengutip bait puisi, “Tapi,
kalau boleh menawar, saya tak ingin mati hari ini. Sekarang 25 Desember, bukan?
Bulan yang ranum dan bahagia. Biarkan mereka merayakan kelahiran Yesus, jangan
sampai terganggu kematian saya…”
Maut terasa fana. Dalam mati pun, ada yang terasa lebih berharga.

3/
Seperti dalam puisi, gerimis pun mempercepat kelam. Langit penuh kesedihan.
“Sebelum mati, ijinkan saya berpesan,” katamu. “Jangan Kau biarkan orang-orang
saling dorong atau berdesakan saat pemakaman. Apalagi sampai ada yang mati
terinjak atau pingsan.”
Kenapa, kata-Ku.
“Karna nanti malah dikira orang antri rebutan sumbangan…”

4/
Ingin kutulis puisi, sesuatu yang kelak retak tetapi kuharap abadi, setelah kau mati.
Kata-kata yang tak pudar di keramik waktu.
“Biarkan saya mati dengan tenang, tak perlu repot memikirkan puisi. Ada baiknya
saya jujur: sebenarnya saya nggak terlalu suka puisi. Penyair itu lebih parah dari
sopir bajaj. Kalau bajaj mau belok, yang tahu hanya Tuhan dan sopir bajaj. Tapi kalau
penyair nulis puisi, bahkan Tuhan dan penyairnya sendiri tak tahu apa yang ditulisnya itu.”
Tapi aku ingin menulis puisi. Meski mungkin tak akan pernah menjadi abadi.
Lihatlah, di matamu yang perlahan terkatup, seperti ada perih puisi. Selalu ada yang
jauh lebih tak terduga dari puisi, melebihi mati.

5/
Seperti ada yang pelahan-lahan sampai. Seperti ada yang tugur di sisimu.
“Tuan Tuhan, bukan?”
Tunggu sebentar. Gus Dur lagi tidur

2010
Agus Noor

via Facebook



Abdurrahman Wahib Agus Noor Gus Dur Joko Pinurbo

Tinggalkan Balasan

Alamat e-mel anda tidak akan disiarkan. Medan diperlukan ditanda dengan *

Cancel Kirim Ulasan