Seno Gumira Adjidarma

(fragmen dari Nagabumi I)

Mereka berhadapan

tanpa gerak sehari semalam.

Siapa bergerak meski pelan,

akan mendapat kematian

Ia mendapatkan namanya karena selalu mengalahkan lawannya dalam sekejap mata dan hanya dalam satu gerakan. Namun siapa pun lawannya, satu jurus yang akan mematikan itu selalu hanya keluar setelah lawannya bergerak. Berapa pun lamanya, ia akan selalu menunggu lawannya bergerak, dan baru setelah itu, dalam waktu tersingkat di dunia dalam kecepatan takterukur, ia juga akan bergerak, dan gerakannya selalu merupakan jurus mematikan yang menyelesaikan riwayat lawan. Siapa pun lawannya, apa pun ilmunya, berapa pun jumlahnya, selalu dikalahkan dan dibunuhnya semua hanya dalam satu gebrakan saja.

“Pendekar Satu Jurus, ayo seranglah aku!”

Begitulah seorang lawannya pernah memancingnya, tetapi Pendekar Satu Jurus tidak bergerak, bahkan juga tidak berbicara sama sekali. Ia tidak bisu dan ia bukannya tiada pandai berkata-kata, tetapi ketika menghadapi pertarungan ia tidak akan bersuara. Setelah berhadapan dengan lawannya, ketika sebuah pertarungan tiba waktunya, ia akan memasang kuda-kuda dan menanti serangan.

Selalu hanya menanti, dan tiada lain selain menanti, meskipun itu bisa sampai sehari semalam lamanya.

Apabila lawannya membuka serangan untuk memancing gerakan, maka saat itu pula nyawanya melayang ke alam abadi.

Sejumlah pendekar tingkat tinggi, ketika mengetahui bahwa Pendekar Satu Jurus hanya akan menyerang, dan serangan itu akan mematikan, setelah dirinya diserang, mencoba tidak menyerang selama mungkin.

Namun bagaimana mungkin suatu pertarungan ilmu silat akan berlangsung tanpa serangan sama sekali? Lawan yang telah meminta Pendekar Satu Jurus menyerangnya itu juga tidak pernah membuka serangan. Demikian rupa mereka saling menunggu serangan, sehingga mereka berdua hanya berdiri saja dengan sikap sangat amat waspada.

Pada pagi berikutnya mereka masih berhadapan tanpa bergeser sama sekali. Apakah ini bukan suatu pertarungan? Tentu saja ini suatu pertarungan yang berat, suatu ujian kesabaran yang nyaris tidak tertahankan, karena dalam riwayat dari mulut ke mulut di dunia persilatan Yavabhumipala, tidak pernah disebutkan Pendekar Satu Jurus terkalahkan dalam pertarungan.

***

Pertarungan antara dua pendekar untuk saling menguji ilmu mempunyai kebiasaan berlangsung di malam bulan purnama, saat rembulan tampak begitu penuh, indah, dan sangat memesona di balik pucuk-pucuk cemara. Namun itu tidak berarti pertarungan ilmu silat satu lawan satu sampai mati itu akan selalu berlangsung pada malam bulan purnama. Ada yang lebih suka memilih pertarungan pada dini hari sebelum matahari terbit, ada yang begitu suka bertarung dalam keremangan senja ketika langit menjadi merah—tetapi pertarungan pada malam bulan purnama lebih sering menjadi pilihan.

Bukan karena menang atau mati pada malam bulan purnama dianggap jauh lebih terhormat dibanding dengan jika berlangsung pada saat-saat lain, melainkan karena pada saat bulan purnama yang cahaya keperakannya menyapu bumi, pertarungan silat yang terindah menjadi sangat menarik sebagai peristiwa tontonan. Tentu hanya jika mereka yang bersemangat datang dari berbagai penjuru Yavabhumipala untuk menyaksikannya dapat mengikuti gerakan para pendekar itu.

Seperti telah diketahui, gerakan para pendekar silat tingkat tinggi sangat sulit diikuti mata orang biasa, dan ini berarti bahwa pertarungan silat tingkat tinggi hanya dapat diikuti oleh mereka yang sedikit banyak memahami ilmu silat, yakni para pendekar itu juga. Dalam pertarungan ilmu silat tingkat tinggi, para pendekar tidak sekadar bergerak ketika bersilat, melainkan berkelebat, dan tidak sekadar berkelebat, melainkan berkelebat seperti bayangan. Sehingga kemampuan untuk mengamati pertarungan memang sangat ditentukan oleh kemampuan penontonnya. Makin berilmu penontonnya sebagai pendekar, makin banyak yang dapat dinikmatinya. Para penonton berilmu inilah, yang sedikit banyak akan membicarakan sebuah pertarungan yang bermutu tinggi dari api unggun ke api unggun dan dari kedai ke kedai, yang akan terdengar di telinga orang awam sebagai dongeng.

“Apakah para pendekar ini tidak pernah bekerja seperti orang biasa? Bagaimanakah caranya mereka menghidupi diri mereka sendiri? Mengapa begitu penting bagi mereka untuk menguji kemampuan diri dengan mengadu jiwa dalam pertarungan di malam bulan purnama?”

Orang awam akan segera terserap ke dalam kehidupan mereka sehari-hari, tetapi orang-orang yang mengembara di sungai telaga dunia persilatan tak akan pernah berhenti mengasah ilmu maupun pedang mereka, untuk sebuah pertarungan yang setiap saat bisa menjadi pertarungan terakhir dalam hidup mereka. Memang tidak setiap kekalahan sudah pasti berarti kematian, tetapi hidup dengan suatu catatan pernah terkalahkan, yang akan tersebar beritanya dari kedai ke kedai di rimba hijau dan sungai telaga dunia persilatan, pada umumnya diterima sebagai lebih buruk dari kematian.

***

Pada malam bulan purnama itu, belum ada satu gerakan pun dari kedua pendekar tersebut. Pendekar Lautan Tombak dan Pendekar Satu Jurus telah berdiri berhadapan sejak dini hari ketika matahari masih bersembunyi di balik bukit. Pendekar Satu Jurus tidak menyerang sebelum lawannya menyerang lebih dulu, sedangkan Pendekar Lautan Tombak tidak menyerang karena Pendekar Satu Jurus mendapatkan gelarnya dari kenyataan bahwa ia selalu berhasil membunuh lawannya tepat pada saat lawannya menyerang.

Pendekar Lautan Tombak dikenal karena kecepatannya memainkan tombak yang sangat luar biasa. Ia mendapatkan namanya karena ujung tombak yang dimainkannya dalam pertarungan akan segera menjadi selaksa serta menyerang lawannya dari segala arah dan jurusan. Dengan senjata apa pun lawan-lawannya akan kebingungan, mereka mengira menangkis dan terserang, ternyata itu hanya bayangan. Selaksa ujung tombak menyerang leher, tapi hanya satu yang merupakan ancaman. Ketika selaksa ujung tombak menyerang bersamaan, manakah kiranya yang harus ditangkis dan dipunahkan? Pertarungan ilmu silat tingkat tinggi tidak memberi kesempatan untuk berpikir panjang. Segala kejadian terandaikan pernah dilatih, dipelajari, dan dipahami. Pada saat pertarungan, hanya bayangan berkelebat dan sedikit saja kelengahan berakibat nyawa melayang.

Demikianlah Pendekar Lautan Tombak mengandalkan kecepatannya untuk menghadapi Pendekar Satu Jurus. Barangkali telah dipelajarinya, bahwa serangan balasan mendadak yang selama ini menjadi ciri ilmu Pendekar Satu Jurus mengandalkan keberhasilannya kepada kecepatannya yang takterukur. Pendekar Satu Jurus bukan hanya mengandalkan kecepatan sebetulnya, tetapi tentu juga tenaga dalam yang sangat berdaya, karena ia hanya bertangan kosong. Mereka yang bertangan kosong mengandalkan tenaga dalam untuk mendorong angin, dan membuat angin itu bisa menohok dan melumpuhkan, jauh lebih mematikan daripada senjata logam. Agaknya, Pendekar Lautan Tombak mengandaikan dirinya bisa bergerak lebih cepat dari Pendekar Satu Jurus, sehingga ia bisa melumpuhkannya lebih dahulu sebelum pendekar itu bisa membalas serangan.

Bukankah masuk akal jika kecepatan lebih tinggilah yang akan melumpuhkan Pendekar Satu Jurus sebelum ia sempat balas menyerang?

Mereka telah berdiri berhadapan, tidak saling menyerang, semenjak hari masih gelap, matahari muncul, perlahan-lahan, begitu perlahan, tetapi dengan penuh kepastian, mengubah yang remang-remang menjadi terang. Permukaan bumi berubah, bulan purnama menghilang, langit menjadi ungu, menguning, memutih, dan menjadi pagi yang riuh dengan suara kicau burung yang seperti berdebat tentang kebenaran.

Bisakah dibayangkan betapa kedua pendekar berdiri seperti patung, tetapi bukan mematung, melainkan saling mengawasi dengan tingkat kewaspadaan yang sangat tinggi?

***

Pendekar Lautan Tombak bertubuh tinggi dan langsing. Ia mengenakan sepatu yang barangkali dibeli atau dirampasnya dari orang-orang asing dari Negeri Atap Langit yang turun di pantai utara. Kumis dan jenggotnya mulai beruban dan rambutnya yang panjang dan mulai memutih tertutup oleh semacam serban dari kain yang tipis. Busananya terbuat dari kulit binatang yang seperti merekat di badan, dengan sabuk kulit saling bersilang dari bahu kanan ke pinggang kiri dan dari bahu kiri ke pinggang kanan, yang penuh dengan kantong peralatan bagi senjatanya. Selain kantong racun bagi ujung tombaknya, ia juga membawa berbagai mata tombak dalam kantong lainnya, karena ia bisa mengganti-ganti mata tombak sesuai keperluannya. Mulai dari mata tombak yang sekadar lurus tajam, mata tombak yang berombak dan bergerigi, maupun yang berkait sehingga bisa menggaet keluar seluruh isi perut lawan. Kini ia memegang tombak pendek dengan mata tombak yang lurus panjang. Matanya menatap tajam ke arah Pendekar Satu Jurus dengan penuh kewaspadaan.

Pendekar Satu Jurus berpakaian putih-putih seperti seorang pedanda Siva, tetapi ia bukanlah pendeta yang mengagungkan agama, ia seorang pelajar ilmu silat yang menekuni ilmunya sampai senja usia. Ia tidak mengenakan alas kaki. Seluruh rambutnya sudah putih, digelung ke atas dengan rangkaian manik-manik biji kenari. Busananya adalah jubah putih sehingga menimbulkan pertanyaan, dengan busana seperti itu bagaimanakah kiranya ia akan bertarung? Tubuhnya kecil, tetapi tegap dan kukuh, tak seorang pun akan berani memandangnya sebelah mata. Busana seperti itu dikenakannya tanpa perlu terganggu, karena bukankah selama ini ia hanya memerlukan satu jurus saja untuk menyelesaikan pertarungan? Seringkali, ia tidak perlu menunggu sampai jurus pertama lawan itu selesai digerakkan, karena sebelum jurus itu selesai, jurus serangan yang ia balaskan segera telah mengenai lawannya dengan tepat dan mematikan.

Seluruh kumis dan janggutnya sudah memutih, alis tebal di atas matanya juga putih. Matanya menatap tajam dengan penuh kewaspadaan ke arah Pendekar Lautan Tombak.

Mereka telah berhadapan sehari semalam. Semesta alam telah beredar dan kembali ke tempatnya semula, tetapi kedua manusia itu belum bergerak sama sekali. Pertarungan ini berlangsung dalam kediaman. Pertarungan daya tahan dan kewaspadaan karena saling menunggu kelengahan. Hanya diperlukan kelengahan sekejap mata untuk memenangkan pertarungan. Betapa besar daya tahan kejiwaan dibutuhkan untuk bertahan dalam kediaman yang penuh kewaspadaan. Seberapa lamakah kiranya mereka berdua akan terus-menerus bertahan dalam diam menunggu kelengahan? Sampai kapankah mereka akan bisa bertahan?

Seno Gumira Adjidarma, cerpenis terkenal Indonesia akan berada di Malaysia dari 13 hingga 15 November ini. Ikuti program-program beliau (sini) yang dianjurkan oleh Frinjan.

Cerpen Fragmen Indonesia Seno Gumira Adjidarma

Tinggalkan Balasan

Alamat e-mel anda tidak akan disiarkan. Medan diperlukan ditanda dengan *

Cancel Kirim Ulasan