Sajak Terpelanting Jauh

oleh
27 April, 2009 | kategori Buku | komen [3] | Cetak | kongsi  

Hafiz Hamzah

Tamsil Tubuh Terbelah

Amien Kamil

2007

Tamsil Tubuh Terbelah

Tamsil Tubuh Terbelah

Sajak mungkin muncul dalam bermacam-macam wajah yang menakutkan. Begitu ia, kadang-kadang – selalu sebenarnya - sajak tidak berhutang maksud kepada pembacanya. Apa yang ada untuk diraih ialah rasa. Rasa yang nanti akan disandarkan kepada hal-hal sendiri. Mungkin boleh dikongsi, mungkin juga perlu dipendam saja.

Tamsil Tubuh Terbelah ini sajaknya kasar, ditujukan kepada cerita-cerita kehidupan sekitar dan juga yang jauh di-sana. Dari diksinya kita melihat keteguhan rasa, kemarahan penulisnya serta humor-humor yang terbit dan selepas itu terus hilang. Jangan terlampau risau untuk menikmati sajak Amien Kamil.

Kumpulan sajak ini, jika dibaca secara datar, akan membuatkan kita terlepas daripada menyelami semangat yang sepatutnya ada. Bayangkan dulu penyairnya, dengan rambut dreadlock, dengan suara besar serta mulut lancang, bersajak dengan penuh ekspresi dalam dunia yang tidak dapat didekati. Hanya menyerap aura dari jauh. Dengan ini, keasyikkan menelusuri bait-bait kata yang disusun akan lahir dan memeluk kalbu.

Sajak yang ada di-dalam kumpulan ini turut digambarkan melalui lukisan-lukisan penulisnya. Tema-tema realisme, surrealisme sama-sama memberi pengaruh. Lalu, apa yang akan kita temukan dari sajak-sajak beliau?

“Generasi masa depan dicuci otaknya via layar televisi

yang mengadopsi dan nonstop mengajarkan hukum rimba

di program lewat chanel-chanel mimpi dan hiburan

atau berita dusta yang direkayasa”

- Berita Cuaca

Yang dicuplik ini adalah serpihan satu daripada puluhan sajak beliau. Ia telus dan berpijak untuk mengambil sikap untuk menempelak budaya media tv seperti yang dia percaya terjadi waktu ini. Bahasanya terus, tetapi tulus memotretkan pemerhatiannya sendiri, dan kita jadi mudah untuk bersetuju atau tidak. Di-sini juga, sajak beliau tidak berhutang apa-apa dengan pembaca, kerana makna adalah gambar yang jelas dan tidak memerlukan pertanyaan walau apa pun untuk difahami.

Seperti lazimnya penulis dan pengkarya Indonesia, Amien tidak segan-segan untuk memudahkan pemahaman terhadap sajaknya. Meminjam perkataan Inggeris secara terus – asalkan maksudnya sampai – banyak membentuk rupa kerja tulis beliau. Namun, jika dia orang Malaysia dan buku ini diterbitkan di-sini, pasti orang ini akan dihukum oleh penjaga bahasa tegar. Mungkin institusi seperti DBP juga akan mengaum.

Bagaimanapun, sajak-sajak Amien tidak memberi ruang kepada apa yang mahu orang lain fikirkan. Sajak tidak memerlukan nyawa sama seperti apa yang dihajati orang. Lihat serpihan dari sajak yang sama ini:

“(Rambu peraturan cuma hiasan,

Hukum hanyalah tameng kekuasaan)”

Banyak tema yang diperhalusi oleh Amien bersadur kepada kejadian nyata sekitarnya.

Sepertinya, penulis ini hidupnya dijalanan, berkelana ke serata dunia dan menghirup inspirasi besar ditanah kelahirannya. Ada tempat ia mengndung bunyi yang politikal, semangat demonstran dan kebengkengan. Atas sebab ini sajaknya lahir sebagai sesuatu yang kasar. Tidak keras, tetapi kasar. Di-dalam sajak Demokrasi Sakit Gigi, Amien berteriak:

“Reformasi repot nasi

Provokasi makin “grazy”

Silat lidah obral janji

politisi adu gengsi, juga sensasi

Demokrasi setengah hati

: Demokrasi sakit gigi!”

Amien Kamil mencoret sajak-sajak sebagai ganti kesaksian. Ingatan akan luput, cerita akan dilupakan tetapi tulisan – selagi ia masih di atas kertas dan terpampang jelas – akan terus diingati dan dibaca. Satu bait yang tenang mungkin boleh menjadi satu corong panduan dan ide kepada sajak-sajaknya daripada bermacam-macam corong lain – kepada mereka yang tidak pernah syahwat kepada sajak dan puisi. Dengarkan ini:

“Sebuah potret adalah…

Sebuah kesaksian akan masa silam

Ada cermin masa depan membayang

Ada daun gugur melayang

Potret, juga terbuka untuk berkaca

Mengenang siapa dan apa saja”

- Merakam Daun Gugur

Hafiz Hamzah bukan orang yang sama menulis di Mastika. Dia akan mencari celah-celah antara muzik dan sajak dan menjadikan mereka kembar satu darah.


Tags: , ,
 

 

3 komen-komen
Tinggalkan komen »

  1. Pernah tengok puisi ganja…?

    Ade branie nak expose genre nie..?

    Lu click*

    Harap sajak-sajak dalam nie tak la ‘safe’ sangat.. Moga ada sesuatu untuk dikongsi dengan generasi pramoedya alaf baru…
    Anyway, nice promo! Semoga akan ada lebih produk-produk yang lebih jalang untuk dikongsi!!

    -Penulisan Bawah Tanah-

  2. Sebelumnya saya berterima-kasih karena mempublikasikan kumpulan
    sajak saya “Tamsil Tubuh Terbelah”, perlu diketahui bahwa antologi ini
    terpilih sebagai 10 Buku Puisi Terbaik versi Khatulistiwa Literary Award
    2007. Membaca review diatas, kadang saya tersenyum atas interpetasi
    yang disuguhkan. Semoga satu hari kita ketemu dan dialog tentang puisi
    dan kebudayaan Indonesia.

    Salam Hangat.

  3. Terima kasih atas perhatian saudara Amien. Moga-moga.

Tinggalkan Komen